EtIndonesia. Data terbaru Gedung Putih menunjukkan bahwa sejak dimulainya masa jabatan kedua pemerintahan Trump, pemerintah AS telah berhasil menemukan kembali sekitar 62.000 anak imigran ilegal yang sebelumnya dinyatakan “hilang”. Pada saat yang sama, pemerintah juga tengah melakukan penyelidikan intensif terhadap kasus penipuan kesejahteraan anak senilai 1 miliar dolar AS yang terungkap di negara bagian Minnesota, dengan fokus menelusuri aliran dana terkait.
“Presiden Trump telah menyelamatkan lebih dari 62.000 anak. Sebagian dari anak-anak ini sebelumnya diperdagangkan untuk industri seks. Ada yang dipaksa bekerja. Ada pula yang mengalami kekerasan. Beberapa bentuk penganiayaan yang kami temukan bahkan sulit untuk saya gambarkan,” ujar Kepala Urusan Perbatasan Gedung Putih, Tom Homan.
Homan menyatakan bahwa pada masa pemerintahan Biden, lebih dari 500.000 anak diselundupkan masuk ke Amerika Serikat, dan sekitar 300.000 anak di antaranya tidak diketahui keberadaannya. Pemerintahan Trump terus berupaya secara aktif untuk menemukan anak-anak tersebut.
Tom Homan menambahkan: “Lebih dari 500.000 anak diselundupkan ke Amerika Serikat, lalu Joe Biden menyerahkan mereka kepada sponsor yang tidak disaring secara memadai, sehingga mengakibatkan 300.000 anak tidak diketahui keberadaannya. Pada hari pertama menjabat, Presiden Trump berjanji bahwa kami akan melakukan segala upaya untuk menemukan setiap anak. Selama empat tahun, situasi ini terus terjadi: perdagangan seks mencapai rekor tertinggi, jumlah anak yang menyeberangi perbatasan mencapai rekor tertinggi, dan jumlah kematian migran saat melintasi perbatasan juga mencapai rekor tertinggi.”
Homan menegaskan bahwa mencari anak-anak yang hilang tetap menjadi prioritas utama pemerintahan saat ini.
Sementara itu, negara bagian Minnesota telah menjadi salah satu titik fokus utama penegakan hukum imigrasi. Dalam wawancara khusus dengan CNN, Homan secara terang-terangan mengatakan bahwa Minneapolis menampung sejumlah besar imigran ilegal. Bahlan, tim penegak hukum saat ini sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Pemicu dari penegakan hukum besar-besaran ini adalah kasus penipuan bantuan sosial senilai hingga 1 miliar dolar AS. Jaksa federal menuduh bahwa jaringan kriminal di dalam komunitas imigran Somalia telah mendirikan lembaga layanan palsu untuk menggelapkan dana Program Nutrisi Anak Federal dalam jumlah besar.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada 7 Desember mengatakan kepada CBS News bahwa para penyelidik telah mengidentifikasi sejumlah jalur aliran dana ke luar negeri yang terkait dengan kasus ini dan sedang melakukan penelusuran secara intensif.
“Jika Anda datang ke Amerika Serikat, Anda harus belajar mengemudi di sisi jalan yang benar, harus berhenti di rambu berhenti, dan yang lebih penting, harus belajar untuk tidak menipu rakyat Amerika,” ujarnya.
Bessent menyatakan bahwa para penyelidik telah melacak dana yang berada atas nama para tersangka, dan uang tersebut dikirim ke luar negeri melalui sistem transfer uang bawah tanah.
Ketika ditanya oleh wartawan apakah dana tersebut pada akhirnya mungkin digunakan untuk mendanai organisasi teroris di luar negeri, Bessent menjawab bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan. Pemerintah akan menelusuri setiap aliran dana hingga ke tujuan akhirnya, dan tidak akan membiarkan satu sen pun lolos. (Hui)
Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Zhao Jialin


