Serangan Pisau di MRT Taipei: Pahlawan yang Melawan Tersangka Meninggal Dunia, Pramuniaga Berhasil Menyelamatkan Puluhan Orang dengan Membuka Gudang

EtIndonesia. Pada 19 Desember 2025 malam, di sekitar Stasiun MRT Taipei dan Stasiun Zhongshan terjadi serangkaian insiden pelemparan bom asap dan penusukan acak, yang menyebabkan 3 warga meninggal dunia. Tersangka Zhang Wen terjatuh dari gedung dan meninggal dunia. Kewaspadaan di stasiun kereta api, MRT, dan bandara ditingkatkan secara menyeluruh, sementara jaksa dan polisi melakukan penyelidikan sepanjang malam untuk mengungkap motif kejahatan.

Tersangka Zhang Wen Pernah Masuk Daftar Buronan Terkait Penghindaran Wajib Militer

Hasil penyelidikan polisi menunjukkan bahwa tersangka adalah Chang Wen, 27 tahun, tidak memiliki pekerjaan tetap, berasal dari Taoyuan, dan pernah bekerja sebagai petugas keamanan. Ia terlibat kasus pelanggaran undang-undang wajib militer dan sejak Juli telah ditetapkan sebagai buronan oleh Kejaksaan Taoyuan.

Polisi Kota Taipei menyebutkan bahwa Chang Wen pada Januari tahun ini menyewa tempat tinggal di Distrik Zhongzheng, Taipei, yang lokasinya berdekatan dengan kantor polisi. Namun, beberapa hari sebelum kejadian, ia menginap di sebuah hotel di sekitar kawasan perbelanjaan Eslite Nanxi dekat Stasiun Zhongshan, dan diketahui telah menginap selama tiga hari.

Polisi telah menggeledah tempat tinggal sewaan Chang Wen di Distrik Zhongzheng, hotel tempat ia menginap di sekitar Stasiun Zhongshan, serta rumahnya di Kota Taoyuan. Di lokasi sewaan ditemukan bahan-bahan yang diduga untuk merakit bom molotov. Polisi juga mewawancarai anggota keluarga untuk mengetahui pergaulan dan kondisi kesehatan Chang Wen.

Pada 19 Desember, Chang Wen yang berusia 27 tahun melemparkan bom asap di lorong bawah tanah Stasiun Utama Taipei dan di luar Stasiun Zhongshan, kemudian menerobos masuk ke sebuah pusat perbelanjaan, menikam orang-orang sebelum jatuh hingga tewas. Polisi menggeledah apartemen sewaan Chang Wen di Distrik Zhongzheng malam itu. (CNA)

Pelaku Kembali ke Hotel Mengambil Senjata Lalu Beraksi Lagi

Sekitar pukul 17.30 pada 19 Desember, Zhang Wen mengenakan masker gas dan melemparkan beberapa bom asap di pintu keluar M7 dan M8 Stasiun Taipei, bahkan terdapat benda yang diduga bahan bakar bom molotov yang sempat terbakar.

Dalam proses tersebut, seorang pria yang melintas di pintu keluar M7 melihat kejadian dan segera berusaha menghentikan pelaku, namun malang ia justru diserang hingga meninggal dunia.

Pada 19 Desember, sebuah bom asap dilemparkan ke Stasiun Utama Taipei. Walikota Taipei Chiang Wan-an (tengah) segera memimpin tim ke lokasi kejadian untuk melakukan investigasi. Dalam sebuah wawancara, ia menyatakan bahwa meskipun MRT telah beroperasi kembali, keamanan dan patroli akan terus diperkuat. (CNA)

Menurut penyelidikan, setelah melempar bom asap di terowongan bawah tanah dekat pintu keluar M7 Stasiun Taipei, Chang Wen berjalan kaki melalui pusat perbelanjaan bawah tanah menuju hotel dekat Stasiun Zhongshan untuk mengambil senjata tajam. Ia hanya berada di kamar hotel sekitar 30 detik, lalu sekitar pukul 18.00 kembali ke luar Stasiun Zhongshan, melempar bom asap sambil membawa pisau sepanjang 30 cm, dan melakukan penusukan secara acak di sepanjang jalan. Warga yang berada di lokasi berteriak panik dan berlarian menyelamatkan diri.

Polisi berjaga-jaga di pintu masuk dan keluar stasiun MRT Zhongshan setelah insiden pada 19 Desember. (CNA)

Pelaku kemudian menerobos masuk ke sebuah pusat perbelanjaan dan menyerang pengunjung, menyebabkan dua orang mengalami henti jantung sebelum tiba di rumah sakit (OHCA). Dua korban lainnya ditikam di lantai 1 dan lantai 4, dengan luka yang terkonsentrasi di bagian leher. Chang Wen akhirnya terjatuh dari lantai 6 pusat perbelanjaan dan dinyatakan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit.

Petugas polisi bersenjata lengkap siaga tinggi di luar Stasiun Zhongshan pada malam 19 Desember. (CNA)

Wali Kota Taipei Chiang Wan-an menyatakan bahwa saat mengunjungi pasien OHCA yang kritis di Rumah Sakit NTU, ia mengetahui bahwa seorang korban pria yang berusaha menghentikan pelaku telah meninggal dunia. Ia menyampaikan duka mendalam dan menyatakan bahwa pemerintah kota bersama perusahaan MRT dan instansi terkait akan memberikan pendampingan dan santunan penuh kepada keluarga korban.

Menurut data terbaru dari Kantor Penanggulangan Bencana Kota Taipei pada pukul 22.30 malam itu, total korban yang dibawa ambulans 119 ke rumah sakit berjumlah 9 orang, sementara 4 orang lainnya berobat sendiri. Total 13 korban terdiri dari 8 pria dan 5 wanita, dengan rincian 4 orang meninggal dunia (termasuk pelaku Chang Wen), 1 luka berat, 1 luka sedang, dan 7 luka ringan.

Bom asap dilemparkan ke Stasiun Utama Taipei pada malam 19 Desember. Tersangka, Zhang Wen, kemudian secara acak menyerang orang-orang di Toko Buku Eslite (cabang Nanxi) di distrik perbelanjaan Zhongshan, menyebabkan banyak luka, beberapa ringan dan beberapa serius. Bercak darah terlihat di tempat kejadian. Foto menunjukkan polisi menutup lokasi kejadian di Toko Buku Eslite (cabang Nanxi) pada malam tanggal 19, dengan tim forensik mengumpulkan bukti. (CNA)

Pramuniaga Sigap Membuka Gudang, Melindungi Banyak Orang

Setelah kejadian, lokasi kejadian dipenuhi bercak darah. Seorang saksi merekam momen pelaku melakukan penusukan dan warga yang panik melarikan diri. Polisi segera memasang garis pembatas, tim forensik melakukan olah TKP, serta mengamankan sisa-sisa bahan peledak yang diduga digunakan pelaku. Kepolisian Kota Taipei bahkan sempat mengerahkan unit khusus SWAT ke lokasi.

Serangan acak terjadi di luar stasiun MRT Zhongshan pada malam 19 Desember, mengakibatkan banyak kematian dan luka-luka. Polisi menemukan sisa-sisa yang tampaknya merupakan bahan peledak yang digunakan oleh tersangka di jalan di luar pintu keluar MRT, mengambil foto sebagai bukti, dan membawanya untuk penyelidikan. (CNA)

Diketahui, saat pelaku membawa pisau panjang dan menerobos masuk ke Eslite Life Nanxi, warga panik berlarian. Ketika pelaku naik ke lantai 4, seorang pramuniaga perempuan yang hendak mengisi ulang stok barang dengan sigap menarik pelanggan masuk ke gudang dan menguncinya, sehingga melindungi banyak orang dan membantu meminimalkan jumlah korban.

Dalam pesan internal, manajemen Eslite Life Nanxi menyampaikan terima kasih kepada seluruh tenant dan karyawan yang bekerja sama dalam mengatur evakuasi, memberikan perlindungan darurat, menenangkan pelanggan dan pembaca, serta secara aktif membantu orang tua dengan anak kecil dan penyandang disabilitas. Pesan tersebut berbunyi:
“Ini adalah saat yang gelap. Terima kasih kepada semua orang, kita bersama-sama merasakan kekuatan keberanian dan cinta.”
“Setelah menata kembali perasaan, mari kita melangkah lagi. Hari ini seluruh rekan toko diminta untuk beristirahat satu hari penuh.” (Hui)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine