Dewa Maut Pun Takut pada Orang yang Pantang Menyerah

EtIndonesia. Dua orang penjelajah tersesat di tengah padang gurun Gobi yang luas dan sunyi. Karena terlalu lama tanpa air, bibir mereka pecah-pecah hingga mengeluarkan darah. Jika keadaan itu terus berlanjut, mereka pasti akan mati kehausan!

Salah satu penjelajah yang lebih tua mengambil botol air kosong dari tangan temannya. Dengan suara tegas namun penuh ketenangan, dia berkata, “Aku akan mencari air. Kamu tetap di sini menunggu.”

Kemudian dia mengambil sebuah pistol dari ranselnya, menyerahkannya kepada temannya sambil berkata:  “Di sini ada enam peluru. Setiap satu jam sekali, tembakkan satu peluru ke udara. Jika aku menemukan air, aku bisa mengikuti arah suara tembakanmu dan menemukanmu kembali. Ingat baik-baik!”

Melihat temannya mengangguk, dia pun melangkah pergi dengan sisa kekuatan yang ada.

Detik demi detik berlalu…

Waktu berjalan perlahan, dan kini hanya tersisa satu peluru terakhir di dalam pistol. Namun sang pencari air masih belum kembali.

Si penjelajah yang lebih muda mulai gelisah. Dia berpikir: “Dia pasti sudah tertimbun badai pasir… atau mungkin sudah menemukan air lalu meninggalkanku sendirian…”

Kelaparan, kehausan, dan rasa takut berubah menjadi keputusasaan yang menyesakkan. Dia merasa aroma kematian semakin dekat, seolah Dewa Maut sedang menatap wajahnya dari balik pasir.

Dalam ketakutan yang memuncak, dia mengangkat pistol itu… dan menembakkan peluru terakhir ke kepalanya.

Ironisnya…

Ketika tubuhnya jatuh tergeletak di pasir, temannya tiba—membawa dua botol besar penuh air.

Penjelajah muda itu sungguh malang. Dia bukan mati karena kehausan, bukan juga karena ditinggalkan… Dia mati karena menyerah tepat sebelum penyelamat tiba.

Begitu sering dalam hidup, kita sudah bertahan melalui masa-masa tersulit: masa gelap, masa hampa, masa di mana harapan hampir tidak terlihat.  Namun saat keberhasilan tinggal selangkah lagi, banyak orang justru memilih menyerah—dan kehilangan segalanya.

Pesan Hidup

Pada saat-saat tersulit dan paling menyesakkan, jangan pernah menyerah. Bertahanlah sedikit lagi. Sering kali, kemenangan datang setelah titik paling gelap dalam perjalanan kita.

Orang yang menggertakkan giginya dan terus melangkah— bahkan Dewa Maut pun menjauh, karena suara tekad itulah yang paling ditakutinya.

Renungan

  • Menghargai hidup bukan berarti hidup sekadarnya.
  • Menghabiskan hari tanpa tujuan, tanpa usaha, tak ada bedanya dengan bunuh diri perlahan.
  • Menghargai hidup berarti menghargai waktu, bekerja, berjuang, dan menanam agar kelak kita bisa menikmati buahnya.

Ketika saat panen tiba dan keberhasilan tergenggam, di situlah kebahagiaan sejati lahir.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine