EtIndonesia. Ada seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah rumah reyot di kawasan kumuh. Dari tujuh bersaudara, tubuhnya paling kurus dan lemah, sering terserang flu dan demam. Dia juga tampak kurang berbakat dalam pelajaran; nilai akademiknya adalah yang terburuk di antara ketujuh anak itu.
Suatu hari, dia menonton sebuah acara televisi yang memperkenalkan pegolf terhebat sepanjang sejarah, Jack Nicklaus. Seketika hatinya tersentuh.
Dia berkata dalam hati : “Aku juga ingin menjadi seperti Nicklaus—menjadi pegolf profesional yang hebat!”
Dia pun meminta ayahnya membelikan bola dan stik golf.
Ayahnya berkata: “Nak, keluarga kita tidak mampu bermain golf. Itu olahraga orang-orang kaya.”
Namun dia tidak menyerah dan terus memohon.
Sang ibu memeluknya, lalu berkata kepada ayahnya: “Aku percaya padanya. Dia pasti bisa menjadi pegolf yang hebat.”
Kemudian ibu menoleh kepadanya dengan lembut dan berkata : “Nak, kalau kelak kamu menjadi pegolf profesional, belikan ibu sebuah vila, ya?”
Anak itu membuka matanya lebar-lebar dan mengangguk kuat kepada ibunya.
Ayahnya lalu membuatkan sebuah stik golf sederhana, dan menggali beberapa lubang di tanah kosong depan rumah. Setiap hari, anak itu berlatih sebentar menggunakan bola-bola bekas yang dia pungut.
Saat masuk sekolah menengah, dia bertemu guru olahraga yang kelak mengubah hidupnya—Rich Feldman.
Feldman menemukan bakat besar dalam diri remaja kulit hitam ini. Dia menyarankan agar anak itu berlatih di klub golf, bahkan membantu membayar sepertiga dari biaya latihan. Hanya dalam waktu tiga bulan, dia sudah menjadi juara golf remaja Kota Orlando.
Setelah lulus SMA, dia diterima di Stanford University. Pada liburan musim panas, seorang sahabat datang berkunjung dan bercerita bahwa perusahaan pariwisata tempat kakaknya bekerja sedang merekrut pelayan kapal pesiar mewah, dengan gaji tinggi—500 dolar AS per minggu. Dia pun tergoda. Keluarganya masih miskin, dan dia merasa sudah saatnya bertanggung jawab membantu keluarga seperti seorang pria dewasa.
Beberapa hari kemudian, Rich Feldman datang ke rumahnya. Sang guru telah menghubunginya dengan sebuah klub golf dan berencana membawanya tampil untuk membangun nama. Dengan rasa sungkan, pemuda itu memberi tahu gurunya bahwa dia berniat menerima pekerjaan tersebut.
Rich Feldman terdiam sejenak, lalu bertanya: “Anakku, apa sebenarnya mimpimu?”
Dia tertegun, tampak tak siap dengan pertanyaan itu.
Setelah cukup lama, dengan wajah memerah dia berkata: “Menjadi pegolf seperti Nicklaus, menghasilkan banyak uang, dan membelikan ibu sebuah vila yang indah.”
Mendengar itu, Rich Feldman berkata dengan tenang namun tajam: “Kalau sekarang kamu memilih bekerja, lalu bagaimana dengan mimpimu? Benar, kamu bisa langsung mendapat 500 dolar per minggu—itu memang mengagumkan. Tapi, apakah mimpimu hanya bernilai 500 dolar per minggu?”
Kata-kata itu mengguncang batin pemuda 18 tahun tersebut. Dia duduk terpaku di dalam rumah, terus mengulang-ulang perkataan gurunya dalam hati. Liburan musim panas itu dia habiskan sepenuhnya untuk berlatih dengan disiplin. Pada Kejuaraan Golf Amatir Nasional Amerika Serikat tahun itu, dia menjadi juara termuda dalam sejarah turnamen tersebut.
Tiga tahun kemudian, dia resmi menjadi pegolf profesional.
Dia kemudian dikenal sebagai salah satu pegolf terhebat sepanjang masa, menciptakan legenda dalam dunia golf.
Pada tahun 1999, dia menjadi pegolf peringkat nomor satu dunia. Pada tahun 2002, dia menjadi pegolf pertama sejak era Jack Nicklaus (1972) yang secara beruntun menjuarai berbagai turnamen besar Amerika Serikat. Sejak debut profesionalnya pada 1996, dia telah meraih total 39 gelar juara.
Kini, dengan pendapatan tahunan sekitar 100 juta dolar AS, dia menjadi salah satu atlet dengan penghasilan tertinggi di dunia. Dia telah membelikan ibunya enam vila, yang tersebar di berbagai lokasi.
Dia adalah Tiger Woods.
Hikmah Cerita:
Seseorang seharusnya mengerahkan seluruh upaya dan menggali setiap potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan mimpi. Berusaha mungkin berakhir dengan kegagalan, tetapi menyerah berarti tidak akan pernah berhasil.
Cobalah berlari mengejar mimpi seperti Woods. Siapa tahu, suatu hari nanti, kamu juga bisa membelikan ibumu enam vila.(jhn/yn)


