Kecerdikan Seekor Ayam

EtIndonesia. Di Eropa, terdapat sebuah lembaga yang khusus meneliti hewan. Di sana ada seorang profesor yang bertanggung jawab meneliti ayam, dan dia dengan sangat tekun mengamati berbagai perilaku serta pola hidup unggas ini.

Suatu hari, di sebuah hutan, dia menemukan seekor ayam hutan betina yang telah bertelur cukup banyak. Diam-diam, profesor itu mengambil beberapa telur dan membawanya pulang.

Kebetulan, ada seekor ayam betina yang juga baru saja bertelur. Profesor tersebut mengambil telur ayam itu, lalu menggantinya dengan telur ayam hutan.

Saat melihat telur-telur yang berbeda, ayam betina itu sempat ragu sejenak. Namun tak lama kemudian, dia tetap mengerami telur-telur tersebut dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian, seolah-olah itu adalah telurnya sendiri.

Beberapa waktu kemudian, anak-anak ayam hutan menetas. Ayam betina itu lalu membawa mereka ke hutan. Dia mengais tanah dengan cakarnya, mencari serangga kecil di antara tanah dan akar pohon, lalu berkokok pelan memanggil anak-anak ayam hutan itu untuk makan.

Profesor sangat terkejut melihat pemandangan tersebut. Sebab, anak ayam yang biasanya dilahirkan oleh ayam betina itu selalu diberi pakan buatan manusia. Namun kali ini, dia seolah tahu bahwa anak ayam hutan tidak memakan pakan buatan, melainkan hanya menyantap makanan alami dari alam.

Tak berhenti sampai di situ, profesor itu kembali melakukan percobaan. Dia memberikan beberapa telur bebek untuk dierami oleh ayam betina tersebut. Dengan sabar, ayam itu kembali mengerami telur-telur itu hingga menetas menjadi anak bebek. Setelah itu, dia bahkan membawa anak-anak bebek tersebut ke tepi kolam dan membiarkan mereka berenang di air.

Dari dua kejadian ini, profesor pun menyadari satu hal penting—ayam yang selama ini dianggap manusia sebagai makhluk bodoh dan tak berperasaan, ternyata memiliki kasih sayang sekaligus kebijaksanaan.

Hanya dengan mengerami telur, ayam itu mampu memahami kebiasaan hidup makhluk yang lahir darinya, lalu menuntun mereka untuk mempelajari keterampilan bertahan hidup yang berbeda-beda, sebagaimana telah dianugerahkan Sang Pencipta kepada setiap kehidupan.

Jika seekor ayam saja mampu bersikap demikian, apalagi kita sebagai manusia—makhluk dengan kepribadian, kebiasaan, dan cara pandang yang beragam. Namun sering kali, kita justru memaksa bebek berkokok seperti ayam, atau ayam hutan dipaksa memakan pakan buatan. Kita memaksa orang lain berjalan sesuai dengan kehendak kita sendiri.

Tak jarang, kesalahpahaman dan konflik antar manusia bersumber dari sikap seperti ini.

Apakah sebuah kelompok dapat hidup harmonis dan stabil, sangat bergantung pada apakah individu-individu di dalamnya mampu saling menghormati dan menerima perbedaan, saling menopang dengan hati yang penuh welas asih—bukan saling menghitung kesalahan dan menyimpan keluhan; menyelesaikan perbedaan dengan kebijaksanaan yang jernih, bukan membiarkan emosi dan ketidaksadaran memperkeruh keadaan.

Seekor ayam betina saja mampu menggunakan kasih sayang dan kebijaksanaan untuk merawat makhluk lain yang berbeda rupa dan kebiasaan hidup darinya. Maka sebagai manusia, jika kita mau bersungguh-sungguh, tentu kita juga bisa saling memperlakukan dengan sikap cukup, bersyukur, saling memahami, dan penuh toleransi.

Hikmah Cerita 

Alam semesta sungguh luar biasa dalam menciptakan kehidupan. Dunia ini masih menyimpan begitu banyak misteri yang menunggu manusia untuk ditemukan jawabannya. Penulis sendiri tidak dapat memastikan apakah ayam benar-benar memiliki kebijaksanaan setinggi itu. Namun, jika para pembaca yang terkasih kebetulan memelihara ayam di rumah—mengapa tidak mencoba melakukan percobaan kecil? Siapa tahu hasilnya bisa dibagikan dan menjadi bahan refleksi bersama.

Terlepas dari seberapa cerdas ayam itu, pesan utama dari kisah ini sesungguhnya ingin menyampaikan bahwa setiap makhluk hidup—seperti halnya manusia—memiliki kebiasaan, sifat, dan cara pandang yang berbeda-beda.

Jika dalam kehidupan kita bisa lebih banyak empati dan lebih sedikit perhitungan, tidak terlalu memaksakan pandangan dan kebiasaan pribadi, maka masyarakat akan menjadi tempat yang jauh lebih damai dan tenteram.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine