Meredakan Amarah

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, ada seorang wanita yang sangat mudah marah hanya karena hal-hal kecil dan sepele. Dia sendiri sadar bahwa kebiasaan ini tidak baik. Karena itu, dia mendatangi seorang biksu agung untuk meminta petunjuk, berharap bisa belajar tentang jalan kebijaksanaan dan melapangkan hatinya.

Setelah mendengarkan keluh kesah wanita itu, sang biksu tidak berkata apa-apa. Dia hanya membawanya ke sebuah kamar meditasi, menguncinya dari luar, lalu pergi begitu saja.

Wanita itu langsung marah besar, melompat-lompat sambil memaki-maki. Dia berteriak dan mengumpat cukup lama, tetapi sang biksu sama sekali tidak menanggapi.

Setelah lelah memaki, dia mulai memohon dengan suara lirih. Namun sang biksu tetap diam, seakan tidak mendengar apa pun.

Akhirnya, wanita itu terdiam.

Biksu itu lalu datang ke depan pintu dan bertanya : “Apakah kamu masih marah?”

Wanita itu menjawab:  “Aku marah pada diriku sendiri. Mengapa aku bisa sampai ke tempat ini dan menderita seperti ini?”

“Orang yang bahkan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, bagaimana mungkin hatinya bisa setenang air?”

Sang biksu mengibaskan lengan jubahnya dan pergi.

Beberapa saat kemudian, sang biksu kembali bertanya :  “Masih marah?”

“Tidak,” jawab wanita itu.

“Mengapa?”

“Karena marah pun tidak ada gunanya.”

“Amarahmu belum benar-benar lenyap, dia hanya tertekan di dalam hati. Jika meledak nanti, justru akan lebih hebat,” ” kata sang biksu, lalu dia kembali pergi lagi.

Untuk ketiga kalinya, sang biksu datang ke depan pintu. 

Wanita itu berkata : “Aku sudah tidak marah lagi, karena memang tidak pantas untuk marah.”

“Kamu masih menilai pantas atau tidak pantas,” kata sang biksu sambil tersenyum. “Berarti di hatimu masih ada pertimbangan, dan di sana masih tersisa akar amarah.”

Saat bayangan sang biksu berdiri di depan pintu, disinari cahaya matahari senja, wanita itu bertanya :  “Guru, sebenarnya apa itu amarah?”

Sang biksu menuangkan air teh dari cangkirnya ke tanah. 

Wanita itu memandangnya lama… lalu tiba-tiba tercerahkan. Dia bersujud berterima kasih, lalu pergi.

Mengapa harus marah?  Amarah itu seperti sesuatu yang dimuntahkan orang lain, tetapi justru kita terima dan masukkan ke dalam mulut sendiri. Jika kita menelannya, perut kita yang mual. Jika kita tidak memedulikannya, dia akan lenyap dengan sendirinya.

Marah adalah menggunakan kesalahan orang lain untuk menghukum diri sendiri.

Matahari senja berkilau seperti emas, bulan bersinar laksana perak. Kebahagiaan dan berkah hidup saja belum tentu sempat dinikmati sepenuhnya—lalu dari mana kita punya waktu untuk marah?

Renungan Redaksi

Orang-orang lebih senang bergaul dengan mereka yang berwajah ramah dan murah senyum. Marah sehari, bahagia pun sehari—lalu mengapa tidak memilih menjalani setiap hari dengan gembira?

Semoga kita semua bisa hidup dengan hati yang ringan, bahagia, dan tersenyum dalam perjalanan hidup ini. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine