EtIndonesia. Sebuah majalah mode pernah memuat berbagai tips langsing dari aktris-aktris terkenal. Di antaranya ada Demi Moore, aktris asal Amerika. Dalam paparannya, dia menyebutkan bahwa menu sarapannya hanyalah semangkuk bubur oat dan setengah buah pisang.
Aku membaca sampai di situ lalu tertegun.
Pertanyaannya: di mana setengah pisang yang lain?
Coba bayangkan beberapa kemungkinan: Mungkin pelayan (jika dia memilikinya) menyajikan setengah pisang di piring sang aktris, dan setengah lainnya dinikmati oleh pelayan itu sendiri. Ada juga kemungkinan cara “mewah” versi selebritas: bagian kepala dan ekor pisang dibuang, hanya tengahnya yang dianggap paling sempurna yang dimakan, sisanya masuk ke tong sampah. Kemungkinan ketiga: sisa setengahnya disimpan di kulkas untuk esok hari — tapi dipikir lagi, kecil kemungkinan seorang bintang internasional akan peduli pada setengah pisang yang tersisa.
Di sebuah jamuan makan, seorang teman pengusaha menceritakan kisah lain tentang setengah buah pisang — tetapi maknanya jauh lebih dalam.
Puluhan tahun lalu, ketika dia masih berusia belasan dan hidup di desa miskin, dia bahkan belum tahu seperti apa bentuk pisang. Suatu hari, ibunya mengajaknya menghadiri pernikahan kerabat jauh di sebuah kota kecil.
Di meja pesta, untuk pertama kalinya dalam hidup, dia melihat pisang: kuning keemasan, bentuknya seperti bulan sabit, dan aromanya sangat menggoda. Ibunya mengupaskan satu dan memberikannya kepadanya. Dia melahapnya seperti Bajie memakan buah ginseng — cepat, lahap, penuh kenikmatan.
Ibunya juga mengambil satu pisang. DIa mengupasnya, menggigit sedikit, lalu — di tengah tatapan para kerabat — berjalan ke ruangan dalam untuk minum air. Selama acara berlangsung, dia tenggelam dalam kenikmatan pisang pertamanya, hingga semua hidangan lain tak lagi penting.
Dalam perjalanan pulang, ibunya tiba-tiba merogoh saku dan mengeluarkan sapu tangan. Dia membuka lipatannya perlahan, dan di dalamnya ada pisang yang hanya digigit sedikit itu. Dengan senyum lembut, dia menyerahkannya kepada sang anak.
Meski masih kecil, dia mengerti betul makna setengah pisang itu. Di hadapan banyak kerabat, ibunya tidak ingin kehilangan wibawa — dia pura-pura hanya makan sedikit. Tetapi demi anaknya, dia menyimpan setengah pisang itu dengan hati-hati agar tidak terlihat, hanya untuk diberikan kepadanya di perjalanan pulang.
Di dalam setengah pisang itu terdapat banyak hal: harga diri seorang ibu dalam kemiskinan, martabat yang dia jaga, dan cinta yang begitu dalam untuk anaknya.
Temanku itu berkata, perlahan-lahan, dengan nada yang penuh makna: “Saat makan setengah pisang itu, rasanya tak seenak pisang yang pertama. Tapi perasaan yang masuk ke hatiku saat itu — aku tidak pernah melupakannya. Setengah pisang itu, seumur hidup membuatku tidak berani menyia-nyiakan diri sendiri.”
Sama-sama setengah buah pisang. Bagi seorang aktris dunia, itu hanyalah cara menjaga tubuh. Tetapi bagi temanku, setengah pisang itu mengubah hidupnya. (jhn/yn)


