EtIndonesia. Di padang rumput Afrika, ada seekor hewan kecil yang tampak tak berbahaya bernama kelelawar pengisap darah. Tubuhnya kecil, tapi dia adalah musuh alami kuda liar.
Kelelawar ini hidup dengan cara mengisap darah hewan lain. Ketika menyerang kuda liar, dia akan menempel pada kaki kuda, lalu menggunakan giginya yang tajam untuk membuat luka kecil, kemudian dengan cepat mengisap darahnya.
Tak peduli seberapa keras kuda liar itu melonjak, menendang, atau berlari kencang, dia tak mampu melepaskan diri dari kelelawar itu. Sementara kelelawar bisa dengan tenang menempel pada tubuhnya, bahkan pindah ke kepala kuda, dan terus mengisap darah hingga puas, baru kemudian pergi.
Akhirnya, banyak kuda liar mati dalam keadaan mengamuk, ketakutan, berlari tanpa henti, dan kehabisan tenaga.
Para ahli zoologi kemudian menganalisis fenomena ini. Mereka sepakat bahwa jumlah darah yang diisap kelelawar sangat sedikit, tidak cukup untuk menyebabkan kematian. Kuda liar mati bukan karena kehilangan darah, tetapi karena kemarahannya sendiri dan pelariannya yang tak terkendali.
Pesan moral:
Dalam proses perkembangan diri, faktor internal adalah yang paling menentukan. Pengaruh luar, hambatan, atau kesulitan memang dapat membawa tekanan, tetapi selama kita mampu menguatkan diri dari dalam, tidak putus asa, dan tetap bertahan, kita mampu mengubah situasi buruk menjadi peluang baru.
Seperti pepatah : “Seribu pukulan takkan membuat baja patah; biarlah angin dari empat penjuru berembus, dia tetap berdiri.”
Bila kita mampu mengenali kelebihan dan kekurangan diri, memusatkan kekuatan pada hal-hal yang positif, dan melemahkan dampak negatifnya, kita bukan hanya dapat tumbuh—tetapi juga bisa melakukan hal-hal luar biasa yang tak terpikirkan sebelumnya.(jhn/yn)


