Dua Orang Pengemis

EtIndonesia. Ada dua orang pengemis yang setiap hari, pada waktu yang sama, melewati sebuah rumah orang kaya.

Pemilik rumah itu setiap hari melemparkan beberapa keping uang kepada mereka. 

Pengemis yang bertubuh lebih tinggi dan besar selalu berteriak lantang:  “Terima kasih, Tuan! Anda benar-benar berhati mulia, suka berbuat kebajikan. Semoga Anda panjang umur, sehat selalu!”

Namun pengemis yang satu lagi—kurus dan bertubuh kecil—hanya berkata pelan: “Terima kasih atas anugerah Tuhan.”

Setiap hari, sang tuan rumah melemparkan uang logam ke luar jendela, dan setiap hari pula terdengar dua suara ucapan terima kasih: satu berterima kasih kepadanya, satu lagi berterima kasih kepada Tuhan.

Awalnya, sang tuan rumah tidak merasa apa-apa. Namun lama-kelamaan, perasaan tidak nyaman mulai muncul dan terus menumpuk. 

Hingga suatu hari, dia berpikir:  “Aneh! Aku yang memberi uang, tapi dia tidak berterima kasih kepadaku—malah berterima kasih kepada Tuhan. Aku harus memberinya pelajaran supaya dia tahu siapa yang seharusnya dia syukuri.”

Dia pun pergi ke toko roti dan memesan dua roti tawar dengan ukuran yang sama. Salah satu roti dilubangi dan diisi dengan perhiasan emas dan permata yang sangat berharga, lalu ditutup kembali dengan rapi. Kedua roti itu tampak persis sama.

Ketika para pengemis datang, dia memberikan roti biasa kepada pengemis kurus yang hanya mengucap syukur kepada Tuhan, sementara roti yang berisi emas dan permata diberikan kepada pengemis besar yang setiap hari memujinya. 

Dalam hati sang tuan rumah berkata: “Biar kamu tahu bedanya berterima kasih kepadaku dan berterima kasih kepada Tuhan!”

Pengemis besar menerima roti itu dan merasa berat. 

Dia berpikir :  “Roti ini pasti tidak mengembang dengan baik, pasti rasanya tidak enak.”

Karena dia memang suka mengambil keuntungan, dia berkata kepada pengemis kecil : “Mau tukar roti denganku?”

Dia tidak memberi alasan, dan pengemis kecil pun tidak bertanya. 

Dalam hatinya dia berpikir: “Ini pasti juga pengaturan Tuhan.”

Maka mereka pun bertukar roti.

Keesokan harinya, pengemis kecil itu tidak datang lagi untuk mengemis. Dia memutuskan pulang ke kampung halamannya untuk menjenguk ayah dan ibunya, dan bersiap memulai kehidupan baru. Dia sangat bersyukur kepada Tuhan.

Ketika sang tuan rumah melihat pengemis besar datang lagi untuk mengemis, dia bertanya, :“Rotimu sudah habis dimakan?”

“Sudah,” jawab pengemis itu.

“Lalu… bagaimana dengan emas dan permata di dalamnya?” tanya sang tuan rumah.

“Emas dan permata?” 

Saat itulah pengemis besar baru sadar bahwa berat roti itu bukan karena adonannya gagal, melainkan karena berisi harta berharga. 

Dia berkata : “Saya kira roti itu tidak mengembang dengan baik, jadi saya menukarnya dengan roti teman saya.”

Akhirnya, sang tuan rumah benar-benar mengerti perbedaan antara berterima kasih kepadanya dan berterima kasih kepada Tuhan.

Berterima kasih kepadanya ternyata disertai dengan keinginan untuk mendapatkan lebih banyak, sementara berterima kasih kepada Tuhan justru lahir dari ketenangan hati tanpa keserakahan.

Renungan

Dalam Alkitab tertulis:  “Hai kamu yang kurang percaya! Janganlah kamu khawatir tentang apa yang akan kamu makan atau minum, dan jangan gelisah, karena semua itu dicari oleh orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Bapamu di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Carilah terlebih dahulu Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Renungan Redaksi

Siapa yang berbuat baik kepada kita, wajar bila kita berterima kasih kepadanya.

Namun, rasa terima kasih itu ada dua macam: yang pertama, rasa syukur yang tulus dari hati atas pertolongan orang lain; yang kedua, ucapan terima kasih yang sekadar menjilat dan penuh kepentingan.

Orang yang bersyukur dengan tulus tahu cara menghargai dan mengenang kebaikan. Sementara orang yang berterima kasih demi keuntungan cenderung lupa budi—mulutnya berterima kasih, tetapi hatinya tidak menyimpan rasa syukur.

Jika suatu hari kita memiliki kemampuan untuk menolong orang lain, kita juga perlu kebijaksanaan untuk membedakan siapa yang patut ditolong dan siapa yang tidak. Menolong orang yang keliru bukan hanya membuat kita tak mendapat rasa terima kasih, tetapi bahkan bisa menumbuhkan permusuhan yang disesali di kemudian hari.

Cerita pendek ini ingin menonjolkan perbedaan dua jenis kepribadian tersebut.

Namun demikian, hanya berterima kasih kepada manusia saja, atau hanya kepada Tuhan saja, keduanya belumlah sempurna.

Sebagai manusia, kita patut berterima kasih kepada orang yang menolong kita, dan juga bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukan kita dengan orang-orang tersebut. Itulah sikap hidup yang benar. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine