Hidup Itu Seperti Batu Giok

EtIndonesia. Dahulu, seorang guru bijak memiliki banyak murid. Suatu hari, salah satu murid bertanya kepadanya :  “Guru, bisakah Anda menjelaskan nilai hidup saya?”

Sang guru mengeluarkan sebuah batu dan berkata : “Aku akan menjelaskan nilai hidupmu setelah kamu menyelesaikan satu tugas. Bawalah batu ini ke pasar dan tawarkan untuk dijual. Tapi ingat, apa pun harga yang ditawar orang, jangan kamu jual.”

Murid itu membawa batu itu ke pasar dan mulai menawarkan.

 Ada orang yang berkata: “Aku mau membeli batu ini seharga 2 yuan.”

 Tak lama kemudian lebih banyak orang datang, mereka memuji kilau batu itu, dan harga pun naik sampai 10 yuan.

Dengan gembira murid itu kembali kepada gurunya dan berkata :  “Guru, batu ini bisa laku sampai 10 yuan!”

Sang guru tersenyum dan berkata : “Sekarang bawalah batu itu ke pasar emas, dan apa pun harga yang ditawarkan, jangan dijual.”

Murid itu pergi ke pasar emas. Seorang tetua melihat batu itu dan berkata :  “Batu ini pasti berisi sesuatu yang sangat berharga.”

 Orang-orang mulai berebut, dan harga naik hingga 10.000 yuan.

Murid itu mulai tergoda, tetapi dia tetap menahan diri. 

Dia kembali kepada gurunya dan berkata : “Guru, ternyata batu ini bisa bernilai 10.000 yuan! Luar biasa!”

Guru itu tersenyum lagi dan berkata :  “Kali ini, bawalah batu itu ke pasar permata. Apa pun harga yang ditawar, jangan dijual.”

Murid itu pun pergi ke pasar permata. Baru saja dia menawarkan batu itu, seseorang langsung menawar 100.000 yuan. Dalam sekejap mata, tawaran naik menjadi 300.000 yuan.

Murid itu hampir tak mampu menahan godaan, tetapi dia tetap menyelesaikan tugasnya. 

Dia kembali dan berkata dengan kagum :  “Saya tidak menyangka Anda memiliki harta sebesar ini! Tugas saya sudah selesai. Sekarang mohon beri tahu nilai sebenarnya dari batu ini.”

Sang guru berkata dengan lembut :  “Batu ini sebenarnya tak ternilai. Di dalamnya ada giok yang sangat berharga. Tetapi karena kamu tidak mengenal nilainya, di matamu dia hanya layak 10 yuan.”

Pesan moral:

Setiap orang pada dasarnya adalah sebuah batu giok. Jika seseorang mau mengasah diri, memoles karakter, kemampuan, dan pengetahuan, maka ia akan bersinar seperti giok yang mahal—dan nilainya akan meningkat.

Namun, jika seseorang tidak pernah mengembangkan dirinya, tidak berusaha memperbaiki diri, maka ia akan tetap menjadi batu biasa yang tidak bernilai.

Kisah ini mengajak kita merenungkan:

  • Apa sebenarnya nilai hidup kita?
  • Apa kunci untuk mewujudkan nilai hidup itu?
  • Dan bagaimana cara kita memandang diri kita sendiri?

Jawabannya bergantung pada seberapa jauh kita mau mengasah potensi kita. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine