EtIndonesia. Dalam hidup, hampir tak ada hal yang berjalan 100% sesuai rencana. Sesekali cobalah melihat kembali “peta” yang ada di tanganmu, periksa apakah kamu masih bergerak ke arah yang benar, lalu lakukan penyesuaian yang diperlukan.
Dalam kehidupan nyata, kamu punya sebuah mimpi — gambaran tentang seperti apa dirimu sepuluh tahun mendatang. Dengan semangat penuh, kamu mulai bergerak mewujudkannya.
Namun beberapa bulan kemudian, hidup justru memotong jalanmu. Masalah bertubi-tubi muncul, kesulitan menghambat kemajuanmu. Tidak lama, kamu tersadar bahwa hidup ternyata jauh berbeda dari mimpi yang kamu bayangkan.
Bayangkan hidupmu seperti sebuah pesawat yang terbang dari Sydney menuju Tokyo — perjalanan panjang di atas samudra. Meski begitu, setiap minggu ribuan orang naik ke pesawat dengan keyakinan bahwa mereka akan tiba di Tokyo.
Sekarang coba bayangkan: Bagaimana jika seseorang memberi tahumu bahwa 95% waktu selama penerbangan, pesawat itu sebenarnya menyimpang dari jalur?
Dengan kata lain, tanpa kendali, pesawat hampir selalu melenceng dari rute sejak awal dia lepas landas.
Lalu apa yang membuat pesawat itu tetap bisa sampai tujuan?
Jawabannya ada pada sang pilot.
Pilotlah yang bertanggung jawab menjaga arah. Dia memiliki rencana penerbangan — menuju Tokyo. Dia tahu betul bahwa angin dan arus udara akan terus mendorong pesawat keluar dari jalurnya, sehingga dia memantau arah terbang secara berkala, melakukan penyesuaian kecil demi kecil… hingga akhirnya pesawat mendarat dengan tepat di tujuan.
Hidup pun serupa dengan pesawat yang terbang di atas samudra luas. Kita selalu berada di antara arus dan angin yang bisa menggeser langkah kita kapan saja. Dan memang benar: tak ada yang berjalan 100% sesuai perkiraan.
Karena itulah, kita harus belajar menjadi “pilot” dalam perjalanan menuju keberhasilan — belajar mengoreksi arah, menyesuaikan langkah, dan memastikan diri terus bergerak menuju tujuan akhir yang kita impikan.(jhn/yn)


