Dengan alasan keamanan nasional dan keamanan publik, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan penghentian penuh seluruh permohonan suaka serta penangguhan pemulangan (withholding of removal). Pemerintah juga menghentikan proses pemeriksaan imigrasi dan pemberian manfaat imigrasi bagi warga dari 19 negara, serta melakukan peninjauan ulang terhadap kasus-kasus yang sudah disetujui sejak tahun 2021.
Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS (USCIS) akan mewajibkan pemeriksaan latar belakang yang lebih ketat serta wawancara ulang bila diperlukan. Pemerintahan Trump menegaskan langkah ini dapat “diperpanjang tanpa batas jika perlu”. Presiden Trump mengatakan bahwa Amerika sedang berada pada momen penting dan harus membangun kembali sistem imigrasinya serta menghilangkan risiko keamanan.
EtIndonesia. Pada Selasa (2 Desember), pemerintah AS mengumumkan bahwa seluruh permohonan Formulir I-589—yang meliputi permohonan suaka dan penangguhan deportasi—akan dihentikan sementara, tanpa memandang kewarganegaraan pemohon.
Selain itu, AS juga menghentikan pemrosesan manfaat imigrasi bagi warga dari 19 negara, serta meninjau ulang seluruh manfaat imigrasi yang telah disetujui bagi mereka yang masuk ke AS setelah 20 Januari 2021.
USCIS akan mewajibkan para pemohon yang memenuhi syarat untuk menjalani proses pemeriksaan ulang secara menyeluruh, termasuk kemungkinan wawancara tambahan. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menilai potensi ancaman terhadap keamanan nasional maupun publik, serta menilai kembali kelayakan mereka untuk tinggal di AS.
Menurut memo resmi USCIS, negara-negara yang terdampak mencakup 1. Afghanistan 2. Myanmar 3. Chad 4. Republik Kongo 5. Guinea Ekuatorial 6. Eritrea 7. Haiti, 8. Iran 9. Libya 10. Somalia 11. Sudan 12. Yaman 13. Burundi 14. Kuba 15. Laos 16. Sierra Leone 17. Togo 18. Turkmenistan 19. Venezuela.
Pada Juni lalu, 19 negara tersebut sudah dimasukkan ke dalam daftar larangan bepergian, di mana 12 negara dilarang masuk sepenuhnya dan 7 negara dikenakan pembatasan masuk.
Kebijakan baru ini menghentikan semua permohonan imigrasi dari negara-negara dalam daftar larangan, termasuk upacara pengambilan sumpah naturalisasi.
“Semua kasus dari negara-negara tersebut akan dihentikan. Kasus yang sedang berlangsung juga akan ditangguhkan. Namun bagi klien Tionghoa yang berbahasa Mandarin, kebijakan ini tidak berdampak. Apakah ke depan daftar ini akan diperluas ke lebih banyak negara? Menurut saya, itu sangat mungkin, tergantung situasi politik,” ujar Pengacara imigrasi senior Chen Qigeng.
Karena meningkatnya kasus kriminal terkait imigran akhir-akhir ini, pemerintah AS menerapkan standar pemeriksaan yang lebih ketat. Memo tersebut bahkan menyinggung insiden penembakan di Washington pekan lalu, di mana dua anggota Garda Nasional ditembak oleh seorang imigran asal Afghanistan.
Pada akhir November, Presiden Trump menyatakan bahwa kebijakan penghentian permohonan suaka terutama menyasar “negara-negara dunia ketiga” dan dapat diperpanjang tanpa batas waktu. Ia menegaskan bahwa langkah ini diperlukan untuk memulihkan sistem imigrasi Amerika. Pada Selasa, Trump kembali menegaskan bahwa AS sedang berada di masa yang sangat penting.
“(Minnesota) adalah tempat yang begitu indah, tetapi saya melihat orang-orang itu menjarah sesuka hati. Sekarang saya mengerti, saya mendengarnya—mereka menjarah. Warga Somalia menjarah miliaran dolar setiap tahun dari negara bagian itu, miliaran dolar, sementara mereka tidak memberikan kontribusi apa pun. Pengeluaran bantuan sosial mencapai 88%.Kita harus membangun kembali negara kita. Amerika sedang berada pada momen penting,” ujar Presiden AS Donald Trump. (Hui)
Laporan oleh Guo Yuexi, NTDTV Amerika Serikat


