Yesus dan Sabun

EtIndonesia. Ada dua orang yang sedang berjalan bersama. Yang satu adalah seorang penginjil, dan yang satunya lagi adalah seorang pembuat sabun.

Sepanjang perjalanan, sang pembuat sabun berbicara tanpa henti, sementara sang penginjil hanya mendengarkan dengan tenang.

Pembuat sabun itu berkata:  “Coba katakan padaku, apa gunanya gereja? Apa gunanya khotbahmu? Apa gunanya Alkitab? Hidup manusia penuh masalah—ada yang mencuri, saling membunuh, saling membenci. Gereja sudah ada lebih dari dua ribu tahun, khotbah dan pembacaan Alkitab juga sudah berlangsung selama itu, tetapi dunia tidak menjadi lebih baik. Manusia tetap sama saja—tetap berebut, mencuri, membunuh, dan saling membenci.”

Penginjil itu tidak membantah apa pun. Dia hanya mendengarkan.

Tak lama kemudian, mereka melewati sebuah tempat di mana banyak anak kecil sedang bermain di lumpur.

Penginjil itu lalu berkata kepada pembuat sabun: “Kamu bilang sabun bisa membersihkan manusia? Aku tidak percaya. Lihat anak-anak itu, betapa kotor mereka. Apa gunanya sabun? Sabun sudah ada ribuan tahun. Bahkan ketika sabun ada di mana-mana, anak-anak ini tetap saja kotor oleh lumpur.”

Pembuat sabun itu menjawab : “Pendeta, sabun tidak akan berguna kecuali orang mau mengambil dan menggunakannya.”

“Benar sekali!” kata penginjil itu. “Sabun dengan sendirinya tidak bisa membersihkan siapa pun, kecuali orang mau memakainya. Prinsip ini sama dengan ajaran Yesus. Ajaran Yesus tidak bisa mengubah manusia, kecuali manusia mau mempraktikkan apa yang Dia ajarkan.”

Sikap yang berubah akan mengubah kebiasaan. Kebiasaan yang berubah akan mengubah karakter. Karakter yang berubah akan mengubah jalan hidup.

Renungan

Kisah singkat ini menyampaikan satu pesan yang sederhana namun mendalam: jika ingin ditolong, seseorang harus terlebih dahulu mau menolong dirinya sendiri. Tanpa kemauan dari dalam, sekuat apa pun bantuan dari luar, semuanya akan sia-sia.

Seperti sabun yang mampu membersihkan kotoran—jika tidak diambil, tidak digosokkan, dan tidak digunakan, ia tak akan pernah membuat tubuh menjadi bersih. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine