EtIndonesia. Terkait perang Rusia–Ukraina, Rusia pada Selasa (9/12/2025) mengklaim bahwa pasukan Rusia terus maju di berbagai arah di garis depan Ukraina, sementara Ukraina mengerahkan ratusan drone untuk melancarkan serangan lintas batas ke wilayah Rusia.
Dalam proses perdamaian Rusia–Ukraina, karena menolak berkompromi dalam isu wilayah, Ukraina bersama sekutu-sekutunya di Eropa mengajukan rencana perdamaian versi terbaru yang berisi 20 poin, dan bersiap menyerahkannya kepada Amerika Serikat.
Perang Rusia–Ukraina Terus Berkobar, Rusia Klaim Maju di Sepanjang Garis Depan
Panglima militer tertinggi Rusia, Valery Gerasimov, pada Selasa mengklaim bahwa pasukan Rusia sedang bergerak maju di sepanjang seluruh garis depan Ukraina, dengan kota Myrnohrad di wilayah Donetsk sebagai fokus utama serangan.
Myrnohrad berjarak sekitar tiga kilometer dari titik strategis Krasnoarmiisk (Pokrovsk) dan sebelum perang memiliki populasi sekitar 46.000 orang. Presiden Vladimir Putin memerintahkan pasukan Rusia untuk mengalahkan unit militer Ukraina yang terkepung di wilayah tersebut. Pihak Ukraina menyatakan bahwa pasukannya sedang mempertahankan garis pertahanan dan berupaya memaksa Rusia membayar harga mahal atas kemajuan mereka yang relatif terbatas.
Seorang warga wilayah konflik Donetsk, Vladimir, mengatakan: “Sangat mengerikan, benar-benar seperti neraka di bumi. Segala sesuatu di sekitar kami terkena dampaknya, semuanya terbakar habis.”
Sementara itu, ledakan keras juga terjadi di wilayah Rusia. Sebuah drone Ukraina menyerang pabrik militer di Republik Chuvashia. Kementerian Pertahanan Rusia pada Selasa mengklaim bahwa sistem pertahanan udaranya semalam mencegat 121 drone Ukraina di berbagai wilayah Rusia dan di atas Krimea.
Menolak Penyerahan Wilayah, Ukraina–Eropa Susun Rencana Perdamaian 20 Poin Terbaru
Di tengah berlanjutnya pertempuran, upaya diplomatik untuk mencari perdamaian tetap berjalan. Setelah mengakhiri perundingan di London, pada Senin malam Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tiba di Brussel untuk bertemu dengan para pemimpin Uni Eropa dan NATO, dengan harapan memperoleh dukungan lebih besar dalam hal jaminan keamanan, bantuan senjata, serta pemanfaatan aset Rusia yang dibekukan.
Ketua Dewan Eropa, António Costa, mengatakan: “Kita sudah sangat dekat untuk mencapai solusi (terkait penggunaan aset Rusia yang dibekukan). Secara pribadi saya yakin, pada 18 Desember kita akan mengambil keputusan.”
Ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menegaskan bahwa kedaulatan Ukraina harus dihormati. Sebagai garis pertahanan pertama Uni Eropa, keamanan Ukraina harus dijamin dalam jangka panjang.
Pada Selasa, Zelenskyy melanjutkan kunjungan ke Roma untuk bertemu Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Pada hari yang sama, ia mengumumkan bahwa Ukraina siap menyerahkan versi revisi rencana perdamaian 20 poin kepada Amerika Serikat.
Rencana ini merupakan hasil terbaru dari upaya bersama Ukraina dengan sekutu Eropanya, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, dengan tujuan mencegah Kyiv dipaksa membuat konsesi besar dalam isu wilayah dan jaminan keamanan.
Zelenskyy kembali menegaskan sikap konsistennya bahwa Ukraina tidak dapat melepaskan satu jengkal pun wilayahnya. Menurutnya, baik dari sisi hukum maupun moral, penyerahan wilayah tidak dapat dibenarkan.
Ia mengakui bahwa Amerika Serikat saat ini mengupayakan tercapainya suatu kompromi, namun dalam persoalan wilayah yang sangat kompleks, belum ditemukan titik temu kompromi tersebut.
Terkait apakah Eropa mampu membantu mengakhiri perang Rusia–Ukraina, Donald Trump dalam wawancara khusus dengan majalah Politico mengkritik bahwa Eropa hanya banyak berbicara tanpa tindakan nyata, sehingga perang terus berlanjut tanpa akhir.
Pesawat Militer Tiongkok–Rusia Masuk ADIZ Korea Selatan, Zelensky Kritik Dukungan Beijing kepada Moskow
Pada hari Selasa yang sama, sembilan pesawat militer Tiongkok dan Rusia secara bersamaan memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Korea Selatan, sehingga Seoul segera mengerahkan pesawat tempur untuk merespons.
Zelensky sebelumnya telah dengan tegas menyatakan bahwa Rusia sangat bergantung pada Beijing dan berupaya memperpanjang perang, sementara pihak Tiongkok tidak pernah mengambil langkah nyata untuk mendorong perdamaian.
Zelensky mengutip intelijen Ukraina yang menyebutkan bahwa Beijing masih memasok mesin perkakas dan berbagai material kepada Moskow. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


