Berpikir Terbalik antara Menyewa dan Meminjam

EtIndonesia. Seorang pria lanjut usia masuk ke sebuah bank dan langsung menuju bagian kredit, lalu duduk.

Dia mengenakan setelan jas mewah, sepatu kulit kelas atas, lengkap dengan dasi dan penjepit dasi emas.

“Aku ingin meminjam 1 dolar,” katanya.

“Maaf? Satu dolar?” tanya petugas bank keheranan.

“Ya, satu dolar. Bisa?”

“Tentu saja bisa. Asalkan ada jaminan, meminjam lebih dari itu pun tidak masalah.”

Pria tua itu membuka tas kulitnya yang mewah, mengeluarkan setumpuk saham, obligasi, dan surat berharga lainnya, lalu meletakkannya di atas meja manajer.

“Total nilainya lebih dari 500 ribu dolar AS. Cukup, bukan?”

“Tentu! Tentu saja cukup! Tapi… Anda benar-benar hanya ingin meminjam 1 dolar?”

“Ya, hanya 1 dolar.”

“Baik. Suku bunga tahunan kami 6%. Selama Anda membayar bunga tepat waktu, pada saat jatuh tempo kami akan mengembalikan seluruh barang jaminan Anda.”

Setelah menyelesaikan seluruh prosedur, pria tua itu mengambil uang pinjaman 1 dolar dan bersiap meninggalkan bank.

Namun, kepala cabang yang sejak tadi memperhatikan dengan heran tak bisa memahami satu hal: mengapa seseorang dengan jaminan lebih dari setengah juta dolar datang ke bank hanya untuk meminjam 1 dolar?

Dia pun mengejar pria itu dan bertanya langsung.

Pria tua itu tersenyum dan menjawab : “Sebelum datang ke bank ini, aku sudah bertanya ke banyak tempat penyimpanan brankas. Biaya sewanya sangat mahal.”

“Jadi, aku menitipkan surat-surat berharga ini di bank Anda. Biayanya sungguh murah—
setahun hanya 6 sen…” lanjutnya.

Sebagian besar orang dengan pola pikir ‘normal’ akan terjebak dalam batasan yang sama: jika tujuannya adalah menyimpan barang dengan biaya murah, maka caranya hanya membandingkan harga sewa satu tempat dengan tempat lainnya.

Namun cara berpikir seperti itu selalu dibayangi kekhawatiran lain— biasanya tingkat keamanan sebanding dengan mahalnya biaya sewa.

Hanya pria tua ini yang melampaui pola pikir “normal”.

Dia mengubah arah berpikir : menggunakan cara yang tidak lazim untuk mencapai tujuan yang sepenuhnya masuk akal, bahkan menekan “biaya sewa” hingga hampir nol.

Kesuksesan = Tujuan × Metode

Selama tujuan sudah jelas, selalu ada ratusan bahkan ribuan cara untuk mencapainya. Dan metode itu sering kali tersembunyi dalam kreativitas cara berpikir kita sendiri.

Renungan 

Cerita pendek ini sederhana, namun sangat menarik. Ia mengajarkan logika berpikir para peraih sukses.

Dari kisah ini, tim Erabaru belajar bahwa: tujuan mungkin hanya satu, tetapi cara mencapainya bisa tak terhitung jumlahnya.

Jangan membatasi diri dalam satu kerangka berpikir. Sesekali, mengubah sudut pandang justru bisa membuka jalan menuju solusi yang lebih cerdas dan efektif.

Mungkin, logika berpikir orang sukses memang tidak selalu mengikuti pola pikir konvensional. Justru karena itulah mereka mampu menemukan strategi tak terduga dan membuka peluang besar yang tidak dilihat orang lain.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine