Kuburan Burung Laut

EtIndonesia. Di tengah luasnya Samudra Atlantik, terdapat sebuah pulau terpencil bernama Marion. Pulau ini nyaris tak tersentuh manusia dan menjadi surga alami bagi burung-burung laut.

Namun sejak sebuah tim ekspedisi Inggris menginjakkan kaki di pulau itu pada tahun 1945, keadaan berubah drastis dalam waktu singkat.

Tanpa mereka sadari, di kapal ekspedisi itu bersembunyi beberapa ekor tikus. Begitu menemukan kesempatan, tikus-tikus itu ikut turun ke pulau. Bagi tikus-tikus tersebut, pulau itu ibarat surga tanpa batas: makanan melimpah, tidak ada predator, dan lingkungan sangat aman.

Akibatnya, populasi tikus berkembang biak seperti api yang membakar padang rumput. Delapan tahun kemudian, seluruh pulau telah dipenuhi tikus.

Ketika para peneliti kembali ke pulau itu dan melihat situasinya, mereka panik. Mereka segera mengirim telegram ke markas besar, meminta dikirimkan beberapa kucing besar dan kuat untuk mengendalikan populasi tikus.

Namun yang terjadi berikutnya jauh lebih mengejutkan.

Lima ekor kucing yang dibawa ke pulau tidak berhasil mengurangi populasi tikus. Sebaliknya, mereka justru menemukan mangsa yang jauh lebih mudah ditangkap: burung-burung laut yang sejak dulu tidak mengenal rasa takut.

Kucing-kucing itu segera “beralih profesi”. Mereka enggan melawan tikus yang besar, kuat, dan agresif. Sebaliknya, mereka dengan rakus memburu burung-burung laut yang jinak dan tidak waspada.

Beberapa tahun kemudian, lima “kucing leluhur” itu berkembang menjadi 2.500 ekor. Dan setiap hari, jumlah burung laut yang dibunuh mencapai 600.000 ekor.

“Surga burung laut” pun berubah menjadi “kuburan burung laut”.

Pesan moral:

Para peneliti gagal karena mereka tidak memahami kekhususan suatu kontradiksi. Mereka menggunakan cara lama untuk memecahkan masalah baru tanpa menyadari bahwa kondisi di pulau itu berbeda dari ekosistem biasa.

Dalam situasi normal, kucing dan tikus adalah musuh alami, bukan kucing dan burung. Namun ketika lingkungan berubah, sifat dan perilaku makhluk hidup juga berubah. Demikianlah mengapa kucing-kucing itu “beralih profesi”.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap masalah memiliki karakteristik khusus, dan kita tidak bisa selalu mengandalkan “rumus lama” untuk menghadapi situasi yang sudah berubah.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine