Pria Sejati

EtIndonesia. Pria, sejak dilahirkan, dia seolah telah ditakdirkan untuk menempuh perjalanan hidup yang berat dan panjang. Sebab yang dia pikul bukan hanya hidupnya sendiri, melainkan juga gelar “pria”—sebuah sebutan yang bobotnya terasa ribuan kati. Apa pun yang terjadi, panji ini tak boleh roboh. Seorang pria harus memikul panjinya sendiri dan melangkah maju dengan kepala tegak.

Perjuanganlah yang membentuk seorang pria

Sebagai pria sejati, sepanjang hidup dia memanggul janji dan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Seorang pria harus hidup dengan lurus dan bermartabat

Melangkah benar, bertindak jujur; tidak merugikan orang lain, tidak mengkhianati nurani. Hatinya lapang, dadanya terbuka, tidak sibuk menghitung dendam pribadi, tidak diliputi rasa takut kehilangan. 

Dia berjiwa besar—mampu menampung hal-hal yang bahkan dunia pun sulit menerimanya. Dia bekerja keras tanpa menggubris gosip dan cibiran: aku berjalan di jalanku sendiri, aku bernyanyi dan menangis di jalanku sendiri. Bertemu gunung, dia belah; bertemu harimau, dia hadapi. Karena tak selalu ada alasan untuk berbagi, kebosanan, keluh-kesah, dan rasa sakit pun dia telan sendiri. Begitulah pria.

Kebahagiaan pria sering kali bersumber dari pencapaian diri, bahkan kadang kebahagiaan yang semu. Karena tak selalu punya tempat untuk berbagi, kebahagiaan itu sering datang dan pergi diam-diam—hingga beban di pundaknya kian bertambah. 

Kesepian pria adalah kesepian yang menggantung sendirian di dunia. Saat ingin menangis, dia menahan air mata demi kekuatan; saat ingin menyesal, dia menguatkan diri dan tak mengelak. Maka bahunya justru semakin kokoh oleh beban. Keteguhan pria adalah keteguhan yang berdiri tegak di hadapan dunia.

Pria—senyum boleh dibagi, pahit dia telan sendiri

Namun pria sejati juga memiliki sisi lembut. Dia melindungi istri, berbakti kepada orangtua, menyayangi anak-anak, tulus pada sahabat. Dia ramah pada orang asing, peduli pada kemanusiaan. Kadang dia menatap bintang di malam hari, melamun pada bulan; tertarik pada bunga, burung, dan serangga; membaca hingga fajar; sesekali melontarkan humor sederhana.

Pria sejati tidak memasang wajah kaku, juga tidak menempelkan senyum palsu. DIa tak memerlukan topeng—cahayanya lahir dari jati diri lelaki itu sendiri.

Kesedihan terbesar hidup bukanlah kemiskinan atau kerendahan, melainkan kehilangan rasa nilai dan arah—ketika tak lagi menemukan alasan, bahkan sebutir pun, untuk dibanggakan. Jika seorang pria kehilangan modal harga dirinya, dia akan runtuh.

Ada kalanya seorang pria mengepalkan tangan dan berkata pada diri sendiri: “Aku bisa. Aku pasti berhasil.”

Menjadi pria berarti membusungkan dada hingga akhir. Pria sejati tidak gentar oleh kesulitan apa pun, tidak menyembah siapa pun sebagai dewa, dan tidak gemetar di hadapan siapa pun yang disebut “maestro”.

Sebetulnya, tidak semua pria ingin menjadi pahlawan. Mereka hanya berharap, dari bayang-bayang pahlawan, dapat melihat secercah makna untuk menenangkan jiwa yang kadang hampa.

Pria yang baik bukanlah yang berusaha keras agar perempuan tak pernah terluka sedikit pun, melainkan yang memandang cinta kepada perempuan setara dengan keyakinan—sesuatu yang dijalani dengan segenap hidup. Seorang pria justru memperoleh tenaga dan vitalitas yang lebih besar dari pengakuan, penghargaan, dan cinta perempuan; dari sanalah dia menuntaskan banyak hal. Pria unggul membuat perempuan merasa setara, bebas, bahagia, aman, dan dipercaya. Yang paling berharga dalam diri manusia adalah kualitas dan karakter yang utuh sepanjang hidup—tak memudar oleh waktu. Jika pada usia 18 engkau pria sejati, dan pada usia 80 engkau tetap pria sejati, itulah pria yang sesungguhnya.

Yang paling harus dihindari seorang pria adalah pengecut dan rendah diri. Penilaian terendah bagi pria ialah: “tak berjiwa lelaki.” Layar yang harus dikibarkan pria adalah kepercayaan diri. Melakukan apa pun dengan keyakinan; saat berhasil tak terlena, saat gagal tak runtuh. Pria yang merasa dirinya tak mampu melakukan apa-apa adalah pria paling tak berguna—bahkan nyaris tak layak disebut pria.

Engkau mungkin tak mampu memeluk dunia, tetapi setidaknya milikilah kelapangan hati—ringan memikul yang berat, berjalan di jalan besar.  Engkau mungkin tak mampu membidik jauh ke cakrawala, tetapi setidaknya milikilah iman—terang, jujur, dan menapaki jalan yang lurus.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine