EtIndonesia. Pada 22 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran saat berbicara di hadapan Forum Ekonomi Dunia di Davos. Dalam pidatonya, Trump membuka satu pintu diplomasi—namun sekaligus menegaskan garis merah terakhir yang tak bisa ditawar.
Trump menyatakan, Amerika Serikat siap membuka dialog bila Teheran mencabut dukungan persenjataan kepada Hizbullah, Hamas, kelompok Houthi, serta berbagai milisi anti-Amerika di Timur Tengah, sebagai syarat untuk meredakan konflik kawasan. Namun dia menegaskan, Iran sama sekali tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Garis Merah” Nuklir dan Ancaman Serangan Cepat
Di Davos, Trump mengungkapkan bahwa sebelumnya militer AS telah mengerahkan pembom siluman B-2 dan seluruh rudal yang ditembakkan mengenai target secara presisi, menghancurkan fasilitas nuklir Iran.
Kini, menurut Trump, 25 unit B-2 kembali diaktifkan. Pesannya tegas: jika Iran tetap berniat mengembangkan senjata nuklir, serangan mematikan akan dilancarkan.
Sejumlah indikasi intelijen menyebut opsi militer bisa dijalankan paling cepat akhir pekan ini, menempatkan kawasan pada fase paling genting.
AS dan Israel: Opsi Militer di Meja
Penilaian Israel menyebutkan bahwa bila Teheran menolak kembali ke meja perundingan nuklir sesuai syarat Amerika, serangan AS berpotensi terjadi dalam hitungan minggu. Target utamanya: sisa fasilitas nuklir, program rudal, dan sistem pertahanan udara Iran.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, intelijen Barat mendeteksi retakan internal pada aparat keamanan Iran. Ratusan perwira dilaporkan membelot dari Garda Revolusi dan milisi Basij—kebanyakan perwira menengah dan rendah—namun tetap dinilai sebagai sinyal baru yang signifikan.
Israel Naikkan Kesiagaan Nasional
Mengutip Channel 12 Israel, Pasukan Pertahanan Israel telah menyelesaikan seluruh persiapan menghadapi kemungkinan serangan AS ke Iran. Pertahanan domestik berada pada status siaga penuh.
Pengerahan pasukan dan aset AS di Timur Tengah diperkirakan rampung dalam 24 jam, sehingga akhir pekan ini AS akan memiliki kekuatan serangan besar yang siap digunakan kapan saja.
Israel juga menaikkan kewaspadaan dan akan mengaktifkan saluran darurat perang elektronik senyap pada hari Sabat. Otoritas Israel tidak menutup kemungkinan Iran melakukan serangan pendahuluan demi merebut keunggulan awal.
Menuju Perang Terbesar Timur Tengah?
Menurut Haaretz dan media lain, status siaga pertahanan Israel telah dinaikkan drastis. Sejumlah sumber menyebut Trump telah memutuskan menyerang Iran, mungkin dalam beberapa hari atau paling lambat Sabtu.
Meski keputusan Trump dikenal bisa berubah di menit terakhir, kerja sama militer AS–Israel kini berada pada level sangat erat, termasuk opsi keterlibatan Angkatan Udara Israel untuk menyerang target di wilayah Iran.
Israel menilai AS tengah mempersiapkan perang terbesar dalam sejarah Timur Tengah. Jumlah pasukan AS yang dikerahkan ke kawasan disebut melampaui total pengerahan pada Perang Teluk I, Perang Teluk II, dan Perang Irak jika digabungkan. Skema serangan diperkirakan cepat dan mematikan.
Pergerakan Militer AS Makin Mendekat
Dalam 36 jam terakhir, AS mengerahkan 12 pesawat angkut C-17 Globemaster ke pangkalan sekitar Iran—masing-masing mampu membawa hingga 77 ton persenjataan dan peralatan.
Jet tempur F-15E Strike Eagle juga dikerahkan ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, dengan pengiriman personel dan logistik tambahan via C-17.
Yang paling mencolok, sejumlah pesawat militer AS menghilang dari pelacakan sipil, menandakan mode gelap telah diaktifkan. Hari ini, Komandan CENTCOM tiba di Amman, Yordania, untuk koordinasi akhir.
Radar Iran Lumpuh, Perang Elektronik Dimulai?
Pada 22 Januari 2026, radar Iran di Shiraz dilaporkan lumpuh mendadak, memicu spekulasi bahwa perang gangguan elektronik AS telah menembus jantung Iran.
Di saat yang sama, kapal induk AS memasuki Laut Arab, sementara unsur armada lain bergerak ke Mediterania Timur, membawa F-35C siluman, pesawat perang elektronik, dan sistem pertahanan rudal.
Sebagai perbandingan, dalam perang 12 hari Israel–Iran tahun lalu, Israel mengerahkan sekitar 150 pesawat. Kini, AS disebut telah menempatkan ratusan pesawat, belum termasuk kapal selam, drone, dan rudal.
Iran sendiri dilaporkan menguji rudal balistik antarbenua, dengan Eropa dan Amerika dalam jangkauan—sebuah provokasi terbuka.
Peringatan Regional dan Manuver Politik
Kelompok Houthi memperingatkan bahwa jika AS menyerang Iran, mereka akan menyerang kapal-kapal Amerika. Di waktu bersamaan, serangan udara Israel terjadi di wilayah Lebanon, sementara sistem radar Iran dilaporkan bermasalah.
Di Davos, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengecam keras dunia internasional yang dinilai mengabaikan protes rakyat Iran. Dia memperingatkan, jika rezim Iran bertahan, dunia sedang mengirim pesan berbahaya kepada para diktator: “cukup membunuh rakyat, maka kekuasaan akan tetap aman.”
Kesimpulan
Pernyataan Trump di Davos menempatkan Iran pada tenggat kritis: diplomasi bersyarat atau konsekuensi militer. Dengan pengerahan pasukan yang hampir tuntas, gangguan elektronik yang diduga telah dimulai, dan koordinasi AS–Israel pada level tertinggi, akhir pekan ini menjadi penentu arah—menuju meja perundingan, atau ke konfrontasi terbesar di Timur Tengah.


