Nilai Sebuah Janji

EtIndonesia. Thomas Jefferson memiliki seorang sahabat yang sangat akrab. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil, sehingga hubungan mereka selalu terjaga dengan dekat. Sahabat itu kerap merekomendasikan buku kepada Jefferson, atau membantu mengerjakan berbagai hal yang diminta Jefferson—dipanggil kapan saja, diminta apa saja—dan tak pernah mengeluh sedikit pun.

Di hadapan sahabatnya, Jefferson bersikap sangat santai. 

Bahkan sahabatnya pernah berujar :  “Jefferson itu kelihatannya mengenakan pakaian orang dewasa, tapi sesungguhnya dia masih seperti anak kecil.”

Suatu tahun, sahabatnya pindah rumah. Saat Tahun Baru tiba, dia mengundang Jefferson untuk datang berkunjung. Jefferson pun menyanggupinya. Namun pada hari Tahun Baru itu, Jefferson mendapat giliran piket di sekolah. 

Pagi harinya, Jefferson menelepon sahabatnya. Ketika mendengar Jefferson harus bertugas, sahabatnya bertanya apakah Jefferson masih bisa datang. Jefferson menjawab : “Aku akan datang sore nanti.”

Menjelang sore, ketika Jefferson hendak meninggalkan sekolah, seorang rekan kerja datang dan berkata :  “Mari kita main tenis sebentar!”

Jefferson menjawab bahwa dia masih ada urusan. Namun rekannya membujuk :  “Hanya sebentar saja.”

Bujukan itu membuat Jefferson tergoda. Dia pun ikut bermain. Tanpa terasa, waktu berlalu begitu saja. Ketika Jefferson akhirnya keluar dari sekolah, hari sudah hampir gelap. Dia pun terpaksa pulang ke rumah.

Setelah itu, Jefferson sering ingin mencari kesempatan untuk menjelaskan kejadian tersebut kepada sahabatnya. Namun entah mengapa, penjelasan itu terus tertunda. Semakin lama waktu berlalu, semakin enggan dia membicarakannya lagi. 

Dalam hatinya, Jefferson berpikir : “Dia bukan orang lain. Untuk apa terlalu banyak basa-basi?”

Akhirnya, perkara itu perlahan-lahan terlupakan.

Jefferson baru kembali teringat pada sahabatnya ketika dia membutuhkan bantuan darinya. Namun di telepon, sikap sahabatnya terasa dingin. Jefferson bertanya apa yang terjadi

Sahabat itu hanya menjawab singkat : “Tanyakan pada dirimu sendiri.”

Jefferson pun dengan ragu menyinggung kembali peristiwa Tahun Baru itu. 

Sang sahabat langsung berkata dengan nada keras: “Kamu sudah keterlaluan. Mana ada memperlakukan orang seperti itu?”

Dengan marah, dia menjelaskan bahwa pada hari itu, dia dan istrinya telah membatalkan semua rencana hanya demi menunggu kedatangan Jefferson. Dari pagi hingga malam, mereka menajamkan telinga, mendengarkan setiap langkah kaki di tangga. Namun Jefferson tidak pernah datang—dan setelah itu, bahkan satu telepon pun tidak ada.

Ucapan itu membuat wajah Jefferson terasa panas. Dia mencoba menjelaskan bahwa dia tidak pernah menganggap sahabatnya sebagai orang luar. Justru karena merasa hubungan mereka begitu dekat, dia bersikap terlalu santai dalam urusan itu.

Namun sahabatnya berkata tegas: “Kamu adalah orang yang tidak menepati janji.”

Untuk membuat Jefferson benar-benar memahami arti sebuah kata yang tampak sederhana—janji—sahabat itu memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya.

Dan karena kehilangan sahabat itulah, Jefferson akhirnya mengerti: apa arti dan betapa berharganya sebuah janji. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine