EtIndonesia. Seorang tokoh terkenal dari luar negeri pernah mengatakan sebuah kalimat yang maknanya kira-kira seperti ini: faktor yang menentukan kesuksesan seseorang, pengetahuan profesional hanya menyumbang sekitar 15%, sedangkan 85% sisanya berasal dari kualitas diri, hubungan antar manusia, cara bersikap, serta kemampuan beradaptasi dan menghadapi situasi.
Ucapan ini sangat menyentuh hati saya.
Mari kita simak sebuah kisah berikut ini.
Seorang wali kelas tingkat akhir membawa lebih dari lima puluh muridnya mengunjungi sebuah perusahaan besar. Karena direktur utama perusahaan tersebut adalah teman sekelas sang wali, maka sang direktur menyambut mereka secara langsung. Para sekretaris dan staf pun melayani rombongan itu dengan sangat ramah.
Para siswa dipersilakan duduk di sebuah ruang rapat besar ber-AC. Staf perusahaan menuangkan segelas air untuk setiap siswa. Para siswa duduk dengan santai tanpa banyak basa-basi. Bahkan ada seorang siswi yang bertanya kepada staf apakah tersedia teh hitam, dengan alasan dia hanya biasa minum teh hitam.
Di antara semua siswa itu, hanya satu orang yang berdiri, menerima minuman dengan kedua tangan, lalu dengan sopan berkata: “Terima kasih, Anda sudah repot-repot.”
Tak lama kemudian, direktur utama datang tergesa-gesa setelah menyelesaikan urusannya. Dia berulang kali meminta maaf: “Maaf, maaf, membuat kalian menunggu lama.”
Namun tidak ada satu pun siswa yang menanggapi. Hanya sang guru dan siswa yang tadi itulah yang memulai tepuk tangan, itupun dengan suara yang jarang dan lemah.
Direktur kemudian mulai berbicara. Dia memperhatikan bahwa para siswa duduk rapi, tetapi tak seorang pun mencatat. Maka dia berbalik kepada sekretaris dan meminta agar disiapkan buku catatan serta pulpen perusahaan.
Dengan senyum di wajahnya, direktur itu menyerahkan buku dan pulpen kepada setiap siswa dengan kedua tangan. Namun, semakin lama senyumnya pun menghilang.
Sebab para siswa hanya menjulurkan satu tangan untuk menerima, bahkan ada yang sama sekali tidak berdiri. Tidak satu pun dari mereka mengucapkan: “Terima kasih.”
Sekali lagi, hanya siswa yang sama itu yang berdiri dengan sikap hormat, menerima buku dan pulpen dengan kedua tangan, serta mengucapkan: “Terima kasih, terima kasih.”
Ketika tiba masa penempatan kerja setelah kelulusan, siswa tersebut menerima surat penerimaan dari perusahaan besar itu.
Siswa-siswa lain merasa tidak terima dan protes: “ Nilainya tidak lebih baik dari saya. Mengapa dia yang diterima, bukan saya?”
Sang guru menghela napas panjang lalu berkata: “Saya membawa kalian berkunjung sebenarnya ingin memberi kalian sebuah kesempatan. Tapi kalian semua telah menyia-nyiakannya. Perusahaan itu secara khusus meminta siswa ini. Apa lagi yang bisa saya lakukan?”
Hikmah Cerita
Kesuksesan adalah sesuatu yang dikejar oleh setiap orang. Namun, banyak yang hanya fokus pada syarat-syarat lahiriah, sementara melupakan daya saing paling mendasar dari seorang manusia—sikap dalam memperlakukan orang lain dan cara bersikap dalam kehidupan.
Seiring kemajuan zaman dan kemudahan teknologi, interaksi langsung antar manusia semakin berkurang. Akibatnya, semakin banyak orang yang tidak memahami tata krama dan etika pergaulan. Ada pula yang dengan cepat melihat celah ini lalu membuka berbagai pelatihan hubungan antar manusia, mengajarkan keterampilan bersosialisasi kepada mereka yang kurang mampu berkomunikasi dengan baik.
Ironisnya, sesuatu yang seharusnya merupakan etika paling dasar kini justru berubah menjadi “keahlian profesional”. Ini adalah sebuah sindiran bagi masyarakat modern, sekaligus sebuah peringatan.
Bahwa selain memiliki kemampuan teknis dan pengetahuan profesional, manusia juga perlu memiliki kerendahan hati dan sikap yang baik.(jhn/yn)


