EtIndonesia. Pada awal musim panas ketika Luciano Pavarotti berusia tiga puluh tahun, dia diundang ke Lyon, Prancis, untuk menghadiri sebuah konser. Dia tiba sehari lebih awal dan menginap di sebuah losmen kecil dekat gedung opera.
Karena perjalanan yang panjang, Pavarotti merasa sangat lelah dan memutuskan tidur lebih cepat agar penampilannya keesokan hari tidak terganggu. Namun tidak lama setelah dia terlelap, dia terbangun oleh tangis bayi dari kamar sebelah.
Tak disangka, bayi itu menangis tanpa henti. Pavarotti menutup kepalanya dengan selimut, tetapi suara tangis itu seolah memiliki kekuatan menembus apa pun—terus menusuk telinga dan pikirannya. Dia menjadi gelisah dan kesal.
Setelah hampir setengah jam tersiksa, Pavarotti bangkit dari tempat tidur dan mondar-mandir di lantai, berharap tangis bayi itu segera berhenti. Tetapi bayi itu tetap menangis, dan setiap kalimat tangisannya sekeras yang pertama.
Akhirnya, Pavarotti mengambil keputusan berbeda: Jika tangis itu tidak bisa dihentikan, mengapa tidak mencoba menerimanya?
DIa mulai mendengarkan tangisan itu seperti mendengarkan sebuah lagu. Dan perlahan-lahan, dia justru merasa kagum pada bayi itu.
Dia berpikir : “Suara yang aku gunakan saat bernyanyi satu jam saja bisa membuat tenggorokanku serak. Mengapa bayi ini bisa terus menangis dengan suara yang tetap nyaring? Apa rahasianya?”
Ketika dia mendengar lebih cermat, dia menyadari bahwa bayi itu menangis dengan teknik tertentu tanpa disadari:
- Ketika suaranya hampir pecah, bayi itu otomatis menarik kembali tekanannya,
- Dia menangis dengan napas dari perut (dari diafragma atau ‘dantian’), bukan dari tenggorokan.
Temuan itu membuat Pavarotti bersemangat. Dia mulai meniru teknik itu—melatih napas dari perut, mencoba mencapai nada maksimal tanpa suara pecah, dan mempertahankan kejernihan seperti suara pertama.
Dia berlatih sepanjang malam.
Keesokan harinya, di panggung konser, suaranya yang penuh tenaga dan jernih memukau seluruh penonton. Kelak, dia pun menjadi salah satu penyanyi tenor terbesar dalam sejarah.
Pesan moral:
Tangisan bayi dan gangguan dari lingkungan adalah fakta yang tidak bisa diubah. Yang bisa diubah adalah sikap kita terhadapnya—apakah kita menolak, atau menerima dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Pavarotti memilih cara kedua. Dia tidak membiarkan kegelisahan menguasai dirinya. Dia menerima kenyataan, mengubah cara pandangnya, dan menjadikan “gangguan” sebagai guru terbaiknya.
Inilah inti dari kemampuan seorang profesional sejati:
- mampu mengenali peluang dalam masalah,
- memetik pelajaran dari gangguan,
- dan menjadikan hal yang merugikan sebagai batu loncatan untuk melesat lebih tinggi.
Jika malam itu Pavarotti marah, mengeluh, atau pindah kamar, mungkin dia tidak akan pernah menemukan teknik itu—dan mungkin pula, sejarah musik dunia akan kehilangan seorang maestro besar. (jhn/yn)


