Memanfaatkan Sifat Egois

EtIndonesia. Seorang psikolog di Amerika Serikat pernah melakukan sebuah eksperimen menarik di sebuah kolam renang terbuka. Dia sengaja mengatur berbagai skenario orang yang “tenggelam”, lalu mengamati berapa banyak orang yang akan terjun untuk menolong. Hasilnya cukup menggelitik dan mengundang renungan.

Dalam eksperimen yang berlangsung selama satu tahun itu, ketika yang “tenggelam” adalah seorang lansia berambut putih, tercatat 20 orang yang melakukan penyelamatan. Ketika yang “tenggelam” adalah seorang anak, jumlah penolong meningkat menjadi 32 orang. Namun saat yang “tenggelam” adalah seorang wanita muda, jumlah orang yang melompat untuk menolong melonjak hingga 50 orang.

Psikolog tersebut menyimpulkan bahwa eksperimen ini membuktikan adanya kecenderungan egois dalam sifat manusia. Meskipun secara lahiriah sama-sama menolong orang, pada detik seseorang melompat ke air, sesungguhnya ada dorongan batin tertentu yang memengaruhi keputusan itu.

Eksperimen ini mengingatkan pada sebuah kisah nyata di sekitar kita. Ada seorang karyawan yang terkenal sangat pelit. Setiap kali perusahaan mengadakan penggalangan dana, dia paling banyak hanya menyumbang satu yuan. Namun yang mengejutkan, baru-baru ini dia menjalin hubungan bantuan pendidikan dengan seorang siswa miskin di daerah pegunungan Zhejiang Utara, dan kali ini dia langsung mengeluarkan 1.000 yuan sekaligus.

Sebenarnya, di dalam hati setiap orang terdapat kecenderungan bawah sadar yang berlandaskan pada kepentingan diri sendiri. Terus terang saja, dibandingkan banyak orang bersama-sama membantu satu orang, membantu satu orang secara langsung jauh lebih memberikan rasa pencapaian dan harapan akan “imbalan” batin.

Manusia adalah “makhluk egois”, dan itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Yang penting bukanlah menentang sifat ini, melainkan memahami dan memanfaatkannya dengan bijak.

Di pinggiran sebuah kota terdapat sebuah waduk yang setiap musim panas selalu dipenuhi para perenang. Padahal waduk tersebut merupakan sumber utama air baku bagi perusahaan air minum kota. Demi menjaga kebersihan air, pihak pengelola memasang banyak papan bertuliskan “Dilarang Berenang”. Namun hasilnya tidak memuaskan—orang-orang tetap berenang seperti biasa.

Kemudian, pihak pengelola mengganti semua papan larangan itu. Kali ini, papan pengumuman berbunyi: “Air yang Anda gunakan berasal dari sini. Demi kesehatan Anda dan keluarga, mohon jaga kebersihan.”

Hasilnya sangat berbeda. Hampir tidak ada lagi orang yang berenang di waduk tersebut.

Renungan / Hikmah Cerita

Sisi egois dalam diri manusia adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Yang perlu kita lakukan adalah menciptakan suasana “aku untuk semua, semua untuk aku”.

Kita tentu tahu bahwa dunia membutuhkan pengorbanan dan ketulusan. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, terlalu menekankan sikap “tanpa pamrih” justru sering kali tidak menghasilkan dampak yang efektif. Memahami sifat manusia, lalu mengarahkannya ke tujuan yang baik—itulah kebijaksanaan sejati.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine