David Copperfield: Mengganti Cara, Mendekatkan Diri pada Keberhasilan

EtIndonesia. Dia lahir di sebuah keluarga imigran miskin di New Jersey, Amerika Serikat. Sejak kecil dia adalah anak yang pemalu dan tertutup. Anak-anak seusianya enggan bermain dengannya, karena dia tampak tak bisa melakukan apa pun dengan baik.

Setiap ujian, nilainya selalu berada di posisi terbawah. Guru-gurunya jarang mau menunjuknya untuk menjawab pertanyaan, sebab dia hampir selalu menunduk dan dengan malu berkata tidak tahu. Semua orang menganggapnya bodoh, bahkan idiot. Teman-temannya mengejek bahwa dia ditakdirkan hidup bersama kegagalan; tetangga-tetangga yakin bahwa kelak dia tidak akan jadi apa-apa. Orangtuanya yang mendengar komentar-komentar itu hanya bisa diam-diam cemas.

Dia telah berusaha keras, tetapi hasilnya sedikit sekali. Perkembangan akademiknya hampir nol, meski dia belajar hingga larut malam. Setiap pagi dia takut berangkat sekolah, takut diejek lagi. Saat akhir pekan, dia hanya duduk di depan rumah memandangi anak-anak lain bermain riang di halaman rumput, sementara masa depannya terasa redup dan tak pasti.

Waktu terus berlalu, dan pihak sekolah bahkan mulai mempertimbangkan untuk menyarankannya berhenti.

Hingga suatu hari, dia melihat seorang kakek menangis tersedu-sedu karena uang satu dolar yang telah digigit tikus. Untuk menghiburnya, anak itu diam-diam pulang, menukarkan koin tabungannya menjadi selembar uang satu dolar, lalu menyerahkannya kepada sang kakek sambil berkata bahwa dia telah “mengubah uang itu kembali” dengan sihir. Kakek itu begitu terharu dan memuji betapa baik dan cerdasnya anak tersebut.

Ayahnya yang mendengar cerita itu merasa: anaknya ternyata tidak sebodoh yang dikatakan orang. Dan hari berikutnya menjadi hari yang tak akan pernah dilupakannya.

Ayahnya mengajaknya pergi ke Boston. Mereka naik bus, dan dia berpikir perjalanan akan berjalan seperti biasa. Namun saat bus berhenti di sebuah stasiun kecil, ayahnya turun sebentar untuk membeli sesuatu, tetapi lupa waktu—bus pun melaju meninggalkannya meski dia berteriak memanggil.

Anak itu panik. Bagaimana ayahnya bisa sampai Boston tanpa bus? Apa yang harus dia lakukan? Saat bus tiba di Boston, dia turun dan mendapati ayahnya sudah berdiri menunggunya dari kejauhan.

Dia langsung berlari dan memeluknya sambil menceritakan kecemasannya sepanjang perjalanan, dan bertanya-tanya bagaimana ayahnya bisa tiba lebih dulu.

Ayahnya berkata dengan tenang: “Aku datang dengan menunggang kuda.”

Dia terpana. Ayahnya melanjutkan: “Selama kita bisa mencapai tujuan, apa pedulinya dengan cara apa kita sampai di sana? Sama seperti kamu: kalau kamu tidak berhasil dalam belajar, bukan berarti kamu tak bisa sukses dalam hal lain. Gantilah caranya.

Ucapan itulah yang membangunkannya.

Tak lama kemudian, dia melihat banyak orang terluka karena mimpi mereka sulit diraih. Dia berpikir, jika dia bisa “menggunakan sihir” membantu mereka, meskipun itu hanya ilusi, setidaknya bisa mengurangi beban batin mereka.

Dari sana, tumbuhlah minat besarnya pada dunia sulap. Dia mulai belajar pada para pesulap profesional.

Dia berjuang melawan rasa takutnya, dan perlahan-lahan mengejar mimpinya. Kedua orangtuanya sangat mendukung usahanya. Para guru sulapnya menemukan bahwa dia memiliki bakat luar biasa—belajar cepat, memahami teknik dengan mudah, dan selalu bisa menciptakan inovasi baru. Dalam dua tahun saja, dia sudah berganti empat guru, karena ilmu mereka cepat dia kuasai habis.

Anak pemalu yang dulu dianggap bodoh itu akhirnya tumbuh menjadi pesulap ternama dunia:
David Copperfield — salah satu ikon kesuksesan paling fenomenal di abad ini.

Ketika ditanya bagaimana dia bisa sukses, Copperfield berkata: “Ayahku mengatakan bahwa keberhasilan itu seperti sebuah stasiun tetap. Kita semua berpikir hanya ada satu cara untuk mencapainya, dan berebut tempat di bus. Yang tidak mendapat tempat harus menunggu bus berikutnya. Tapi mengapa kita tidak mencoba naik kuda, atau menaiki kapal? Bukankah kita tetap akan tiba? Kita hanya mengganti caranya.”

Lalu dia menambahkan bahwa kemudian dia sadar semua itu sudah direncanakan sang ayah. Stasiun kecil tempat ayahnya turun ternyata sangat dekat dengan Boston — menunggang kuda bahkan lebih cepat daripada naik bus.

Pesannya sederhana, tetapi tak banyak orang benar-benar memahaminya, apalagi mempraktikkannya.

Sahabatku, ketika anakmu sudah berusaha keras tetapi tetap tidak berhasil, mungkin yang ia butuhkan bukan lebih banyak tekanan — tetapi cara lain. Bila kamu memberinya kesempatan untuk mencoba jalur baru, bisa jadi ia justru semakin dekat dengan kesuksesan.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine