Kapan Mengasah Gergaji?

EtIndonesia. Seseorang sedang berjuang keras menggergaji setumpuk kayu. Kayu lama belum habis dipotong, kayu baru sudah terus berdatangan, membuat tumpukan kian menggunung. Tak ada pilihan lain selain terus memperpanjang jam kerja.

Seseorang yang baik hati mengingatkannya: “Gergajimu sudah tumpul, itu sebabnya efisiensimu sangat rendah. Jika kamu mau mengasahnya, keadaan yang makin buruk ini bisa segera membaik.”

Orang itu bahkan tidak menoleh, dia menjawab ketus : “Pekerjaan saja sudah tidak ada habisnya, mana sempat mengasah gergaji?!”

Orang baik hati itu belum menyerah dan bertanya lagi : “Kalau begitu, kapan kamu akan mengasah gergajimu?”

Dengan lemah dia menjawab : “Nanti saja, setelah tumpukan kayu ini selesai.”

Kedengarannya seperti lelucon, tetapi di dunia perusahaan, situasi semacam ini justru sering terjadi.

Seorang direktur utama sebuah perusahaan mengeluhkan bahwa banyak manajer yang kurang kompeten dan perlu ditingkatkan melalui pelatihan. Dia pun menugaskan bagian SDM untuk menyelenggarakannya.

Bagian SDM bekerja dengan sangat cepat: menyusun materi, mencari pengajar, dan menyiapkan jadwal, lalu mengajukannya untuk persetujuan.

Namun hasilnya, direktur memberi catatan: “Saat ini sedang musim pesanan ramai. Demi menjaga produksi dan penjualan, sebaiknya pelatihan ditunda hingga musim sepi.”

Ketika musim sepi tiba, bagian SDM kembali mengajukan rencana yang sama. 

Tak disangka, direktur hanya menuliskan satu kata: “Tunda.” Tanpa penjelasan apa pun.

Dari pembicaraan samar para pimpinan senior, bagian SDM akhirnya mengetahui alasannya: “Bisnis sedang lesu, laba menurun. Dari mana ada dana untuk pelatihan?”

Ternyata, bagi banyak perusahaan, perhatian terhadap pendidikan dan pelatihan hanyalah slogan sesaat. Lalu bagaimana mungkin mereka menyalahkan kualitas SDM yang rendah atau kurangnya regenerasi talenta?

Di sebuah pabrik lain, pengiriman barang terus terlambat. Padahal, pesanan tidak melebihi kapasitas produksi, dan output bulanan bahkan hanya sekitar 60% dari kapasitas maksimal. Pemilik pabrik sangat tidak puas.

Alasan sang kepala pabrik selalu sama: “Tingkat kerusakan mesin terlalu tinggi.”

Akhirnya, pemilik pabrik tak tahan lagi dan bertanya: “Mengapa mesin tidak diperbaiki secara menyeluruh untuk menurunkan tingkat kerusakan?”

Kepala pabrik mengangkat tangan dengan wajah putus asa:  “Pesanan saja sudah dikejar-kejar, bahkan hari libur pun lembur. Mana mungkin menghentikan mesin untuk perbaikan?”

Pemilik pabrik balik bertanya : “Bukankah bisa diperbaiki saat malam hari setelah jam kerja?”

Kepala pabrik menjawab dengan nada mengeluh : “Siang hari saja sudah lembur sampai kelelahan.”

Sejujurnya, sekalipun harus menghentikan produksi di siang hari demi perbaikan menyeluruh, itu tetap sepadan.

Intinya bukan ada atau tidaknya waktu, melainkan apakah ada niat untuk benar-benar menyelesaikan masalah keterlambatan pengiriman. Jika tidak, semua alasan hanyalah dalih untuk menipu diri sendiri.

Banyak orang membeli banyak buku bagus demi pengembangan diri, berharap suatu hari bisa duduk tenang dan membacanya dengan saksama. 

Buku-buku itu pun disusun rapi di rak, sambil berjanji pada diri sendiri :  “Kalau sudah ada waktu, aku akan membaca dengan serius.”

Akhirnya, buku semakin banyak, waktu justru semakin sedikit—dan tak pernah benar-benar ada waktu untuk membaca.

Padahal, apa yang lebih penting daripada terlebih dahulu mengasah gergaji?

Renungan Redaksi

Pembaca yang terhormat, jika Anda bisa menyelesaikan membaca kisah ini, itu berarti Anda sedang terus belajar dan menambah pengetahuan.

Artinya, Anda sedang menjaga diri Anda tetap berada dalam kondisi “gergaji yang diasah”—siap bekerja dengan lebih tajam, efektif, dan bermakna. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine