EtIndonesia. Kerusuhan sosial besar-besaran yang dipicu oleh keruntuhan ekonomi Iran kini telah memasuki hari kedelapan, menandai salah satu gelombang protes terluas dan paling intens dalam beberapa tahun terakhir. Situasi di dalam negeri Iran terus memburuk, sementara dari luar negeri, Amerika Serikat mulai menunjukkan sinyal tekanan militer dan politik yang semakin jelas.
AS Kerahkan Pesawat Angkut Strategis ke Timur Tengah
Sejumlah data intelijen sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT) yang dirilis pada awal Januari 2026 menunjukkan bahwa militer Amerika Serikat tengah mengonsentrasikan pesawat angkut strategis dalam jumlah besar menuju kawasan Timur Tengah. Pergerakan ini mencakup pesawat logistik jarak jauh yang umumnya digunakan untuk pengangkutan pasukan, peralatan berat, serta dukungan operasi militer skala besar.
Pada saat yang hampir bersamaan, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengambil langkah yang sangat jarang dilakukan: dia menyampaikan peringatan langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menggunakan bahasa Persia, melalui platform resmi Pemerintah AS.
Langkah ini dinilai para analis sebagai sinyal psikologis dan strategis yang kuat, menandakan bahwa Washington tengah menyiapkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan operasi militer dengan intensitas lebih tinggi jika situasi Iran terus memburuk.
Protes Menyebar ke 25 Provinsi, Ratusan Ditangkap
Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang dirilis pada 4 Januari 2026, gelombang protes di Iran telah:
- Menyebar ke 174 wilayah
- Mencakup 60 kota
- Terjadi di 25 dari total 31 provinsi
Aksi yang terjadi tidak hanya berupa demonstrasi jalanan, tetapi juga mogok kerja, penutupan pasar, serta perlawanan terbuka terhadap aparat keamanan.
Dalam kurun waktu satu pekan terakhir:
- Sedikitnya 582 orang dilaporkan ditangkap
- 16 orang dipastikan tewas
Namun, HRANA menegaskan bahwa angka ini kemungkinan besar jauh di bawah jumlah sebenarnya, mengingat pembatasan ketat terhadap media, pemadaman internet di sejumlah wilayah, serta tekanan keamanan yang masif.
Basis Garda Revolusi Dibakar, Momen Disebut “Bersejarah”
Pada 4 Januari 2026, sejumlah video yang beredar luas di platform X (dulu Twitter) memperlihatkan massa warga Iran menyerbu dan membakar beberapa fasilitas milik Garda Revolusi Iran (IRGC). Dalam rekaman tersebut, tampak para demonstran melempar batu, merusak bangunan, dan menyalakan api di sekitar basis militer.
Banyak warganet Iran maupun internasional menyebut peristiwa ini sebagai “momen bersejarah”, karena untuk pertama kalinya dalam skala besar, simbol kekuasaan utama rezim Iran diserang secara langsung oleh rakyatnya sendiri.
Laporan Intelijen: Khamenei Siapkan Rencana Kabur ke Moskow
Masih pada 4 Januari 2026, harian Inggris The Times mengutip laporan intelijen Barat yang menyebutkan bahwa Ali Khamenei telah menyiapkan rencana darurat.
Menurut laporan tersebut:
- Jika kerusuhan nasional semakin meluas
- Jika pasukan keamanan mulai membangkang atau kehilangan loyalitas
- Maka Khamenei disebut-sebut akan melarikan diri ke Moskow
Langkah ini disebut meniru preseden mantan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, yang sebelumnya mengamankan diri ke Rusia di tengah krisis besar di negaranya. Laporan yang sama juga menyebutkan bahwa sejumlah aset milik Khamenei telah lebih dahulu dipindahkan ke luar negeri.
Retorika Keras Khamenei dan Respons Tajam Elon Musk
Meski menghadapi tekanan besar, Khamenei tetap menampilkan sikap keras di hadapan publik. Pada 3 Januari 2026, bertepatan dengan hari penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat, Khamenei menulis di platform X: “Kami tidak akan menyerah kepada musuh.”
Namun, pernyataan tersebut segera mendapat respons tajam dari Elon Musk. Pada 4 Januari 2026, Musk membalas unggahan tersebut dalam bahasa Persia dengan kalimat singkat namun menyengat: “Bermimpi di siang bolong!”
Unggahan itu viral dan dalam waktu singkat meraih lebih dari 16 juta tayangan, memperkuat tekanan psikologis terhadap kepemimpinan Iran di tengah krisis.
Peringatan Terbuka AS: “Kesempatan Itu Telah Hilang”
Pada 3 Januari 2026, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth kembali mengambil langkah tidak biasa dengan menyampaikan pernyataan resmi dalam bahasa Persia, secara langsung menyasar kepemimpinan Iran.
Dalam pernyataannya, Hegseth menyebut bahwa Maduro sebenarnya pernah memiliki kesempatan untuk memilih jalan lain, sama seperti yang pernah dimiliki Iran. Namun, menurutnya, kesempatan tersebut kini telah hilang.
Dia menegaskan: “Mereka telah membuat pilihan, dan sekarang mereka melihat konsekuensinya.”
Banyak pengamat dan warganet menilai bahwa pesan tersirat dari pernyataan ini merupakan peringatan keras kepada Ali Khamenei: jika dia tidak segera mundur atau pergi, maka pada akhirnya dia mungkin tidak lagi memiliki kesempatan untuk pergi sama sekali.


