Jurnalis Inggris yang Meliput Pemogokan Massal di Shenzhen, Tiongkok Dibawa Pergi Secara Paksa oleh Polisi

EtIndonesia. Pada 12 Januari 2026, Sky News Inggris melaporkan bahwa tim berita mereka di Tiongkok mengalami kejadian menegangkan saat meliput di Shenzhen. Para jurnalis dipaksa dibawa pergi oleh polisi Partai Komunis Tiongkok (PKT), sementara peralatan pengambilan gambar mereka disita di lokasi.

Insiden tersebut terjadi di Shenzhen, di sebuah perusahaan elektronik bernama “Yilisheng” yang terutama memproduksi headphone dan perangkat audio lainnya. Pada hari itu, aksi mogok para pekerja di perusahaan tersebut telah memasuki hari keempat. 

Reporter Sky News yang berada di lokasi melihat ratusan pekerja mengenakan seragam kerja biru turun ke jalan, sementara puluhan polisi dan petugas keamanan berjaga ketat di sekitar area. Suasana sangat tegang, dan siapa pun yang mendekat akan diperingatkan agar tidak mengambil gambar.

Reporter Sky News, Helen-Ann Smith, menggambarkan situasi di lokasi seperti sebuah konfrontasi:  “Satu pihak ingin menyuarakan pendapatnya, sementara pihak lain berusaha membuat suara-suara itu menghilang.”

Ia menambahkan bahwa,  “Meski Tiongkok (PKT) berusaha menutup-nutupi, frekuensi konfrontasi semacam ini sebenarnya meningkat dengan sangat tajam.”

Para pekerja menyatakan bahwa perusahaan telah memindahkan sebagian besar kapasitas produksi ke luar negeri, sehingga jam kerja mereka berkurang dan pendapatan turun drastis. Mereka mengatakan tidak lagi mampu bertahan hidup di kota dengan biaya hidup tinggi seperti Shenzhen. Seorang pekerja perempuan bahkan menangis sambil mengatakan bahwa bulan lalu ia hanya menerima gaji 1.900 yuan, yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Ketika Smith mendekati kerumunan, para pekerja menyadari bahwa mereka adalah media asing dan langsung bersorak, meneriakkan slogan, bahkan ada yang mengangkat kepalan tangan. Namun tak lama kemudian, beberapa pria bergegas maju untuk menutupi kamera, menyita peralatan, dan memaksa para jurnalis naik ke dalam kendaraan.

Smith kemudian mengatakan bahwa meskipun ia tidak mengalami kekerasan fisik, momen tersebut benar-benar membuatnya takut. Ia juga semakin menyadari betapa negara ini tidak ingin dunia melihat aksi protes yang terjadi di dalam wilayahnya.

Ia menegaskan bahwa sulitnya merekam aksi protes di Tiongkok tidak berarti bahwa aksi semacam itu jarang terjadi.

Sky News menekankan bahwa ketidakpuasan di kalangan masyarakat Tiongkok tengah meningkat tajam, hanya saja dunia luar sulit melihat gambaran sebenarnya. Alasannya sederhana: begitu aksi protes muncul, biasanya segera ditekan oleh pihak berwenang; media lokal tidak akan memberitakannya, dan video serta informasi di internet akan dengan cepat dihapus oleh pasukan siber PKT.

Menurut statistik dari lembaga riset cabang organisasi non-pemerintah Amerika Serikat Freedom House, yakni China Dissent Monitor (CDM), hanya dalam 11 bulan pertama tahun 2025 saja, telah terjadi lebih dari 5.000 aksi protes di Tiongkok—melonjak hampir 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sekitar 85 persen di antaranya berkaitan dengan masalah ekonomi.

Para peneliti menyatakan bahwa jumlah aksi protes yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih banyak daripada yang berhasil dicatat dalam statistik saat ini. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine