Kesaksian Lansia Ungkap Neraka Kelaparan Tahun 1959–1961  “Lompatan Jauh ke Depan” Partai Komunis Tiongkok : Kanibalisme Hingga Menumis Kotoran Angsa

Kelaparan besar selama tiga tahun yang disebabkan oleh penerapan “Lompatan Jauh ke Depan” Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyebabkan puluhan juta rakyat tewas akibat kelaparan. Banyak lansia yang pernah mengalaminya mengenang kembali tragedi mengerikan saat itu—kisah-kisah yang membuat orang bergidik ngeri.

EtIndonesia. Berapa sebenarnya jumlah korban tewas akibat Kelaparan Besar tahun 1959–1961 hingga kini masih menjadi misteri. Banyak sejarawan memperkirakan jumlahnya melampaui puluhan juta orang. Untuk menutupi kebenaran, PKT menyebutnya sebagai “tiga tahun bencana alam”, padahal pada periode tersebut tidak terjadi bencana alam besar.

Saat itu, pemimpin PKT Mao Zedong melancarkan kebijakan “Lompatan Jauh ke Depan”. Program “peleburan baja besar-besaran” yang berlangsung bertahun-tahun, serta kebijakan “peningkatan produksi pertanian” yang bertentangan dengan hukum alam, menyebabkan produksi pangan anjlok. 

Di saat yang sama, propaganda bohong seperti “hasil panen 30.000 jin per mu” menciptakan target penyerahan hasil panen yang sangat tinggi. Demi memenuhi kewajiban setor pangan, pemerintah daerah secara besar-besaran merampas jatah makanan petani, yang akhirnya memicu kematian massal akibat kelaparan. (1 mu = kira-kira seperenam lapangan bulu tangkis (lahan kecil) – 30.000 jin = sekitar 15 ton hasil panen, 1 mu ≈ 666,7 meter persegi) 

Dalam beberapa tahun terakhir, beredar di internet banyak video yang direkam oleh blogger daratan Tiongkok, berisi kesaksian para lansia tentang penderitaan mereka selama Kelaparan Besar, yang mengejutkan banyak warganet.

Sepasang lansia mengenang bahwa warga desa yang kelaparan terpaksa memakan kulit pohon murbei, daun elm, berbagai jenis rumput liar, bahkan memungut kotoran angsa liar, membawanya pulang lalu menumisnya di wajan untuk dimakan.

Mereka mengatakan bahwa praktik kanibalisme saat itu sangat umum. Hingga kini masih ada lansia yang pernah memakan daging mayat dan tetap hidup. Sang kakek menceritakan satu kisah yang sangat tragis: seorang anak meninggal karena kelaparan, dan demi bertahan hidup, keluarganya memakan jasad anak mereka sendiri.

Sang nenek berkata bahwa ia bahkan tidak tahu seperti apa wajah orang tuanya. Ketika ia masih sangat kecil, orang tuanya suatu hari pergi bekerja, pingsan karena kelaparan, dan tidak pernah bangun lagi. Ia dibesarkan oleh neneknya. Ia memiliki empat bersaudara, dua diantaranya meninggal karena kelaparan. Setelah dewasa, ia tidak berani pulang ke kampung halaman; setiap kali pulang, ia teringat keluarga yang telah meninggal dan menangis tanpa henti.

Seorang lansia lain yang kini berusia lebih dari 80 tahun menceritakan bahwa pada tahun 1959, praktik kanibalisme sudah mulai muncul di daerahnya. Saat itu ia sedang bersekolah di luar daerah. Para guru mengurung murid-murid di sekolah dan melarang mereka pulang selama dua bulan, karena khawatir jika mereka keluar, mereka akan dibunuh dan dimakan oleh massa yang kelaparan.

Seorang warganet meninggalkan komentar di bawah video tersebut, mengatakan bahwa menurut cerita para lansia di kampung halamannya, ada tukang jagal yang mengolah daging mayat menjadi bakso dan menjualnya di pasar besar. Semua orang tahu, tetapi berpura-pura tidak tahu, membeli dan membawanya pulang untuk dimakan. Ada juga yang mengatakan bahwa di kampung halamannya, seorang nenek memakan cucu perempuannya sendiri.

Seorang lansia lainnya menceritakan bahwa pada awalnya setiap orang masih mendapat jatah beberapa liang makanan per hari, namun jatah itu terus berkurang, hingga akhirnya tidak ada sama sekali. Banyak orang mati kelaparan. Jika seorang warga meninggal, beberapa anggota keluarga yang sudah lemah dan bertopang tongkat berjalan tertatih-tatih ke pemakaman untuk menggali kubur. Karena sudah tidak bertenaga, menggali satu liang kubur dangkal bisa memakan waktu dua hari. Ada yang hari ini baru selesai menggali kubur untuk orang lain, keesokan harinya ia sendiri mati kelaparan dan orang lain kembali menggali kubur untuknya.

Ada pula yang meninggalkan desa untuk mengunjungi atau bergabung dengan kerabat, namun mati kelaparan di tengah jalan. Jika jasadnya ditemukan keluarga, mereka akan menyeretnya pulang. Jenazah yang tidak ada yang mengurus akan didorong ke parit pinggir jalan oleh warga yang tidak mengenalnya, lalu ditimbun dengan beberapa sekop tanah—selesai.

Ia mengatakan bahwa saat itu tidak ada pernikahan, pemakaman, atau perayaan apa pun. Tidak ada yang melahirkan anak, dan saat Tahun Baru pun tidak ada yang saling mengunjungi. Semua orang hanya memiliki satu tujuan: berjuang mati-matian untuk tetap hidup.

Seorang lansia dari Henan mengenang bahwa pada masa itu, bahan pangan sangat langka. Di seluruh Kota Shangqiu tidak bisa ditemukan satu pun roti kukus dari tepung putih. Orang-orang hanya bisa memakan sayuran liar. Kedua orang tuanya meninggal karena kelaparan.

Lansia Henan lainnya menceritakan bahwa warga desa memakan sayuran liar, kulit pohon elm, bahkan daun pohon poplar pun dimakan hingga habis. Dalam keadaan kelaparan, mereka tetap dipaksa bekerja. Di desanya, tujuh orang mati kelaparan, termasuk seorang pemuda berusia 20 tahun yang menjelang ajalnya masih memohon makanan kepada ibunya.

Seorang nenek yang saat Kelaparan Besar melarikan diri dari Anhui ke Shaanxi mengenang bahwa banyak orang mati kelaparan, hingga akhirnya hanya tersisa beberapa orang yang hidup. Suaminya dan satu anaknya juga meninggal karena kelaparan. Setelah melarikan diri ke Shaanxi, ia menikah lagi dengan penduduk setempat dan selamat dari bencana tersebut.

Ada pula seorang lansia yang menjelaskan mengapa saat itu orang tidak menangkap ikan atau memakan hewan kecil. Ia berkata:  “Orang sudah terlalu lapar sampai tidak bisa berjalan. Bagaimana mungkin masih sanggup menangkap hewan kecil?” (Hui)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine