Perekonomian Tiongkok terus memburuk, berbagai sektor lesu, dan konsumsi masyarakat menurun. Selama lebih dari 20 tahun, Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus meneriakkan slogan “Revitalisasi Timur Laut”. Namun demikian, bagaimana kondisi ekonomi setempat sebenarnya?
Warga di tiga provinsi timur laut secara tegas menyatakan bahwa itu hanyalah slogan. Kini ekonomi Timur Laut telah runtuh, banyak daerah berubah menjadi “kota hantu”. Jalanan yang dulu ramai kini nyaris tanpa manusia, banyak toko tutup, dan kaum muda memilih pergi. Warga menggambarkan bahwa Tiga Provinsi Timur Laut sedang menghilang, seperti “Beidahuang” (Tanah Perawan Utara) di masa lalu.
EtIndonesia. Kemerosotan ekonomi di wilayah timur laut Tiongkok dikenal sebagai “fenomena Timur Laut”. Istilah ini merujuk pada serangkaian masalah di bidang ekonomi, demografi, dan struktur sosial, termasuk sulitnya transformasi industri berat, arus keluar talenta dalam jumlah besar, memburuknya struktur penduduk, serta kejatuhan ekonomi secara drastis.
Para pengamat menilai, kondisi ini terutama disebabkan oleh penerapan sistem PKT yang paling menyeluruh di tiga provinsi tersebut. Situasi Timur Laut hari ini bisa jadi merupakan gambaran masa depan seluruh Tiongkok.
Pada 31 Desember 2025, seorang blogger di platform X luar negeri dengan nama akun “Canghai Yisu” menulis bahwa ekonomi Timur Laut telah runtuh, depresi besar datang lebih awal dibanding wilayah lain. Di Shenyang, Harbin, dan Changchun, sekitar 27 juta orang tidak lagi berbelanja. Tanpa konsumsi, tanpa pekerjaan—“satu orang meninggal, satu rumah dikunci”. Tiga provinsi timur laut sedang menghilang dan berubah menjadi Beidahuang. Jangan lagi membanggakan revitalisasi; rakyat sudah muak dengan janji kosong PKT.
東北經濟崩了,大蕭條領先全國,瀋陽 哈爾濱 長春 2700萬人不再消費,沒人消費,沒有工作,死一家鎖一戶,東三省在消失,正變成北大荒,別再吹振興了,百姓煩透中共的大餅❗️ pic.twitter.com/hj9WROo3Sf
— 沧海一粟 (@jasmine201515) December 31, 2025
Video yang diunggah blogger tersebut merangkum keluhan dan ketidakpuasan warga dari berbagai lapisan masyarakat di tiga provinsi timur laut, yang lebih banyak mencerminkan keputusasaan mereka. Teks dalam video menyebutkan bahwa slogan “Revitalisasi Timur Laut” telah diteriakkan selama 22 tahun, dan rakyat akhirnya sadar bahwa itu hanyalah slogan belaka.
Tuan A dengan emosional berkata, lihatlah jalanan Shenyang—ada orangkah? “Saya muak mendengar kata ‘revitalisasi Timur Laut’. Kesalahan kebijakan mereka membuat seluruh Timur Laut menanggung akibatnya. Teruskan saja begini, hancur sekalian.”
Nyonya B mengatakan, ini adalah kawasan permukiman lama di Qiqihar. Hampir semua rumah di seberang kosong, satu kompleks tinggal beberapa keluarga. Sekarang kalau dijual, satu unit hanya 40–50 ribu yuan pun tak ada yang mau. Orang-orang sudah pergi semua. Timur Laut benar-benar tidak bisa mempertahankan penduduk. Bahkan jika anak muda bertahan, mereka enggan menikah dan punya anak karena ekonomi terlalu buruk.
“Saya menyaksikan sendiri bagaimana Timur Laut berubah dari makmur menjadi merosot. Ke depan, penduduk akan semakin sedikit. Mungkin beberapa dekade lagi, yang tersisa hanya tanah,” keluh Nyonya B.
Tuan C berkata, “Hari ini 28 Desember 2025, hari Minggu. Lihat pusat perbelanjaan Shenyang—tak satupun orang. Ekonomi riil Shenyang benar-benar tamat, bahkan seluruh ekonomi Timur Laut sudah tamat. Mau revitalisasi apa kalau orang saja tidak ada?”
Teks video menyebutkan: “Banyak desa dan permukiman di Timur Laut mengalami pengosongan, sangat mirip dengan Beidahuang dulu.”
Nyonya D mengatakan, hampir semua orang di desanya telah pindah. Rumah-rumah kosong tanpa penghuni. Kondisinya mirip Beidahuang dulu. Timur Laut seperti ini sangat banyak; desa-desa hampir tak berpenghuni. Timur Laut benar-benar merosot—ekonomi lemah, tak ada perkembangan. Sekarang kota-kota kecil tingkat empat dan lima hampir tak berpenduduk; hanya beberapa kota besar yang masih tersisa orang. Jika terus begini, apakah Timur Laut akan menghilang?
“Anak kerabat saya bekerja di Shenyang selama dua tahun, sekarang juga pindah ke selatan. Katanya, ‘bahkan kota tingkat satu di Timur Laut sekarang sangat lesu’. Pekerjaan sulit dicari, tingkat kelahiran rendah, tak ada yang mau punya anak. Siapa pun yang keluar dari Timur Laut tak mau kembali. Timur Laut benar-benar sudah tidak bisa diandalkan,” katanya dengan putus asa.
Tuan E mengatakan, kota-kota kecil di Timur Laut kelak akan menjadi “kota hantu”. Bahkan ibu kota provinsi pun kini sangat lesu. Banyak warga lokal pergi ke selatan, apalagi kota kecil seperti ini. Dari pagi sampai malam, orang di jalan cuma segelintir. Gaji hanya dua sampai tiga ribu yuan, pekerjaan pun sangat sulit dicari. Selain bertani dan membuka toko kecil, hampir tak ada industri penopang.
“Beberapa tahun lagi, kota-kota kecil di Timur Laut akan semuanya jadi kota hantu. Ini bukan berlebihan—memang separah itu,” ujarnya.
Nyonya F mengatakan, kawasan komersial Beishi Lama di Shenyang dulu sangat ramai, sekarang kosong melompong. Semua toko disewakan, tak ada orang.
Nyonya G menggambarkan kondisi pedesaan Timur Laut saat ini: rumah-rumah bagus tak berpenghuni, penduduk makin sedikit. “Ini jalan utama desa kami, lihat berapa rumah yang lampunya menyala. Lampu jalan terang, tapi hampir tak ada manusia.”
Nyonya H mengeluh bahwa mencari kerja di Harbin sangat sulit. Ada yang menyuruh uji coba kerja tiga atau tujuh hari, lalu mengatakan “tidak cocok” tanpa dibayar. Atau jam kerja berat—24 jam kerja, 24 jam istirahat, dan bahkan tengah malam pun tak bisa istirahat.
Nyonya I juga ingin meninggalkan Timur Laut. “Dulu jalan ini di Harbin sangat ramai. Lihat sekarang berapa banyak toko tutup. Gaji rendah, orang tak keluar belanja. Saya juga berencana ke selatan pada 2026. Tinggal di sini seperti hidup yang bisa ditebak sampai akhir,” katanya.
J, seorang pemuda dengan koper di sampingnya, bercanda di depan kamera: “Keluarga, cari kerja di Changchun terlalu sulit. Saya mau pulang kampung dan mulai hidup ‘rebahan’ lebih awal.”
Tuan K mengatakan, inilah kondisi kota kecil Timur Laut—begitu malam tiba, jalanan kosong. Siang pun tak banyak orang. Lampu jalan mati setelah pukul 9 malam karena tak ada orang. Anak muda sudah pergi, yang tersisa hanya orang tua. Antar makanan pun bisa mati kelaparan.
Tuan L dengan emosional berkata, “Mengapa Changchun tak bisa mempertahankan penduduk? Akar masalahnya adalah minimnya lapangan kerja dan penghasilan rendah. Pekerjaan yang lumayan hampir mustahil didapat tanpa koneksi. Nepotisme sangat parah. Mau wirausaha atau industri baru, rantai industrinya tak lengkap. Industri tradisional pun kacau. Kota kelas tiga, konsumsi kelas dua. Tanpa jaringan, tanpa relasi, mengurus apa pun sangat sulit.”
Nyonya M berkata, “Siang bolong di Harbin kok tak ada orang? Sepi sekali. Tak heran toko fisik mati. Konsumsi benar-benar turun. Grosir bilang tak ada pembeli, ritel juga sama, toko pakaian sepi, bahkan salon pun sepi—orang tak potong rambut lagi?”
Tuan N mengemudi melewati deretan vila dan terkejut: “Dari luar terlihat baru, tapi dari dekat rusak—kaca jendela hilang, pintu copot. Jelas tak pernah dihuni. Area seluas ini.”
Warga: “Satu Orang Meninggal Dunia, Satu Rumah Dikunci—Siapa Berani Punya Anak?”
Menurut statistik terbaru Tiongkok 2025, Heilongjiang, Jilin, dan Liaoning menempati tiga terbawah dalam tingkat kelahiran nasional, sementara tingkat perceraian dan kematian termasuk tiga tertinggi.
Banyak lansia setempat berkata, “Belakangan ini pengeras suara sering berbunyi—acara pemakaman.” “Mati 30 orang, lahir cuma 3.” “Bukan penuaan penduduk—anak muda sudah pergi.” “Sudah tiga-empat tahun tak ada yang menikah.” “Satu orang meninggal, satu rumah dikunci—anak-anak tak di rumah, rumah jadi kosong.”
Nyonya O mengeluh, “Satu generasi demi generasi hilang, semuanya pergi. Saya sudah lama tak melihat bayi baru lahir di sini, di Yilan, Heilongjiang—mungkin satu dua tahun tak melihat sama sekali.”
“Bahkan membesarkan satu anak saja sulit, bagaimana berani punya anak? Harga-harga melonjak, beli apa pun mahal, jual apa pun murah. Tekanan ekonomi begitu besar sampai sulit bernapas,” kata Nyonya P. Kondisi keluarga seperti ini tidaklah sedikit. (Hui)


