Antara Uang dan Kehidupan

EtIndonesia. Seorang kaya raya mendatangi seorang filsuf dan bertanya mengapa setelah memiliki banyak uang, hatinya justru menjadi semakin sempit dan kikir. 

Sang filsuf membawanya ke dekat jendela, lalu bertanya: “Coba lihat ke luar. Apa yang kamu lihat?”

Orang kaya itu menjawab: “Aku melihat banyak orang di dunia luar.”

Filsuf kemudian mengajaknya berdiri di depan sebuah cermin dan bertanya lagi: “Sekarang, apa yang kamu lihat?”

“Aku melihat diriku sendiri,” jawabnya.

Filsuf tersenyum dan berkata: “Jendela dan cermin sama-sama terbuat dari kaca. Bedanya, cermin dilapisi oleh selapis tipis perak. Justru karena lapisan perak itulah, kamu hanya bisa melihat diri sendiri dan tak lagi melihat dunia.”

Banyak orang tahu bahwa John D. Rockefeller adalah seorang dermawan besar. Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa dia pun pernah tertutup matanya oleh ‘lapisan perak’ itu.

Rockefeller lahir dari keluarga miskin. Pada masa awal merintis usaha, dia dikenal rajin dan tekun, bahkan dipuji sebagai pemuda yang baik. Namun ketika dia telah menjadi orang terkaya di zamannya, dia berubah menjadi serakah dan dingin. 

Penduduk wilayah ladang minyak di Pennsylvania menderita akibat kebijakannya dan membencinya setengah mati. Sebagian warga bahkan membuat patung kayu menyerupai dirinya lalu “menghukum gantung” patung itu untuk meluapkan amarah. Surat ancaman penuh kebencian membanjiri kantornya. Bahkan saudara kandungnya sendiri merasa malu atas perbuatannya dan memindahkan makam anaknya dari pemakaman keluarga Rockefeller, dengan alasan bahwa di tanah yang dikuasai Rockefeller, sang anak tak akan bisa beristirahat dengan tenang.

Paruh pertama hidup Rockefeller berlalu dalam keterasingan dan permusuhan. Pada usia 53 tahun, penyakit menyerangnya bertubi-tubi. Tubuhnya kurus kering seperti mumi. Para dokter menyampaikan kenyataan pahit: dia harus memilih satu di antara tiga hal—uang, kecemasan, atau kehidupan.

Saat itulah dia mulai menyadari bahwa dirinya telah dikendalikan oleh iblis keserakahan. Dia menuruti nasihat dokter, pensiun, belajar bermain golf, menonton komedi di teater, dan sering mengobrol santai dengan tetangga. Dia mulai menjalani hidup sederhana yang damai dan tanpa persaingan.

Kemudian, Rockefeller mulai memikirkan cara menyumbangkan kekayaannya yang luar biasa besar. Pada awalnya, banyak orang menolak, menganggap itu uang kotor. Namun dengan ketulusan dan konsistensinya, perlahan orang-orang mulai percaya.

Ketika sebuah sekolah di tepi Danau Michigan hampir bangkrut, dia menyumbangkan jutaan dolar—yang kelak melahirkan Universitas Chicago. Rumah Sakit Peking Union Medical College (Xiehe Hospital) di Beijing juga dibangun berkat dana dari Yayasan Rockefeller. 

Pada tahun 1932, saat wabah kolera melanda Tiongkok, bantuan yayasan ini memungkinkan penyediaan vaksin yang cukup sehingga bencana besar dapat dicegah. Selain itu, Rockefeller juga mendirikan berbagai lembaga kesejahteraan dan membantu komunitas kulit hitam. Sejak saat itu, pandangan dunia terhadapnya pun berubah.

Pada paruh pertama hidupnya, Rockefeller tersesat oleh uang. Pada paruh kedua, dengan menghamburkan kekayaan demi kemanusiaan, dia kembali menemukan jalan kehidupan yang benar. 

Sepanjang hidupnya, dia menghasilkan setidaknya 1 miliar dolar, dan menyumbangkan 750 juta dolar di antaranya. Dia menghabiskan satu kehidupan penuh untuk menemukan kembali dunia yang pernah hilang—dunia yang berisi ketenangan, kebahagiaan, kesehatan, umur panjang, serta penghormatan dan cinta dari sesama, hal-hal yang tak bisa dibeli dengan uang.

Rockefeller wafat pada usia 98 tahun, tanpa penyesalan.

Renungan / Hikmah Cerita

Kita tidak perlu menempuh jalan berliku sepanjang hidup seperti Rockefeller untuk memahami makna sejati kehidupan. Selama kita tidak menjauh dari kebenaran, kebaikan, dan keindahan; selama kita tidak diperbudak oleh uang, maka dunia ini tetap milik kita.

Dan hati yang tak ternodai oleh bau tembaga—suatu hari akan sejernih bulan purnama, memantulkan cahaya yang indah bersama dunia yang juga indah.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine