EtIndonesia. Yang menghalangi kita untuk menemukan dan mencipta, sering kali bukan keadaan di luar diri, melainkan hambatan psikologis dan “batu keras” dalam pikiran kita sendiri.
Pada zaman dahulu, di kebun sayur sebuah keluarga terdapat sebuah batu besar. Lebarnya sekitar empat puluh sentimeter dan tingginya kurang lebih sepuluh sentimeter. Siapa pun yang masuk ke kebun itu sering kali tidak sengaja menendang batu tersebut—akibatnya, ada yang terjatuh, ada pula yang terluka.
Suatu hari, sang anak bertanya: “Ayah, kenapa batu yang menyebalkan itu tidak digali dan disingkirkan saja?”
Ayahnya menjawab: “Oh, batu itu? Sejak zaman kakekmu, batu itu sudah ada di sana. Ukurannya kelihatannya besar sekali, entah sampai kapan baru bisa digali. Daripada capek-capek menggali batu, lebih baik berjalan hati-hati saja. Sekalian melatih kepekaan dan refleksmu.”
Tahun-tahun berlalu. Batu besar itu tetap berada di kebun dan diwariskan ke generasi berikutnya. Anak itu pun menikah, punya keluarga, dan akhirnya menjadi seorang ayah.
Suatu hari, menantu perempuannya berkata dengan kesal : “Ayah, batu besar di kebun itu makin lama makin membuat kesal. Bagaimana kalau suatu hari kita minta orang untuk memindahkannya?”
Sang ayah menjawab: “Sudahlah. Batu itu berat sekali. Kalau memang bisa dipindahkan, tentu sejak saya kecil sudah dipindahkan. Mana mungkin dibiarkan sampai sekarang?”
Jawaban itu membuat sang menantu semakin tidak enak hati. Batu besar itu sudah tak terhitung berapa kali membuatnya terjatuh.
Suatu pagi, menantu perempuan itu membawa sebuah cangkul dan satu ember air. Dia menuangkan seluruh air ke sekeliling batu besar tersebut. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, dia mulai mencangkul tanah di sekitar batu hingga menjadi gembur.
Dalam hatinya, dia sudah bersiap: mungkin pekerjaan ini akan memakan waktu seharian.
Namun, siapa sangka—hanya dalam beberapa menit, batu itu berhasil diangkat.
Ketika diperhatikan dengan saksama, ternyata batu itu tidak sebesar yang selama ini dibayangkan. Semua orang selama ini tertipu oleh tampilan luarnya yang seolah-olah sangat besar dan tak tergoyahkan.
Renungan
Jika kamu mendaki gunung sambil membawa pikiran bahwa jalannya menurun, maka kamu tidak akan pernah sampai ke puncak.
Jika duniamu terasa suram dan tanpa harapan, itu karena hatimu sendiri yang lebih dulu suram dan tanpa harapan.
Ingin mengubah dunia? Ubahlah cara berpikirmu terlebih dahulu. (jhn/yn)


