Kematian Misterius Seorang Siswi SMP di Provinsi Henan, Tiongkok, Protes Publik Diredam Hingga Anggota Keluarga Hilang

Baru-baru ini, pihak berwenang merilis dua pengumuman resmi secara berurutan. Seorang siswa SMP berusia 13 tahun di Provinsi Henan, Tiongkok  meninggal dunia secara mencurigakan. 

Setelah kejadian, keluarga korban menuntut kebenaran namun justru menghadapi pemblokiran total, sementara sejumlah besar polisi bersenjata dikerahkan dan ditempatkan di lingkungan sekolah. Pihak berwenang juga dengan tergesa-gesa menetapkan kesimpulan kasus. Namun, pada jenazah bocah tersebut ditemukan luka aneh berupa lubang seperti bekas paku di area jantung, yang memicu keraguan luas dari publik.

 Pihak luar menilai kasus ini penuh kejanggalan dan memiliki kemiripan tinggi dengan kasus Hu Xinyu. Selain itu, baru-baru ini di Tiongkok daratan beredar dua surat terbuka berjudul “Surat kepada Sesama Rakyat” yang menyerukan masyarakat untuk sadar dan bangkit melawan tirani Partai Komunis Tiongkok (PKT).

 “Lihatlah, di Qinghuayuan bisa terjadi hal seperti ini. Anak saya meninggal di sekolah, sekarang kami tidak diizinkan bertemu siapa pun, kami terus dihalangi,” ujar keluarga korban. 

EtIndonesia. Pada 12 Januari 2026, informasi yang beredar di media sosial luar negeri menyebutkan bahwa setelah seorang siswa bermarga Zhu dari Sekolah Menengah Atas Jinshi Qinghuayuan di Kabupaten Xincai, Kota Zhumadian, Henan, Tiongkok, meninggal dunia secara mencurigakan, keluarganya menuntut kejelasan. 

Warga kemudian datang memberikan dukungan, namun pihak berwenang mengerahkan sejumlah besar polisi bersenjata untuk menindas aksi tersebut, mengepung sekolah dengan ketat. Bukan hanya jalan raya yang diblokir, bahkan pengacara yang disewa keluarga untuk melakukan penyelidikan independen juga dihalangi masuk ke sekolah; ponselnya dirusak oleh petugas, dan informasi akun media sosialnya dihapus.

Wu Shaoping, Ketua Aliansi Pengacara HAM Luar Negeri:  “Ini jelas upaya untuk menutupi fakta kejahatan. Penutupan itu termasuk mengerahkan polisi bersenjata dalam jumlah besar ke lokasi, menggunakan kekuatan untuk mencegah masyarakat mencari kebenaran.”

Menurut warga setempat, keluarga korban telah dikendalikan oleh pihak berwenang, dan video-video yang diunggah warga ke internet juga dihapus.

Orang tua di Henan, bermarga Liu:  “Keluarga korban sudah tidak bisa ditemukan. Video-video di internet menghilang. Apa pun yang diunggah dari Henan, entah dibatasi jangkauannya atau langsung dihapus, bahkan akun-akunnya dimatikan.”

Peristiwa ini terjadi pada 8 Januari. Pihak sekolah berusaha memindahkan jenazah dengan cepat tanpa kehadiran orang tua, namun upaya tersebut berhasil dicegah oleh kerabat korban yang segera datang.

Setelah orang tua korban tiba, dan melalui protes selama beberapa jam, mereka akhirnya diizinkan melihat jenazah anak tersebut. Namun, mereka menemukan darah di sudut mulut anak, serta sebuah lubang mencurigakan sebesar paku di bagian dada, sehingga penyebab kematian pun dipertanyakan.

Warga daratan Tiongkok :  “Keluarga hanya ingin penjelasan. Anak itu meninggal di sekolah, bagaimana bisa meninggal? Tidak satu pun orang yang keluar memberikan keterangan. Saya sudah melihat video anak itu, tapi sekarang sudah tidak bisa ditemukan, banyak yang dihapus. Apa sebenarnya lubang seperti bekas jarum di posisi jantung itu?”

Namun, dalam waktu kurang dari 24 jam, Biro Pendidikan setempat—menggantikan peran kepolisian—dengan tergesa-gesa merilis pengumuman yang menyatakan bahwa berdasarkan penyelidikan awal, kasus pidana telah dikesampingkan.

Wu Shaoping:  “Dalam seluruh pengumuman itu, mereka sama sekali tidak menjelaskan mengapa anak itu meninggal atau apa penyebab kematiannya. Tidak ada penjelasan apapun kepada publik. Jelas kami menilai ada sesuatu yang tidak berani mereka ungkapkan kepada masyarakat.”

Dua hari kemudian, apa yang disebut sebagai tim investigasi gabungan Kabupaten Xincai kembali merilis pengumuman yang menyatakan bahwa berdasarkan pemeriksaan dan konsultasi medis, Zhu meninggal akibat penyakit jantung. Mengenai lubang jarum di dada kiri, diklaim sebagai bekas pengambilan darah oleh dokter forensik untuk pemeriksaan toksikologi; sedangkan cairan merah di sudut mulut disebut sebagai cairan tubuh yang keluar saat jenazah dipindahkan.

Namun, penjelasan ini menuai bantahan luas. Sejumlah profesional medis menulis bahwa lubang bulat di dada korban lebih menyerupai bekas tusukan jarum besar yang langsung menembus jantung untuk mengambil darah. Ada pula yang menyebutkan bahwa tindakan menusuk darah jantung di area tersebut biasanya muncul dalam eksperimen yang membutuhkan sampel dengan aktivitas biologis tinggi dalam waktu singkat. Pihak luar menilai ini sebagai kasus Hu Xinyu yang terulang kembali.

Orang tua dari Xincai, bermarga Qi:  “Ini adalah sebuah rantai industri, mereka tidak menganggap rakyat biasa sebagai manusia.”

Pada 12 Januari, di Tiongkok daratan juga beredar dua surat “Surat kepada Sesama Rakyat” yang menyerukan masyarakat untuk sadar dan berdiri melawan tirani PKT. (Hui)

Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty, Tang Rui dan Xiong Bin melalui wawancara telepon.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine