Jingwei dan Burung Gagak

EtIndonesia. Menurut legenda kuno, putri Kaisar Yan pergi bermain ke laut, namun malang—dia tenggelam dan meninggal dunia. Arwahnya kemudian menjelma menjadi seekor burung bernama Jingwei.

Untuk membalas nasib tragis di kehidupan sebelumnya, Jingwei bersumpah mengisi laut hingga rata. Setiap hari tanpa mengenal lelah, dia terbang bolak-balik sambil membawa batu kecil dan menjatuhkannya ke laut. Hari demi hari, tahun demi tahun, tekadnya tak pernah goyah. Karena kegigihannya itu, Jingwei dipuja sebagai lambang ketekunan dan keuletan.

Suatu hari, ketika Jingwei sedang sibuk bekerja, dia melihat seekor burung gagak terbang melewatinya—di paruhnya juga tergenggam sebuah batu kecil.

“Apakah burung gagak itu juga ingin meniru aku mengisi laut?” pikir Jingwei heran.

Dia pun mengikuti gagak itu. Burung gagak mendarat di sebuah tebing, di sana terdapat sebuah botol kaca berisi setengah botol air. Dengan hati-hati, burung gagak menjatuhkan batu kecil ke dalam botol. Air di dalam botol pun naik hingga ke bibir botol. Dengan gembira, gagak itu meminum air tersebut.

Melihat itu, Jingwei tertawa sinis dan berkata meremehkan: “Hmph, itu hanya trik kecil yang sepele!”

Burung gagak melirik Jingwei, lalu dengan santai meneguk air sekali lagi sambil berkata : “Wahai Jingwei yang terhormat, memang benar tujuanku sangat sederhana—tetapi nyata dan dapat dicapai. Sementara kamu terus berlari tanpa henti, pernahkah kamu memikirkan satu kenyataan ini?”

“Luas lautan di bumi ini dua setengah kali lebih besar dari luas daratan, dan volume air laut sepuluh kali lipat dari volume daratan. Artinya, sekalipun seluruh daratan dilemparkan ke laut, bumi ini tetap hanya akan menjadi hamparan samudra. Tujuan besarmu itu… sesungguhnya mustahil dicapai.”

Mendengar kata-kata itu, Jingwei langsung jatuh pingsan.

Renungan

Burung gagak, dengan usaha sederhana dan strategi yang tepat, berhasil meminum air dengan mudah. Jingwei, meski tekun dan pantang menyerah, pada akhirnya bekerja sia-sia.

Penyebabnya bukan karena kurang gigih, melainkan karena dia hanya mengandalkan kemauan subjektif, tanpa mempertimbangkan kenyataan objektif.

Dalam hidup, kita memang harus tekun dan bekerja keras, tetapi juga perlu mengangkat kepala dan melihat arah jalan.

Melangkahlah dengan kaki menjejak bumi, namun pandangan tetap terbuka pada realitas dan kemungkinan.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine