EtIndonesia. Sebuah laci— adalah ujian tentang sejauh mana seseorang menghormati pasangannya.
Dia percaya bahwa hal paling berharga dalam hubungan suami istri adalah saling percaya.
Karena itu, setiap kali sang istri mengambil surat dari kotak pos, dia selalu memisahkan surat masing-masing. Surat miliknya dibaca sendiri, surat suaminya pun dibiarkan dibaca oleh sang suami. Dia tidak pernah bertanya, apalagi mencampuri.
Selama sepuluh tahun pernikahan, mereka hidup dalam suasana saling menghormati dan saling mencintai, menjalani hari-hari yang bahagia.
Namun ada satu hal yang mengganjal di hati sang suami. Dia memperhatikan bahwa istrinya selalu mengunci laci meja rias. Di dalam hatinya, dia merasa hal itu sedikit banyak menunjukkan kurangnya kepercayaan kepadanya.
Dia tidak pernah mengutarakan perasaan itu. Dia takut jika istrinya justru menganggapnya berpikiran sempit dan curiga berlebihan.
Kadang-kadang, dia bercermin pada dirinya sendiri, melihat bayangan-bayangan pikiran yang samar antara nyata dan khayal.
Namun pada akhirnya, dia selalu menasihati dirinya sendiri: kecurigaan adalah sesuatu yang tidak sehat dalam pernikahan.
Meski begitu, dia tetap tidak bisa memahami mengapa istrinya mengunci laci itu.
“Mungkin sejak awal menikah laci itu sudah terkunci?”
“Setidaknya sudah lima tahun…”
“Memangnya rahasia apa yang tidak boleh diketahui?”
Walau dia sadar bahwa membuka laci itu saat istrinya tidak ada di rumah adalah tindakan yang tidak terhormat, dia tetap tak sanggup menahan gejolak batin dan rasa ingin tahunya.
Akhirnya, dia membuka laci itu.
Dan dia tertegun.
Di dalam laci tersebut, penuh dengan surat-surat yang dikembalikan. Surat-surat itu… adalah surat yang dia tulis untuk mantan kekasih pertamanya.
Setiap surat masih tersegel, tak satu pun pernah dibuka.
Dia terdiam lama. Lalu perlahan, dia menutup kembali laci itu.
Sejak hari itu, dia tidak pernah lagi menyinggung soal laci tersebut, dan tidak pernah lagi menulis surat kepada cinta pertamanya.
Selama ini, dia selalu mengira dirinya adalah suami yang sangat menghormati privasi pasangan. Namun justru pada detik ketika dia membuka laci itu, dia baru menyadari betapa kecil dan sepele sikapnya di hadapan sang istri.
Istrinya bukan hanya menghormati privasinya, tetapi juga telah menoleransi kenyataan bahwa selama lima tahun dia terus menulis surat kepada cinta lamanya.
Demi menjaga harga dirinya, sang istri memilih tidak membongkar kebenaran itu. Dia tidak membuang surat-surat yang dikembalikan, agar suaminya tidak merasa dia sedang cemburu atau menaruh prasangka.
Kadang, kita merasa sudah melakukan banyak hal. Padahal, apa yang pasangan kita lakukan secara diam-diam, sering kali jauh melampaui bayangan kita sendiri.
Renungan
Sebuah cerita, dua lapis makna.
Selain pesan utama: “Kadang kamu merasa sudah berbuat banyak, padahal pengorbanan diam-diam dari pihak lain jauh lebih besar dari yang kamu kira,” cerita ini juga memberikan sebuah sudut pandang lain.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang penuh rasa ingin tahu. Semakin sesuatu dilarang atau dibatasi, semakin kuat dorongan untuk mencoba dan menyelidikinya.
Mungkin saja sang istri memahami sifat manusia ini, dan dengan sengaja membiarkan suaminya sendiri menemukan sebuah jawaban— jawaban yang sudah “dirancang” untuk membuatnya merasa bersalah sekaligus tersentuh.
Namun apa pun kebenaran sesungguhnya, cara sang istri telah membuat pasangannya merasa malu tanpa kehilangan harga diri, dan pada saat yang sama, dia juga berhasil menjaga serta memenangkan kebahagiaan yang layak dia miliki.(jhn/yn)


