EtIndonesia. Tentang “hukuman”, sejak aku masih sangat kecil, ayah pernah menceritakan sebuah kisah perumpamaan kepadaku.
Suatu hari, seekor kelinci bertemu dengan seekor tikus.
Kelinci menasihati tikus: “Kamu sering mencuri. Apa kamu tidak takut akan hukuman dari Tuhan?”
Tikus menjawab dengan santai : “Tuhan berada jauh di atas sana. Kami hanya mencuri hal-hal kecil. Mana mungkin Dia melihatnya?”
Dengan wajah serius, kelinci berkata : “Tuhan ada di mana-mana. Apa pun yang kalian lakukan, semuanya terlihat jelas oleh-Nya. Kalian pasti akan menerima hukuman yang setimpal.”
Tikus mengejek : “Hukuman? Hukuman apa yang akan Tuhan berikan kepada kami?”
Dengan suara tegas, kelinci menjawab : “Tuhan menciptakan kucing—itulah hukuman terbaik bagi kalian.”
Begitu mendengar kata “kucing”, tikus langsung lari tunggang-langgang ketakutan.
Ketika aku sedikit lebih besar, ayah kembali menceritakan sebuah kisah “hukuman” dalam kehidupan nyata.
Seorang pencuri bertanya kepada seorang bijak : “Jika seseorang melakukan kejahatan, apakah dia akan mendapat hukuman dari Tuhan?”
Orang bijak itu menjawab : “Tentu saja.”
Pencuri itu bertanya lagi : “Andaikan suatu hari aku berhasil mencuri banyak emas dan perak, dan perbuatan itu tidak pernah diketahui siapa pun, bukankah itu sesuatu yang patut disyukuri?”
Orang bijak bertanya balik : “Bagaimana mungkin kamu bisa benar-benar bahagia?”
Pencuri menjawab : “Aku memiliki begitu banyak harta. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?”
Orang bijak berkata dengan tenang : “Coba pikirkan: apakah kegembiraanmu itu berani kamu perlihatkan? Berani kamu ceritakan kepada orang lain? Sekalipun hatimu dipenuhi rasa senang, selama itu tidak bisa dibagikan kepada siapa pun, kebahagiaan itu justru berubah menjadi penderitaan. Dan itulah hukuman.”
Mendengar kata-kata itu, di dalam hati si pencuri tumbuh rasa takut dan hormat yang mendalam.
Kemudian, aku pun menjadi seorang ayah.
Suatu hari, anakku bertanya kepadaku : “Para pembohong terus-menerus berbohong, membuat orang lain tertipu dan menderita kerugian. Tapi apa kerugian bagi si pembohong sendiri? Hukuman apa yang dia terima?”
Aku berpikir sejenak, lalu menjawab : “Ketika seorang pembohong ingin mengatakan kebenaran, tetapi tidak lagi menemukan siapa pun yang mau mendengarkannya—itulah kerugiannya. Ketika dia ingin berkata jujur, tidak ada seorang pun yang mempercayainya—itulah hukumannya.”
Baik pencuri, pembohong, maupun orang jahat, pada akhirnya tidak perlu menunggu hukuman dari luar. Karena sesungguhnya, mereka telah menghukum diri mereka sendiri.(jhn/yn)


