Sekitar 1.500 Tahanan ISIS Melarikan Diri di Tengah Bentrokan Antara Tentara Suriah dan SDF

EtIndonesia. Laporan mengklaim bahwa 1.500 tahanan ISIS telah melarikan diri dari penjara di Kota Shaddadeh, sekitar 50 kilometer (31 mil) dari perbatasan Suriah dengan Irak, sementara kementerian Suriah melaporkan jumlahnya sekitar 120 tahanan.

Hal ini terjadi di tengah ketegangan antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan pasukan Pemerintah Suriah. Meskipun gencatan senjata telah tercapai pada hari Senin (19/1), bentrokan singkat meletus pada Senin malam di kota Raqa, dengan laporan pemboman hebat.

SDF mengatakan pasukan pemerintah menembaki penjara Al-Aqtan, “yang menampung anggota dan pemimpin ISIS, dalam upaya untuk menyerbunya.” Sebuah sumber kementerian pertahanan kemudian mengatakan kepada AFP bahwa bentrokan telah berhenti.

Sementara Kementerian Dalam Negeri Suriah mengatakan bahwa sekitar 120 militan ISIS telah melarikan diri dari penjara di Shaddadi, situs web Kurdi Rudaw melaporkan, mengutip Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi, bahwa sekitar 1.500 tahanan ISIS telah melarikan diri.

Pasukan pemerintah dan SDF saling tuduh sebagai pelaku pelarian dari penjara. Sementara tentara mengklaim bahwa SDF, yang mengendalikan fasilitas tersebut, sengaja membebaskan para tahanan, SDF yang dipimpin Kurdi menyatakan bahwa mereka kehilangan kendali atas penjara setelah pasukan pemerintah menyerang.

Tentara Suriah membantah adanya serangan terhadap penjara tersebut, menyatakan bahwa pasukannya akan berupaya mengamankan fasilitas tersebut dan menangkap kembali para pelarian.

Setelah pelarian dari penjara, pasukan pemerintah memberlakukan jam malam di Shaddadeh. SDF mengawasi lebih dari selusin penjara di Suriah timur laut, tempat sekitar 9.000 tahanan ISIS ditahan selama bertahun-tahun. Banyak dari tahanan ini diyakini telah melakukan kekejaman di Suriah dan Irak setelah ISIS mendeklarasikan kekhalifahan pada Juni 2014 di sebagian besar wilayah kedua negara tersebut.

Pada hari Senin, Pemerintah Suriah mengatakan bahwa Presiden Ahmed al-Sharaa melakukan panggilan telepon dengan Presiden AS, Donald Trump untuk membahas jaminan hak-hak Kurdi, sehari setelah Damaskus mencapai kesepakatan dengan pasukan Kurdi, termasuk gencatan senjata. Sharaa juga bertemu dengan Mazloum Abdi, kepala Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi, untuk membahas perjanjian tersebut, yang mencakup pengintegrasian pemerintahan Kurdi ke dalam negara. Namun, AFP melaporkan, mengutip sumber Kurdi yang mengetahui pembicaraan tersebut, bahwa diskusi tersebut tidak positif. (yn)

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine