EtIndonesia. Pada tahun 1943, John Harold Johnson mendirikan majalah The Negro Digest (yang kemudian berganti nama menjadi Black World). Demi memperluas jumlah pembaca, dia memiliki sebuah gagasan berani: mengajak orang kulit putih melakukan “pertukaran peran” dengan menulis artikel bertema “Seandainya aku adalah seorang kulit hitam.”
Dengan penuh ketulusan, Johnson menulis surat kepada Ibu Negara Amerika Serikat, Eleanor Roosevelt, memohon agar beliau bersedia menulis artikel tersebut sebagai bentuk dukungan. Namun, balasan yang diterimanya adalah bahwa sang Ibu Negara sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menulis.
Johnson tidak berkecil hati. Dalam benaknya, dia berpikir: “Beliau hanya mengatakan tidak punya waktu, bukan mengatakan tidak mau menulis.”
Sebulan kemudian, dia kembali mengirim surat. Jawabannya tetap sama—masih terlalu sibuk.
Namun Johnson tidak menyerah. Setiap satu bulan sekali, dia terus mengirim surat. Dan setiap kali pula, jawaban yang dia terima tak berubah: bahkan satu menit waktu luang pun tidak ada.
Meski begitu, Johnson tetap berpegang pada keyakinannya: “Selama beliau tidak mengatakan ‘tidak mau’, berarti masih ada secercah harapan. Jika aku terus menulis, suatu hari pasti beliau akan punya waktu.”
Akhirnya, kegigihan Johnson membuahkan hasil. Eleanor Roosevelt benar-benar tersentuh oleh ketekunannya. Dia tidak hanya menulis artikel tersebut, tetapi datang langsung ke kantor redaksi dan dengan serius menuliskan artikel itu untuk The Negro Digest.
Hasilnya sungguh luar biasa. Dalam waktu satu bulan, oplah majalah tersebut melonjak drastis—dari 50.000 eksemplar menjadi 150.000 eksemplar.
Ketekunan adalah sebuah kekuatan.(yn)


