EtIndonesia. Pada 2 Desember 2025, sebuah surat pribadi dari Hugo “El Pollo” Carvajal—mantan kepala intelijen Venezuela selama dua dekade—resmi dikirimkan ke Gedung Putih melalui mantan jaksa Departemen Kehakiman AS, Michael Firtel. Carvajal bukan sosok sembarangan. Dia adalah jenderal bintang tiga, arsitek sistem intelijen Venezuela, dan orang kepercayaan Hugo Chávez hingga Nicolás Maduro.
Ketika Dallas Express mempublikasikan isi lengkap surat tersebut pada 3 Desember 2025, publik Amerika langsung diguncang. Para analis menyebutnya “kebocoran intelijen paling berbahaya sejak runtuhnya Uni Soviet”.
Surat itu tidak hanya menyingkap operasi kriminal transnasional rezim Maduro, tetapi juga memaparkan jaringan infiltrasi yang mencakup Rusia, Kuba, Iran, dan bahkan Tiongkok.
Isi Surat Carvajal: Pengakuan Dosa dan Peringatan untuk Amerika
Dalam surat sepanjang puluhan halaman itu, Carvajal menyampaikan pernyataan yang sangat mengejutkan: “Saya bersedia mengaku bersalah dan menjalani hukuman. Yang saya ungkapkan hari ini adalah kebenaran tentang rezim Venezuela—yang telah berubah menjadi kerajaan kriminal yang menggunakan narkotika, mata-mata, geng kriminal, dan manipulasi pemilu sebagai senjata perang terhadap Amerika.”
Carvajal tidak hanya memberi opini. Dia memberikan nama, tanggal, lokasi, metode operasi, hingga alur pendanaan.
1. Rezim Maduro Disebut Sebagai “Kartel Matahari”
Carvajal menuding bahwa negara Venezuela secara resmi telah menjadi Kartel Matahari (Cartel de los Soles)—organisasi kriminal yang dipimpin langsung oleh:
- Nicolás Maduro
- Diosdado Cabello, ketua Partai Sosialis Bersatu Venezuela
Menurut surat tersebut, jaringan ini tidak hanya terlibat dalam perdagangan narkoba, tetapi memanfaatkan struktur negara untuk menjalankan operasi kriminal berskala global.
2. 150–250 Ton Kokain Dikirim ke AS Setiap Tahun
Carvajal menggambarkan skema yang sistematis:
- Venezuela bekerja sama dengan kelompok FARC Kolombia.
- Narkotika diangkut melalui pesawat militer, kapal cepat, dan jalur darat menuju Amerika Tengah dan Meksiko.
- Volume pengiriman mencapai 150–250 ton per tahun, dan disebut sebagai “senjata strategis untuk merusak generasi Amerika.”
3. Penyusupan Geng Kriminal ke Wilayah AS
Carvajal menyebutkan bahwa Maduro memanfaatkan kebijakan perbatasan era Biden untuk menyusupkan:
- Geng Tren de Aragua
- Kelompok kriminal “Pearl Party”
- Agen intelijen Venezuela yang menyamar sebagai imigran
Mereka disebut telah tersebar di:
- New York
- Chicago
- Miami
- Houston
- Los Angeles
Menurutnya, jaringan ini ditugaskan untuk membangun sel tidur, mengoperasikan perdagangan narkoba, pemerasan, hingga perekrutan agen.
4. Infiltrasi Intelijen Kuba ke Struktur AS selama 20 Tahun
Bagian ini dianggap sebagai salah satu temuan paling mengkhawatirkan.
Carvajal menjelaskan bahwa sejak awal 2000-an:
- Direktorat Intelijen Kuba (DI) telah menyusup ke pangkalan angkatan laut AS, menyamar sebagai diplomat, aktivis organisasi masyarakat, bahkan sebagai oposisi palsu.
Dia mengklaim bahwa informasi sensitif tentang operasi angkatan laut AS telah mengalir ke Havana, lalu diteruskan ke Caracas dan Beijing.
5. Rusia Diberi Hak Mendirikan Stasiun Penyadapan di Pulau La Orchila
Pada 2015, Maduro dikatakan memberikan izin kepada Rusia untuk membangun:
- Stasiun penyadapan sinyal (SIGINT)
- Sistem radar dan fasilitas pengawasan satelit
Tujuan utamanya adalah memantau komunikasi militer AS, termasuk jaringan satelit di Karibia dan Teluk Meksiko.
6. Senjata, Paspor, dan Kerja Sama dengan FARC serta Jaringan Global
Dalam suratnya, Carvajal mengakui:
- Ia sendiri pernah bernegosiasi dengan komandan FARC untuk tukar-menukar narkotika, senjata, dan perlindungan rute penyelundupan.
- Rezim Venezuela juga memalsukan paspor dan memberikannya kepada anggota organisasi kriminal internasional dan elemen asing tertentu.
7. Pengungkapan Terselubung: Smartmatic sebagai Mesin Manipulasi Pemilu
Salah satu tuduhan paling kontroversial:
Carvajal menyatakan bahwa perusahaan Smartmatic—yang pertama kali digunakan di Venezuela tahun 2004—sejak awal dirancang untuk melakukan manipulasi hasil pemilu.
Dia menuduh:
- Sistem Smartmatic berisi backdoor yang memungkinkan pengubahan suara secara remote.
- Teknologi itu kemudian diekspor ke philipina, beberapa negara Amerika Latin, dan berbagai yurisdiksi di AS.
Meskipun klaim ini masih diperdebatkan, dampaknya langsung mengguncang sektor keamanan pemilu di Amerika.
8. Venezuela–Tiongkok–Kuba–Iran: Aliansi Bayangan
Carvajal menggambarkan poros kolaborasi rahasia selama dua dekade:
Tiongkok (PKT)
- Membantu penyadapan kabel bawah laut
- Melatih agen-agen siber Venezuela
- Menyediakan perangkat surveillance dan sistem kontrol pemilu
Kuba
- Mengendalikan operasi intelijen harian Venezuela
- Memegang akses langsung ke dokumen rahasia Maduro
Iran
- Melakukan operasi rahasia di Amerika Latin
- Memanfaatkan jaringan Venezuela untuk logistik dan pencucian uang
Menurut Carvajal, ketiga negara tersebut memiliki operasi aktif di dalam wilayah AS.
9. Carvajal Siap Menyerahkan Semua Dokumen dan Kesaksian
Dalam penutup suratnya, dia menyatakan:
- Dia bersedia menjadi saksi penuh di hadapan pengadilan AS
- Dia memiliki catatan rumah aman, daftar pejabat Amerika yang disuap, serta seluruh alur pendanaan
- Dia menyebut ini sebagai “kesempatan terakhir untuk mengungkap kejahatan yang telah merusak keamanan Amerika selama dua dekade.”
Kesimpulan: Krisis Intelijen Terbesar AS dalam 20 Tahun Terakhir
Dengan surat yang terungkap pada 3 Desember 2025, pemerintahan Trump kini menghadapi:
- Tuduhan infiltrasi asing berskala besar
- Bukti manipulasi pemilu yang berpotensi berdampak global
- Operasi narkotika transnasional yang melibatkan negara
- Jaringan agen ganda yang membentang dari Karibia hingga Washington
Washington disebut kini berada pada titik balik sejarah—mirip keguncangan intelijen era Cold War.
Kasus Carvajal diperkirakan akan membuka penyelidikan federal berskala besar yang melibatkan:
- Departemen Kehakiman
- FBI
- CIA
- Homeland Security
- Komisi Pemilu
Dan dapat mengubah kebijakan Amerika terhadap Venezuela, Kuba, Tiongkok, dan Iran.


