EtIndonesia. Sepasang suami istri yang baru menikah hidup dalam kemiskinan.
Suatu hari, sang suami berkata kepada istrinya: “Sayang, aku akan pergi bekerja ke tempat yang sangat jauh. Aku tidak akan pulang sampai aku mampu memberimu kehidupan yang layak dan terhormat. Aku hanya meminta satu hal darimu: selama aku pergi, tetaplah setia padaku. Aku pun akan setia padamu.”
Beberapa waktu kemudian, dia diterima bekerja di sebuah perkebunan besar.
Dia meminta satu syarat kepada pemilik perkebunan: “Izinkan saya bekerja di sini selama yang saya mau. Ketika saya merasa sudah waktunya pergi, Anda harus mengizinkan saya pergi. Dan pada hari saya pergi, barulah Anda memberikan seluruh upah yang saya peroleh.”
Keduanya sepakat. Pemuda itu bekerja di sana selama 20 tahun penuh tanpa satu hari pun libur.
Suatu hari, dia berkata kepada majikannya : “Saya ingin pulang ke rumah.”
Majikan itu menjawab : “Aku akan menepati perjanjian. Tapi aku punya satu usulan: aku bisa memberimu uangmu sekarang, atau aku bisa memberimu tiga nasihat. Pikirkan baik-baik sebelum memutuskan.”
Dia berpikir selama dua hari, lalu kembali dan berkata : “Saya memilih tiga nasihat itu.”
Majikannya mengingatkan: “Jika kamu memilih nasihat, aku tidak akan memberikan uangmu.”
Namun dia tetap berkata: “Saya memilih nasihat.”
Majikan itu pun berkata:
- Jangan pernah mengambil jalan pintas. Jalan yang terlihat lebih cepat dan asing bisa merenggut nyawamu.
- Jangan pernah penasaran pada hal-hal yang mungkin buruk. Rasa ingin tahu itu bisa membunuhmu.
- Jangan pernah mengambil keputusan saat diliputi kebencian dan penderitaan. Kamu pasti akan menyesalinya kelak.
Majikan itu lalu menambahkan : “Ini ada tiga roti. Dua untuk kamu makan di perjalanan. Satu lagi, makanlah bersama istrimu saat kamu tiba di rumah.”
Setelah 20 tahun jauh dari istri tercinta dan kampung halaman, pria itu pun memulai perjalanan pulang.
Sehari kemudian, dia bertemu seseorang yang berkata : “Jalan ini terlalu jauh. Aku tahu jalan pintas—beberapa hari saja sudah sampai.”
Dia sangat gembira dan hampir saja mengambil jalan pintas itu. Namun dia teringat nasihat pertama, lalu kembali ke jalan semula.
Belakangan, dia mengetahui bahwa “jalan pintas” itu ternyata sebuah jebakan.
Beberapa hari kemudian, dia kelelahan dan melihat sebuah penginapan di pinggir jalan. Dia memutuskan bermalam. Setelah membayar, dia pun tertidur.
Di tengah malam, dia terbangun oleh jeritan mengerikan. Dia bangkit, berjalan ke pintu, hendak melihat apa yang terjadi. Tepat saat membuka pintu, dia teringat nasihat kedua. Dia pun kembali ke tempat tidur dan melanjutkan tidur.
Pagi harinya, setelah minum kopi, pemilik penginapan bertanya apakah dia mendengar jeritan malam tadi.
Dia menjawab: “Ya.”
Pemilik penginapan bertanya lagi : “Anda tidak penasaran?”
Dia menjawab,: “Tidak.”
Pemilik penginapan berkata : “Anda adalah tamu pertama yang keluar dari sini dalam keadaan hidup. Anak tunggal saya mengidap gangguan jiwa. Tadi malam, dia berteriak untuk memancing tamu keluar kamar, lalu membunuh dan mengubur mereka.”
Pria itu melanjutkan perjalanan. Akhirnya, pada suatu senja, dari kejauhan dia melihat rumah kecilnya. Cerobongnya mengepulkan asap, dan samar-samar terlihat sosok istrinya. Meski hari mulai gelap, dia melihat istrinya tidak sendirian—ada seorang pria yang bersandar di pangkuannya, dan istrinya mengelus rambut pria itu.
Melihat pemandangan itu, hatinya dipenuhi kebencian dan penderitaan. Dia ingin masuk dan membunuh mereka.
Dia menarik napas dalam-dalam dan melangkah cepat—lalu teringat nasihat ketiga. Dia pun berhenti.
Keesokan paginya, setelah pikirannya tenang, dia berkata pada diri sendiri : “Aku tidak bisa membunuh istriku. Aku akan kembali kepada majikanku dan memohon untuk diterima kembali. Namun sebelum itu, aku ingin mengatakan pada istriku bahwa aku selalu setia padanya.”
Dia mengetuk pintu. Istrinya membuka pintu, mengenalinya, lalu berlari memeluknya erat.
Dia ingin mendorong istrinya, tetapi tidak sanggup.
Dengan mata berkaca-kaca dia berkata : “Aku setia padamu, tapi kamu mengkhianatiku…”
Istrinya terkejut : “Apa? Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku menunggumu selama 20 tahun.”
Dia berkata : “Kalau begitu, siapa pria yang kamu elus semalam?”
Istrinya menjawab : “Itu anak kita. Saat kamu pergi, aku sedang hamil. Tahun ini usianya genap 20 tahun.”
Sang suami masuk ke rumah dan memeluk putranya.
Saat istrinya menyiapkan makan malam, dia menceritakan pengalamannya kepada sang anak.
Kemudian, mereka sekeluarga duduk bersama untuk memakan roti. Ketika dia membelah roti pemberian majikannya, dia menemukan sejumlah uang di dalamnya—itulah upah kerja kerasnya selama 20 tahun.
Manusia sering kali terbiasa melihat sesuatu dari sudut pandangnya sendiri… hingga akhirnya… kebenaran terungkap.
Renungan Redaksi
Jika tiga nasihat dalam cerita ini benar-benar dipahami dan dipraktikkan, niscaya kita dapat menghindari banyak jebakan dan penyesalan dalam hidup.
Namun, jika dihadapkan pada pilihan upah 20 tahun kerja versus tiga nasihat, meninggalkan uang sebesar itu demi tiga nasihat sungguh terasa seperti perjudian yang gila.
Mungkin hanya tokoh dalam cerita inilah yang akan memilih tiga nasihat tersebut.
Bagaimanapun, upah 20 tahun adalah harta yang sangat besar, sedangkan nilai tiga nasihat itu tidak dapat diukur—dan bisa berbeda bagi setiap orang.
Bagi sebagian orang, tiga nasihat itu mungkin tak bernilai apa-apa. Bahkan nasihat pertama bisa ditafsirkan menjadi: “Uang di tangan harus segera dimasukkan ke kantong; jangan bertaruh pada hal yang tidak pasti agar tidak berakhir dengan tangan kosong.”
Jika demikian, orang itu hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu percaya pada orang lain, menyerahkan uang hasil jerih payah, dan akhirnya hanya mendapat pelajaran pahit.
Untungnya, tiga nasihat ini bisa kita peroleh tanpa risiko apa pun. Cukup dengan menenangkan diri, membaca, dan merenungkannya. Mari kita hargai keberuntungan ini—dan bagikan pula kepada teman-teman kita, agar mereka pun mendapatkan tiga nasihat berharga ini. (jhn/yn)


