EtIndonesia. Sebelum pesawat lepas landas, seorang penumpang meminta pramugari untuk mengambilkan segelas air agar dia bisa minum obat.
Dengan sopan, pramugari itu menjawab: “Pak, demi keselamatan Anda, mohon menunggu sebentar. Setelah pesawat mencapai kondisi terbang stabil, saya akan segera mengantarkan air untuk Anda. Apakah tidak apa-apa?”
Lima belas menit kemudian, pesawat telah lama berada dalam kondisi terbang stabil. Tiba-tiba, bel panggilan penumpang berbunyi dengan nada mendesak.
Sang pramugari tersentak dan langsung teringat: “Astaga… karena terlalu sibuk, aku lupa mengantarkan air untuk penumpang itu!”
Dia segera menuju kabin, dengan hati-hati membawa segelas air ke hadapan penumpang tersebut.
Sambil tersenyum, dia berkata dengan tulus: “Pak, saya benar-benar minta maaf. Karena kelalaian saya, waktu Anda untuk minum obat jadi tertunda. Saya sungguh mohon maaf.”
Namun penumpang itu mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke arlojinya, lalu berkata dengan nada kesal: “Ada apa ini? Pelayanan macam apa ini? Coba lihat, sudah berapa lama saya menunggu!”
Pramugari itu memegang gelas air dengan perasaan sangat sedih dan tertekan. Dia merasa amat bersalah. Tetapi, sekeras apa pun dia berusaha menjelaskan, penumpang yang sangat cerewet itu tetap tidak mau memaafkan kelalaiannya.
Sepanjang sisa penerbangan, demi menebus kesalahannya, setiap kali pramugari masuk ke kabin untuk melayani penumpang, dia selalu sengaja mendatangi pria tersebut. Dengan senyum yang sama tulusnya, dia bertanya apakah dia membutuhkan air atau bantuan lain.
Namun kemarahan penumpang itu belum mereda. Dia bersikap dingin dan tidak kooperatif, bahkan sama sekali tidak menanggapi pramugari tersebut.
Menjelang pesawat tiba di tujuan, penumpang itu meminta agar buku pesan dan saran diserahkan kepadanya. Jelas sekali, dia berniat mengajukan keluhan terhadap pramugari itu.
Saat itu, meskipun hatinya terasa sangat perih, pramugari tersebut tetap menjaga profesionalismenya.
Dia bersikap sangat sopan dan tetap tersenyum seraya berkata: “Pak, izinkan saya sekali lagi menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Apa pun pendapat atau kritik yang ingin Anda sampaikan, saya akan menerimanya dengan lapang dada.”
Wajah penumpang itu tampak menegang. Bibirnya seolah hendak berkata sesuatu, tetapi akhirnya dia tidak mengatakan apa pun. Dia mengambil buku pesan dan mulai menulis.
Pesawat pun mendarat dengan selamat. Setelah semua penumpang turun, pramugari membuka buku pesan tersebut. Dia sangat terkejut—yang tertulis di sana bukanlah surat keluhan, melainkan sebuah surat pujian yang penuh kehangatan.
Apa yang membuat penumpang cerewet itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengajukan keluhan?
Di dalam surat tersebut tertulis kalimat ini:
“Sepanjang kejadian itu, ketulusan permintaan maaf Anda—terutama dua belas senyuman Anda—sangat menyentuh hati saya. Itulah yang membuat saya akhirnya mengubah surat keluhan menjadi surat pujian. Kualitas pelayanan Anda sangat baik. Jika ada kesempatan di lain waktu, saya pasti akan kembali menggunakan penerbangan ini.”
Pesan cerita
Senyuman yang tulus mampu menebus kesalahan, mencairkan kesalahpahaman, dan meluruhkan rasa kecewa maupun kebencian dalam hidup. Ketika kamu menghadirkan senyum yang jujur kepada orang lain, mereka pun akan membalasnya dengan kehangatan dan kepedulian yang sama.
Jangan pelit dengan senyummu. Biarkan di bibirmu mekar setangkai bunga yang indah—maka dunia pun akan ikut menjadi lebih indah karenanya.(jhn/yn)


