Kisah Inspiratif: Di Seberang Kutub Selatan

EtIndonesia. Itu sudah menjadi pekerjaan keenam yang hilang darinya dalam satu tahun. Pada musim dingin yang digigit angin utara, dia meringkuk di dalam kamar kecil yang begitu dingin hingga tetesan air pun membeku, sambil mencurahkan rasa frustasinya kepada seorang teman.

Dia memiliki sertifikat bahasa Inggris level enam, tetapi perusahaan pertama menilai kemampuan speaking-nya tidak memadai. Dia lulus komputer level dua sebagai programmer, namun perusahaan kedua menganggap kecepatan mengetiknya terlalu lambat. Di perusahaan ketiga, dia tidak cocok dengan manajer departemen, sehingga dia yang mengambil inisiatif untuk berhenti. Begitu terus berlanjut: perusahaan keempat… kelima…

Dengan tatapan suram dia berkata: “Kegagalan berulang ini membuatku membuang waktu setahun penuh.”

Temannya sejak tadi mendengarkan dengan sabar. Lalu dia berkata, “Aku ceritakan sebuah lelucon, ya. Ada seorang penjelajah yang berangkat menuju Kutub Utara, tapi akhirnya malah tiba di Kutub Selatan. Orang-orang bertanya, ‘Bagaimana bisa?’ Sang penjelajah menjawab: ‘Karena aku membawa kompas yang hanya menunjuk ke selatan. Jadi aku tidak pernah menemukan utara.’”

Dia spontan menjawab: “Mana mungkin begitu? Di seberang Kutub Selatan itu ya Kutub Utara. Tinggal berbalik arah, selesai.”

Temannya balik bertanya: “Kalau begitu… bukankah di seberang kegagalan itu ada keberhasilan?”

Pada detik itu juga, dia seperti tersiram pencerahan—seolah kabut terbelah dan dia melihat jelas nilai sejati dari kegagalan.

Ternyata yang disebut keberhasilan dan kegagalan itu berasal dari hamparan padang yang sama. Bisa menjadi rawa yang menenggelamkanmu, tetapi juga bisa menjadi mata air yang menyelamatkan dahagamu.

Siapa yang, sejak langkah pertama, mampu melihat dengan jernih dan langsung menemukan jalan yang membawa kita menuju cahaya? Kita harus melewati kegagalan, layaknya metode eliminasi dalam sebuah pelajaran: ketika semua kemungkinan yang salah, semua dugaan yang keliru, semua harapan yang ternyata meleset telah disingkirkan satu per satu — barulah yang tersisa adalah jawaban yang benar.

Kegagalan itulah kompas kita. Ketika kita berulang kali tersesat, terjatuh, dan terluka, dialah yang dengan jarumnya yang tak pernah berubah memberi tahu: “Itu arah yang keliru.” Lalu diam-diam mengingatkan kita: berbaliklah — di sisi seberang, keberhasilan sedang menunggumu.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine