Gaung Jeritan di Huta Godang : Jejak Gergaji Mesin di Balik Amuk Air Bah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan

EtIndonesia. Ketika azan Subuh baru saja selesai berkumandang, di Desa Huta Godang, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Nirwana (bukan nama sebenarnya) merasakan air sudah mulai masuk ke rumah. Awalnya, ia mengira itu hanya banjir biasa, setinggi mata kaki, sebelum kemudian surut. Ia bahkan sempat membersihkan rumah dan bersiap membuka warung.

Namun, ketenangan itu adalah tipuan.

Sekitar pukul 08.30, air naik lagi, kali ini lebih besar dari yang pertama. Yang tadinya setinggi mata kaki, kini sudah mencapai selutut di rumahnya. Kecepatan air itu menjadi pertanda buruk: cepat naik dan cepat pula surut.

Tak lama berselang, ia mendengar teriakan panik dari tetangga. Seorang anak berlari-lari sambil menangis, berteriak, “Kak, udah Kak, datang air besar Kak!”. Nirwana sempat mengira itu hanya candaan atau banjir biasa. Namun, ketika sang ibu, yang disuruhnya mengungsi, berkata “enggak, ini banjirnya beda,” Nirwana sadar ancaman yang datang bukanlah genangan air biasa.

Menjaga Dokumen di Tengah Hanyutan

Nirwana segera berlari ke kamar untuk mengambil tas. Dari jendela kamarnya, ia menatap horor: air sudah terlihat besar sekali. Ia menjerit dan langsung menutup jendela, sambil menangis dan menelepon pamannya meminta pertolongan.

Air yang datang kali ini sudah keruh dan “mencek-mencek”, sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Beruntung, ia sempat disuruh kembali oleh ibunya untuk menyelamatkan dokumen penting. Dokumen itu kemudian ia titipkan kepada tetangga yang memiliki rumah berlantai dua.

Tidak lama setelah ia naik ke lantai dua rumah tetangga—sekitar pukul 11.00 atau 11.30—bencana itu mencapai puncaknya. Arus sungai dari arah Rambin dan Garoga datang dari dua arah, menyeret apa pun yang dilewati.

Tim SAR di Huta Godang (Dok Basarnas)

Nirwana menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana rumah-rumah di dekat jembatan (Rambin) satu per satu hanyut, termasuk rumah papan. Bahkan rumah berlantai dua juga terdampak, dan rumah-rumah di sampingnya juga hanyut.

“Dapur saya itu kan papan juga… saya saksikanlah semua peralatan masakan itu udah hanyut kayak dangdang apa segala macamnya,” tuturnya dengan nada histeris.

Kengerian tidak berhenti di situ. Dari lantai dua, ia menjadi saksi orang-orang hanyut terbawa air. Ada yang meminta tolong, dan ada yang berhasil selamat karena mendarat di pelepah atau kayu seperti kelapa sawit. Bahkan, ia melihat orang-orang yang sudah tanpa busana terseret arus. Meskipun jaraknya jauh, ia melihat jelas siapa orang-orang itu, meskipun ia tidak mengenalnya.

“Saya saksikan kayu-kayu besar itu sempat menabrak rumah yang saya ungsi itu, akhirnya bergetar itu rumah,” kenangnya.

47 Orang Hilang dan Jejak Serakah

Air bah itu mulai surut di sore hari, sekitar pukul 17.00. Namun, saat air surut, kengerian lain terlihat jelas: kayu-kayu besar menumpuk di mana-mana.

Para saksi dan warga setempat menemukan bahwa bencana ini bukan semata-mata akibat tanah longsor alami. Di lokasi, terlihat jelas tumpukan kayu-kayu besar yang merupakan kayu hutan, bukan kayu dari lahan masyarakat. Kayu-kayu tersebut memiliki bekas potongan gergaji mesin.

“Ini adalah kayu hutan yang ditebang tangan-tangan jahil,” ujar seorang peliput di lokasi.

Penebangan ini, yang dicurigai dilakukan untuk pembukaan lahan sawit, diperkirakan telah membabat sekitar 200 hektar. Keberadaan kayu-kayu tebangan inilah yang menjadi “peluru” banjir bandang, menghantam rumah-rumah warga. Jembatan penghubung antara Desa Garoga dan Anggoli (perbatasan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah) kini dipenuhi tumpukan kayu-kayu hutan yang besar.

Tragedi ini meninggalkan luka yang mendalam. Hingga saat ini, diperkirakan sekitar 47 masyarakat masih belum ditemukan akibat hanyut ke sungai.

Logistik dan Perjuangan Melintasi Jembatan Darurat

Di tengah kehancuran, warga berjuang untuk bertahan. Upaya darurat dilakukan untuk membangun jembatan penyeberangan sistem bongkar pasang antara Desa Garoga dan Anggoli. Jembatan ini, yang dibuat dari kayu-kayu temuan, harus dibongkar setiap malam untuk mengantisipasi air sungai membesar.

Perjuangan untuk bertahan hidup terangkum dalam kisah warga yang kesulitan logistik. Seorang warga bercerita bahwa ia baru bisa makan pada jam 12.00 siang, dan makanan yang dimakan adalah apa pun yang dibawa oleh pihak penyalur bantuan, termasuk roti, karena tidak lagi bisa “jual mahal”. Mereka sangat bergantung pada bantuan yang masuk.

Keberadaan begitu banyak kayu tebangan dan korban jiwa yang mencapai puluhan orang memicu tuntutan. Pemerintah didesak untuk mengusut tuntas masalah banjir bandang di Garoga dan sekitarnya, yang diduga kuat merupakan ulah keserakahan manusia.

Banjir bandang di Tapanuli ini adalah surat kabar alam yang dikirim dalam bentuk arus deras. Setiap batang kayu besar yang menghantam rumah warga dan hanyut di sungai adalah bukti tertulis dari keserakahan manusia. Hutan, yang seharusnya menjadi spons penahan air, telah dicincang seperti kertas, mengubah hujan biasa menjadi palu godam yang mematikan. Sungai kini bukan lagi pembawa kehidupan, melainkan saksi bisu tumpukan kayu hasil kejahatan yang menenggelamkan 47 harapan.

Hingga Senin, 9 Desember 2025, Sumatera Utara mencatatkan 338 korban meninggal dunia, 138 hilang dan 42.503 pengungsi. Tapanuli Tengah mencatatkan korban meninggal dunia mencapai 110 jiwa dan 94 hilang, Tapanuli Selatan 85 korban meninggal dunia dan 30 orang hilang serta Kota Sibolga dengan 53 jiwa meninggal dunia dan 2 orang hilang. (Yud)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine