Kecanduan Milk Tea Berujung ke Rumah Sakit, Gadis 20 Tahun Terserang Penyakit Langka Hemiskonia Nonketotik Diabetik

Seorang gadis berusia 20 tahun di Shenzhen, yang hanya makan satu kali sehari dan kecanduan minum milk tea, tiba-tiba mengalami gejala tubuh bergerak tidak terkendali seperti menari. Ia kemudian didiagnosis menderita penyakit langka yang disebut chorea hemibalismus non-ketotik akibat diabetes.

EtIndonesia.  Menurut laporan Guangdong Radio and Television, Xiao Wen (nama samaran), seorang pekerja di Shenzhen yang baru berusia 20 tahun, belakangan mengalami gejala “gerakan tak terkendali seperti menari”, terutama makin parah pada malam hari. Berat badannya pun turun drastis.

Hasil pemeriksaan rumah sakit menunjukkan ia menderita chorea hemibalismus non-ketotik akibat diabetes, dengan kadar HbA1c mencapai 17,7% (normal <5,7%) dan kadar gula darah puasa 11,7 mmol/L (normal 3,9–6,1 mmol/L).

Menurut dokter, penyakit ini biasanya terjadi pada pasien diabetes lanjut usia. Kasus pada orang muda sangat jarang terjadi di seluruh dunia. Yang lebih mengejutkan, Xiao Wen tidak memiliki riwayat keluarga penderita diabetes.

Setelah evaluasi, dokter menyimpulkan bahwa kondisi Xiao Wen sangat berkaitan dengan kebiasaan hidupnya yang tidak sehat.

Menurut penuturan Xiao Wen, ia sering hanya makan satu kali — makan siang — setiap hari, dan kecanduan milk tea, minum setidaknya tiga gelas atau lebih per minggu. Ia juga sering begadang dan biasanya baru tidur pada pukul 03.00 pagi.

Dokter menjelaskan bahwa kebiasaan hidup yang buruk dalam jangka panjang menyebabkan gangguan metabolisme tubuh. Kandungan gula yang sangat tinggi dalam milk tea menjadi “pelaku utama” yang akhirnya membuatnya terserang penyakit aneh yang disebut “penyakit menari”. Hingga 9 Desember, Xiao Wen masih dirawat di rumah sakit dan kondisinya sudah membaik.

Dokter mengingatkan bahwa anak muda tidak boleh mengandalkan milk tea untuk menambah energi. Kebiasaan begadang dan duduk terlalu lama dapat membuat tubuh “menyalakan lampu merah” lebih cepat. (Hui)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine