Coba Sekali Lagi

EtIndonesia. Dua bersaudari dari desa datang ke kota untuk mencari nafkah. Setelah melamar kerja ke sana ke mari, akhirnya mereka diterima bekerja sebagai tenaga pemasaran di sebuah perusahaan suvenir.

Mereka tidak memiliki pelanggan tetap, tidak punya koneksi, dan tidak mengenal siapa pun. Setiap hari, mereka hanya bisa menenteng contoh barang yang berat—jam dinding, album foto, cangkir, lampu meja, serta berbagai kerajinan tangan—menyusuri jalan-jalan kota, masuk dari satu kantor ke kantor lain untuk mencari pembeli.

Lima bulan lebih berlalu. Kaki mereka hampir tak sanggup berjalan lagi, mulut mereka lelah karena terlalu sering berbicara. Namun hasilnya nol besar—bahkan satu gantungan kunci pun tak berhasil terjual.

Kekecewaan yang berulang-ulang akhirnya menghabiskan kesabaran sang adik. Dia mengajak kakaknya mengundurkan diri bersama dan mencari jalan lain. 

Kakaknya berkata dengan tenang :  “Setiap awal memang sulit. Bertahanlah sedikit lagi. Siapa tahu, kesempatan berikutnya justru membawa hasil.”

Namun sang adik tak menghiraukan. Dia tetap pergi dan berpamitan dengan perusahaan itu.

Keesokan harinya, keduanya keluar rumah bersama. Sang adik berkeliling kota mencari pekerjaan baru berdasarkan iklan lowongan. Sang kakak, seperti biasa, tetap membawa contoh barang dan mencari pelanggan.

Malam harinya, mereka kembali ke kamar kontrakan dengan perasaan yang sangat berbeda. Sang adik pulang dengan tangan kosong—lagi-lagi gagal mendapatkan pekerjaan. Sang kakak justru membawa pesanan pertamanya.

Sebuah perusahaan yang sebelumnya telah dia datangi empat kali akan mengadakan konferensi besar. Perusahaan itu memesan 250 set kerajinan tangan mewah sebagai cenderamata bagi para peserta, dengan total nilai lebih dari 200 ribu yuan. Dari pesanan itu, sang kakak memperoleh komisi 20 ribu yuan—penghasilan pertamanya sebagai pekerja perantau.

Sejak saat itu, pesanan datang silih berganti, dan prestasinya terus meningkat.

Enam tahun berlalu. Sang kakak kini memiliki mobil, rumah lebih dari 100 meter persegi, dan perusahaan suvenir miliknya sendiri. Sementara itu, sang adik terus berpindah-pindah pekerjaan. Bahkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari—pakaian dan makanan—dia masih harus dibantu oleh kakaknya.

Suatu hari, sang adik bertanya tentang rahasia kesuksesan.

Kakaknya menjawab sederhana: “Sebenarnya, seluruh rahasia kesuksesanku hanya satu—
aku berusaha satu kali lebih banyak darimu.”

Hanya selisih satu kali usaha. Padahal bakat hampir sama, peluang pun serupa. Namun sejak saat itu, kedua saudari tersebut menapaki jalan hidup yang sepenuhnya berbeda.

Dan bukan hanya kisah kakak ini. Begitu banyak tokoh sukses dengan prestasi gemilang— keberhasilan awal mereka pun sering kali berawal dari satu usaha tambahan.

Renungan Penutup

Sering kali, yang memisahkan gagal dan berhasil, bukan kecerdasan, bukan keberuntungan,  melainkan kesediaan untuk mencoba satu kali lagi.

Satu langkah lagi. Satu usaha lagi. Satu hari lebih lama bertahan. Dan hidup pun akan berubah arah.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine