Laporan wawancara jurnalis Xiao Ran, Visiontimes.com
Awal tahun 2026 diawali dengan sebuah peristiwa yang mengguncang dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah berhasil melaksanakan “Operation Absolute Resolve”, menangkap Nicolás Maduro dan istrinya. Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat juga mengeluarkan peringatan keras terhadap kemungkinan intervensi langsung di Iran terkait penindasan terhadap aksi protes di dalam negeri.
Langkah ini menandai dimulainya sebuah “model baru: mengakhiri rezim tirani secara langsung” sebagai instrumen kebijakan nyata Amerika Serikat. Amerika tidak lagi hanya mengandalkan sanksi, kecaman, dan tekanan tidak langsung, tetapi secara terbuka memasukkan intervensi militer langsung untuk mengakhiri kekuasaan tirani ke dalam kotak peralatan kebijakan luar negerinya.
Ini bukan hanya mengguncang rezim-rezim totaliter di seluruh dunia secara psikologis, tetapi juga memberikan peringatan mendalam terhadap model kediktatoran berteknologi tinggi yang dibangun oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Venezuela Berubah Rezim dalam Semalam
Menurut laporan banyak media internasional, pada 3 Januari 2026 dini hari, militer AS meluncurkan operasi besar dengan sandi “Operation Absolute Resolve.” Pentagon mengerahkan kekuatan besar di kawasan Karibia, termasuk satu kapal induk, 11 kapal perang, dan sejumlah jet tempur F-35, dengan total lebih dari 15.000 personel terlibat.
Operasi ini melibatkan lebih dari 150 pesawat yang lepas landas dari 20 pangkalan di belahan bumi barat, termasuk jet F-35, F-22, dan pembom B-1, yang terlebih dahulu menghancurkan sistem pertahanan udara Venezuela.
Selanjutnya, pasukan elite (termasuk Delta Force) memasuki Caracas dengan helikopter terbang rendah dan melaksanakan penangkapan terhadap pasangan Maduro di rumah aman mereka.
Presiden Trump menyaksikan langsung siaran operasi tersebut dari Mar-a-Lago di Florida. Dalam wawancara dengan Fox News ia mengatakan: “Saya pernah melakukan banyak operasi yang cukup bagus, tetapi saya belum pernah melihat operasi seperti ini.”
Dalam operasi itu, militer AS sempat memutus sebagian pasokan listrik Caracas untuk memastikan kelancaran serangan. Pasangan Maduro ditangkap saat mencoba melarikan diri ke ruang aman yang berpintu baja.
Tidak ada tentara AS yang tewas, hanya sedikit yang terluka, dan satu helikopter mengalami kerusakan. Keduanya kemudian dipindahkan ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima milik AS, lalu diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan terorisme narkotika dan berbagai kejahatan lainnya.
Amerika Mengambil Alih Venezuela Sementara
Dalam konferensi pers pada pagi 3 Januari, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan sementara “mengambil alih” Venezuela.
Ia berkata: “Kami akan mengelola negara ini sampai tercapai sebuah transisi yang aman, tepat, dan bijaksana.”
Trump juga berencana mengizinkan perusahaan-perusahaan minyak Amerika untuk mengambil alih infrastruktur energi Venezuela, menginvestasikan miliaran dolar untuk memperbaiki fasilitas yang rusak dan menciptakan kekayaan bagi negara tersebut, serta berharap “Venezuela kembali berjaya.”
Venezuela adalah negara pengekspor minyak tradisional yang selama lebih dari seratus tahun memiliki hubungan kerja sama minyak dengan Amerika Serikat. Namun, kebijakan era Hugo Chávez dan Maduro menyebabkan produksi minyak merosot tajam, sementara berbagai perusahaan Tiongkok masuk dalam skala besar ke sektor minyak Venezuela.
Latar Belakang Minyak dan Masuknya Modal Tiongkok
Pemimpin gerakan demokrasi Tiongkok di pengasingan, Sheng Xue mengatakan bahwa Venezuela selama ini merupakan eksportir minyak tradisional dan telah bermitra dengan Amerika lebih dari satu abad.
Hingga kini, ekspor minyak Venezuela masih sangat bergantung pada pasar Amerika sebagai importir besar. Namun, seiring pembatasan kebijakan Venezuela serta peralihan Amerika ke minyak Kanada, volume impor minyak Venezuela oleh perusahaan-perusahaan AS terus menurun. Dalam periode inilah pemerintah PKT dan perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai masuk besar-besaran ke Venezuela.
Ia menjelaskan bahwa minyak Venezuela sebagian besar adalah minyak sangat berat (kandungan karbon tinggi) yang memerlukan biaya lebih tinggi untuk eksploitasi, transportasi, dan pemurnian. Reformasi sistem yang dilakukan Chávez setelah berkuasa telah menyebabkan produksi minyak Venezuela terus menurun. Pada pertengahan 1990-an, perusahaan minyak nasional Venezuela (PDVSA) merupakan salah satu yang terkuat di benua Amerika, tetapi setelah restrukturisasi Chávez, kemampuan manajemen dan produksi perusahaan tersebut mulai melemah.
Preseden Sejarah dan Guncangan Global: Ketakutan Menjadi Kenyataan
Peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Taiwan, Shen Ming-shi, menyatakan bahwa ini bukan pertama kalinya Amerika Serikat menangkap kepala negara asing. Pada 1980-an, Presiden Panama Manuel Noriega ditangkap oleh pasukan khusus AS atas dugaan perdagangan narkoba dan kejahatan lainnya, lalu dibawa ke AS untuk diadili.
Shen memperkirakan bahwa setelah penangkapan Maduro, Venezuela kemungkinan akan membentuk pemerintahan sementara dan menggelar pemilu ulang. Pemimpin oposisi Maria Corina Machado—peraih Hadiah Nobel Perdamaian—memiliki peluang besar untuk menang.
Namun Sheng Xue menegaskan bahwa guncangan terbesar dari operasi ini terletak pada satu hal: ketakutan kini datang dari kenyataan, bukan lagi sekadar asumsi.
“Bagi rezim Maduro, ini bukan hanya akhir kekuasaan, tetapi juga simbol sejarah: sebuah rezim yang lama dianggap bagian dari ‘otoritarianisme sayap kiri’ dan ‘blok anti-Amerika’, dapat diakhiri secara cepat, tepat, dan menentukan tanpa perang besar dan tanpa tarik-uluran berkepanjangan,” ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa dampaknya melampaui Venezuela. Bagi semua rezim totaliter, otoriter, tirani komunis, dan pemerintahan teror, muncul pertanyaan baru: “Apakah penguasa tertinggi bisa menjadi objek yang dapat ditangkap, diserahkan, dan disingkirkan?”
Dampak sesungguhnya bukan di ranah militer, melainkan pada psikologi dan struktur kekuasaan internal rezim.
Iran Bisa Menjadi Target Berikutnya
Pengamat Politik Chen Pokong menyatakan bahwa Trump telah memberikan peringatan jelas kepada Iran. Jika Iran menindas demonstrasi damai, Amerika akan turun tangan menyelamatkan rakyat. “Senjata sudah dikokang.”
Aksi protes di Iran telah meluas ke 21 provinsi dan melumpuhkan aparat pemerintah. Ia menilai, rezim Iran sangat ketakutan dan kemungkinan besar Iran akan menjadi target berikutnya. Tahun 2026 diprediksi akan menjadi “panggung drama beruntun” bagi dunia.
Implikasi bagi Tiongkok: Tidak Serupa, Tapi Lebih Berbahaya dan Berkepanjangan
Banyak orang Tiongkok bertanya: “Apakah Tiongkok akan menjadi yang berikutnya?”
Sheng Xue menjawab: “Tidak akan seperti Venezuela atau Iran — bukan karena PKT lebih ‘sah’, tetapi karena situasinya jauh lebih kompleks dan berbahaya.”
Tiongkok memiliki senjata nuklir, sistem industri lengkap, posisi kunci dalam rantai pasok global, dan mesin negara raksasa. Setiap intervensi militer langsung berisiko menimbulkan bencana global.
Namun justru karena itu, kediktatoran Tiongkok menjadi yang paling berbahaya dan paling lama bertahan.
PKT telah membangun kediktatoran digital paling maju di abad ke-21: kamera pengawasan total, pengenalan wajah dan gaya berjalan, integrasi penuh data pribadi (ponsel, pembayaran, perjalanan, medis, sosial, komunikasi), prediksi AI terhadap potensi ancaman, sistem kredit sosial, kontrol unit kerja, hukuman kolektif keluarga, serta kemampuan penyensoran opini publik hingga tingkat individu.
“Masalah Tiongkok bukan rakyat tidak mau melawan, tetapi perlawanan telah diblokir secara teknologi.”
Model Perubahan Tiongkok dan Bentuk Tekanan Luar
Sheng Xue menegaskan bahwa perubahan Tiongkok lebih mungkin mengikuti model:
Tekanan eksternal → kerusakan struktur kekuasaan → retakan internal → pelonggaran lokal → runtuh berantai.
Ia memaparkan bentuk tekanan luar yang efektif:
- Intervensi teknologi & sistem: memutus akses PKT ke chip canggih, AI, teknologi pengawasan, data global, cloud, dan kolaborasi riset.
- Serangan finansial presisi: membekukan aset elite PKT, membuka kekayaan dan status luar negeri mereka.
- Pembukaan ruang informasi: menghancurkan monopoli informasi PKT.
- Deterensi militer kredibel dalam kondisi ekstrem: Venezuela menjadi preseden psikologis.
Penutup: Kedaulatan Tak Lagi Menjadi Tameng Tirani
Sheng Xue menyimpulkan: Dunia bebas tidak lagi menganggap kedaulatan sebagai tameng permanen bagi tirani. Biaya menoleransi tirani kini lebih mahal daripada biaya menentangnya.
Dan untuk pertama kalinya, para diktator dunia benar-benar mulai merasa tidak aman.


