EtIndonesia. Charles Schwab lahir di pedesaan Amerika Serikat dan hanya mengecap pendidikan formal dalam waktu yang sangat singkat. Pada usia 15 tahun, karena keluarganya hidup dalam kemiskinan, dia pergi ke sebuah desa pegunungan untuk bekerja sebagai penjaga kuda. Namun, meski hidup serba kekurangan, Schwab memiliki ambisi besar dan tak pernah berhenti mencari peluang baru.
Tiga tahun kemudian, Schwab bekerja di sebuah proyek pembangunan milik raja baja Andrew Carnegie. Begitu menginjakkan kaki di lokasi proyek, dia langsung bertekad untuk menjadi pekerja terbaik di antara rekan-rekannya. Saat para pekerja lain mengeluhkan kerasnya pekerjaan dan rendahnya upah hingga bekerja asal-asalan, Schwab justru diam-diam mengumpulkan pengalaman kerja dan belajar sendiri ilmu teknik konstruksi.
Suatu malam, ketika para pekerja lain asyik mengobrol, Schwab terlihat menyendiri di sudut, membaca buku. Kebetulan, manajer perusahaan datang memeriksa lokasi. Dia melirik buku yang dipegang Schwab, membuka catatan yang ditulisnya, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.
Keesokan harinya, manajer memanggil Schwab ke kantornya dan bertanya: “Mengapa kamu mempelajari semua itu?”
Dengan tenang Schwab menjawab : “Menurut saya, perusahaan kita tidak kekurangan tenaga kerja. Yang kurang adalah orang-orang yang memiliki pengalaman kerja sekaligus pengetahuan profesional—tenaga ahli atau manajer, bukan?”
Manajer itu terdiam, mengangguk pelan, lalu menatap serius pemuda sederhana di hadapannya. Tak lama kemudian, Schwab dipromosikan menjadi teknisi.
Beberapa rekan kerjanya mengejek dan menyindirnya.
Schwab menjawab: “Aku bukan sekadar bekerja untuk bos, dan bukan semata-mata demi uang. Aku bekerja untuk impianku sendiri, untuk masa depanku. Kita hanya bisa meningkatkan nilai diri lewat kinerja. Aku ingin nilai yang kuhasilkan dari pekerjaanku jauh melampaui gaji yang kuterima. Hanya dengan begitu aku akan dipercaya dan mendapatkan kesempatan.”
Dengan keyakinan itu, Schwab terus naik jabatan hingga menjadi kepala insinyur. Pada usia 25 tahun, dia diangkat sebagai manajer umum perusahaan baja tersebut dan memikul tanggung jawab besar untuk membangun pabrik baja terbesar—Brad Steel Works. Berkat kerja keras luar biasa, dua tahun kemudian dia menjadi direktur pabrik, dan perlahan-lahan menjelma sebagai tokoh kunci dalam perusahaan baja milik Carnegie. Beberapa tahun berselang, Carnegie menunjuknya sebagai ketua perusahaan.
Pada tahun ketujuh masa jabatannya sebagai ketua, taipan besar yang menguasai jalur kereta api Amerika, J. P. Morgan, mengajukan kerja sama pengelolaan industri baja dengan Carnegie. Awalnya, Carnegie mengabaikannya. Morgan lalu menyebarkan kabar bahwa jika Carnegie menolak, dia akan bekerja sama dengan perusahaan baja terbesar kedua saat itu, Bethlehem Steel. Mendengar itu, Carnegie menjadi cemas karena aliansi tersebut jelas akan mengancam usahanya.
Suatu hari, Carnegie menyerahkan selembar daftar persyaratan kepada Schwab dan berkata: “Berdasarkan syarat-syarat ini, pergilah dan bicarakan kerja sama dengan Morgan.”
Schwab membaca daftar itu sekilas, lalu tersenyum dan berkata: “Anda memang memiliki keputusan akhir. Namun izinkan saya menyampaikan bahwa jika negosiasi dilakukan dengan syarat-syarat ini, Morgan pasti setuju—tetapi Anda akan kehilangan banyak uang. Sepertinya Anda belum meneliti masalah ini sedetail saya.”
Setelah menganalisis ulang, Carnegie mengakui bahwa dia terlalu melebihkan posisi Morgan. Dia pun memberi Schwab wewenang penuh untuk bernegosiasi. Hasilnya, Schwab berhasil mendapatkan syarat kerja sama yang sangat menguntungkan pihak Carnegie.
Merasa dirugikan, Morgan berkata: “Kalau begitu, minta Carnegie datang ke kantor saya besok untuk menandatangani perjanjian.”
Keesokan paginya, Schwab justru datang sendiri ke kantor Morgan dan menyampaikan pesan Carnegie: “Jarak dari Jalan 51 ke Wall Street sama persis dengan jarak dari Wall Street ke Jalan 51.”
Morgan terdiam lama, lalu berkata : “Baiklah, aku yang akan datang.”
Morgan belum pernah merendahkan diri dengan mendatangi kantor orang lain. Namun kali ini, dia berhadapan dengan seseorang yang sepenuhnya bekerja demi misinya—Schwab—sehingga dia pun harus menurunkan kepala yang penuh kesombongan itu.
Pada akhirnya, Schwab mendirikan sendiri perusahaan baja raksasa Bethlehem Steel, menciptakan prestasi luar biasa, dan benar-benar menuntaskan lompatan besar dalam hidupnya—dari seorang buruh menjadi seorang pengusaha besar.(jhn/yn)


