EtIndonesia. Pada usia 27 tahun, Reggie Love lahir di Charlotte, North Carolina, Amerika Serikat. Dia pernah menempuh pendidikan di Duke University, mengambil jurusan ilmu politik. Semasa kuliah, Love dikenal berkat kemampuan olahraganya yang menonjol. Dia adalah anggota tim basket kampus dan kerap tampil mencuri perhatian pada musim kejuaraan nasional 2000–2001. Selain basket, dia juga piawai bermain American football.
Tahun 2004, Love lulus dari Duke. Namun jalan kariernya sebagai atlet profesional tidak berjalan mulus. Dia sempat mencoba peruntungan di NFL, termasuk bergabung dengan Green Bay Packers, tetapi gagal mendapatkan kesempatan bermain.
“Aku bergulat cukup lama dengan kegagalan itu, sampai akhirnya memutuskan untuk berhenti mengejar karier sebagai atlet profesional,” ujarnya.
Melompat Menangkap Jagung
Pada 2006, Love melamar menjadi staf magang pada Barack Obama, yang saat itu masih menjabat sebagai senator federal.
Sambil tersenyum, Love mengenang : “Waktu itu gajiku bahkan belum mencapai 30 ribu dolar setahun.”
Namun berkat kemampuan serba bisa, kerendahan hati, dan etos kerja yang kuat, Love dengan cepat mendapatkan kepercayaan Obama. Pada Januari 2007, Obama mengangkatnya sebagai asisten pribadi.
Ketika Obama mengumumkan pencalonannya sebagai presiden, Love pun secara alami berperan sebagai pengawal pribadi. Di Amerika Serikat, pengamanan resmi presiden dan kandidat presiden ditangani oleh Secret Service. Namun pengawal pribadi—meski rendah hati dan jarang disorot—memainkan peran yang sangat penting dan merupakan bagian dari tradisi politik Amerika.
Mendampingi Obama selama masa kampanye presiden menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Love.
“Itu seperti menjalani satu musim kompetisi sepak bola, hanya saja durasinya lebih panjang dan intensitasnya jauh lebih tinggi,” katanya.
Love menemani Obama berkeliling negeri untuk menggalang dukungan.
“Setiap hari saraf harus tetap tegang. Aku harus memastikan keselamatan Obama selalu dalam jangkauan pandang, sekaligus memenuhi kebutuhannya kapan pun.”
Suatu kali, Obama menghadiri pameran di Iowa—yang dikenal sebagai “negeri jagung”. Untuk menjabat tangan lebih banyak pemilih, Obama melemparkan kantong-kantong jagung pemberian pendukung ke belakangnya. Dari jarak beberapa meter, Love dengan sigap melompat dan menangkapnya tepat waktu. Kerja sama keduanya nyaris tanpa cela.
Love bercanda : “Tentu saja tugasku adalah menjaga punggung dan pinggang presiden—terutama agar tidak dipeluk terlalu heboh oleh para penggemar.”
Bekerja Hingga 18 Jam Sehari
Pada Januari 2009, Love mengikuti Obama memasuki Oval Office di Gedung Putih. Kali ini, dia mendapat gelar baru: asisten pribadi presiden. Gajinya melampaui 750 ribu dolar per tahun, namun waktu istirahatnya kurang dari enam jam per hari. Dia benar-benar menjadi orang yang “hidup 18 jam sehari di bayang-bayang Obama”.
Tak berlebihan jika dikatakan: sebelum Obama membuka mata, Love sudah lebih dulu bangun—dialah yang membangunkan presiden.
Setiap hari, Love memegang ponsel BlackBerry Obama untuk melakukan panggilan; mengatur makan siang dan minuman presiden dengan koki Gedung Putih; menyiapkan mantel saat Obama hendak menghadiri rapat; bahkan membersihkan noda kecil pada dasi presiden—karena Obama dikenal sangat memperhatikan penampilan, bahkan sedikit perfeksionis.
Love juga memegang peran hubungan publik yang penting: setiap tamu yang menemui presiden akan menerima sepasang manset dengan lambang kepresidenan Amerika Serikat—diserahkan langsung oleh Love.
Dia selalu membawa ransel wol hitam, semacam “kantong ajaib”, berisi hampir semua kebutuhan darurat presiden: obat flu, permen mint, kapas medis, sikat gigi, teropong, obat batuk, dan lain-lain.
“Pekerjaanku adalah menyiapkan segalanya agar hidup presiden menjadi lebih mudah,” kata Love.
Namun, Love yang nyaris selalu sempurna itu pun pernah melakukan kesalahan. Suatu kali, dalam perjalanan menuju bandara, Obama tiba-tiba bertanya, “Di mana tas kerjaku?”
Love langsung terpaku. Dia terdiam, keringat mengalir dari kepala plontosnya—dia lupa membawa tas itu. Seketika, sosok pengawal tangguh itu berubah seperti anak besar yang ketahuan berbuat salah.
“Love Lebih Keren Dariku”
Bagi seseorang yang selalu berada di sisi presiden, kecocokan kepribadian adalah hal yang sangat penting. Love menyebut dirinya sebagai “orang paling bahagia”.
Pelatih lamanya, Barbara Frank, mengenang: “Sejak sekolah, Love selalu menjadi murid teladan. Dia punya daya tarik alami—bukan karena tubuhnya besar, melainkan karena senyumnya yang selalu cerah dan hatinya yang polos seperti anak-anak.”
Meski menjadi pengawal presiden, Love tak pernah meniru gaya kaku para pengawal profesional. Dalam suasana santai, dia dan Obama berbincang layaknya saudara, berbagi minat dan hobi. Kepribadian ceria dan minatnya yang luas inilah yang paling disukai Obama.
Bahkan Obama pernah berkata : “Love lebih keren dariku.”
Selera musik mereka berbeda. Obama memperkenalkan Love pada Aretha Franklin dan John Coltrane. Sebaliknya, Love mengenalkan Obama pada musik yang lebih modern, seperti Jay-Z, Lil Wayne, dan sejumlah artis pop.
Obama tertawa : “Untung ada Love yang menjelaskan ini semua, jadi aku tidak berubah menjadi orang tua yang ketinggalan zaman.”
Namun hobi terbesar yang benar-benar mereka bagi bersama adalah basket. Dengan kemampuan basketnya yang dulu bersinar, Love menjadi partner latihan favorit sekaligus teman bermain yang tak tergantikan bagi Obama. Menonton cuplikan pertandingan basket bersama di malam hari pun menjadi ritual tetap mereka.
Obama pernah memuji Love sebagai “atlet terbaik”, meski sesekali juga menggoda: “Instingnya tidak selalu tepat. Lihat, dia yakin bisa mencetak three-point, tapi aku sudah tahu pasti akan ada yang membloknya!” (jhn/yn)


