EtIndonesia. Ada tujuh orang yang tinggal bersama. Setiap hari mereka harus membagi satu ember bubur besar, tetapi masalahnya: bubur itu tidak pernah cukup untuk semua orang.
Pada awalnya, mereka memutuskan untuk mengundi siapa yang bertugas membagi bubur. Setiap hari bergantian satu orang. Namun hasilnya mengecewakan: dalam seminggu, hanya ada satu hari di mana mereka benar-benar bisa makan kenyang—yaitu hari ketika mereka sendiri yang membagi bubur.
Mereka kemudian mencoba cara baru: memilih satu orang yang dianggap paling bermoral untuk membagi bubur setiap hari. Tapi masalah lain muncul. Beberapa orang mulai mencari cara untuk menyenangkan dan menyuap si pembagi bubur. Akibatnya, suasana kelompok menjadi kacau dan penuh kecurigaan.
Selanjutnya mereka membuat sistem yang lebih rumit: membentuk tiga komite pembagi bubur serta empat komite penilai. Namun hasilnya tetap buruk—mereka malah saling bertengkar dan saling menjatuhkan. Ketika bubur akhirnya sampai ke mulut, bubur itu sudah dingin.
Akhirnya, mereka menemukan cara yang benar-benar efektif:
Pembagian bubur tetap dilakukan secara bergiliran, tetapi orang yang bertugas membagi bubur harus mengambil mangkokannya paling akhir—setelah semua orang selesai memilih.
Karena tidak ingin si pembagi bubur mendapat bagian paling sedikit, semua orang pun berusaha membagi bubur dengan adil dan merata. Sejak itu, mereka hidup lebih rukun, lebih senang, dan hari-hari mereka menjadi semakin baik.
Pesan moral:
Dalam dialektika materialisme, perubahan kuantitas adalah prasyarat bagi perubahan kualitas. Ketika suatu sistem mengubah struktur dan urutan komponennya, meskipun jumlah totalnya tidak berubah, sifat keseluruhan bisa berubah secara drastis.
Aturan “pembagi bubur mengambil bagian terakhir” adalah perubahan struktur—dia merupakan perubahan kecil (perubahan kuantitatif). Hasilnya—yaitu kehidupan yang lebih harmonis dan penuh kebahagiaan—adalah perubahan besar (perubahan kualitatif) yang muncul sebagai konsekuensinya.
Kisah ini mengajarkan bahwa sistem yang adil tidak selalu butuh aturan rumit, tetapi membutuhkan struktur yang tepat, yang mampu memotivasi setiap orang untuk bertindak adil.(jhn/yn)


