EtIndonesia. Kota kecil di wilayah Donetsk ini kembali menjadi pusat perhatian setelah klaim terbaru dari berbagai sumber Rusia menyebut wilayah tersebut telah “direbut”. Namun, realitas di lapangan menunjukkan situasi yang jauh lebih kompleks: pertempuran masih berlangsung sengit, dan garis depan terus berubah dari hari ke hari.
Pengepungan Panjang Sejak 2024
Sejak pertengahan 2024, sekitar 150.000 tentara Rusia dilaporkan dikerahkan untuk mengepung Pokrovsk. Kota ini memiliki nilai strategis karena menjadi simpul logistik penting yang menghubungkan sejumlah jalur suplai Ukraina di bagian barat Donetsk.
Selama lebih dari satu setengah tahun pengepungan, kedua pihak mengalami kerugian besar. Sumber militer Ukraina menyebut Rusia telah kehilangan puluhan ribu prajurit serta ribuan kendaraan lapis baja, termasuk tank dan kendaraan tempur infanteri.
Hingga pekan kedua Februari 2026, Rusia disebut menguasai sekitar 70% wilayah kota, terutama di sektor selatan dan timur. Namun, bagian utara dan sejumlah kantong pertahanan di barat masih dipertahankan Ukraina.
Ketahanan Ukraina di Luar Perkiraan
Secara terbuka, banyak analis militer Barat sebelumnya memperkirakan Pokrovsk akan jatuh dalam hitungan bulan. Namun kenyataannya, kota ini bertahan jauh lebih lama dari prediksi.
Ketahanan pasukan Ukraina di tengah kepungan kekuatan yang jauh lebih besar menjadikan Pokrovsk simbol perlawanan yang keras kepala. Sejumlah pengamat menyebutnya sebagai “mesin penggiling daging” — istilah yang menggambarkan pertempuran statis berintensitas tinggi dengan korban terus bertambah tanpa perubahan garis depan yang signifikan.
Laporan Korban Terbaru: 12 Februari 2026
Menurut laporan Korps Ketujuh Ukraina yang dirilis awal pekan ini, dalam kurun 7 hari terakhir hingga 11 Februari 2026, sebanyak 386 tentara Rusia dilaporkan tewas atau terluka di sektor utara kota serta sepanjang jalur menuju Hryshyne. Angka ini meningkat sekitar 25% dibandingkan pekan sebelumnya.
Sementara itu, pada 12 Februari 2026, Kementerian Pertahanan Ukraina mengklaim bahwa korban Rusia dalam satu hari mencapai 770 personel di seluruh sektor pertempuran sekitar Pokrovsk dan wilayah Donetsk lainnya.
Secara kumulatif, Kyiv mengklaim total korban Rusia sejak awal invasi pada Februari 2022 telah melampaui 1,25 juta jiwa (termasuk tewas dan terluka). Angka ini belum dapat diverifikasi secara independen, dan Moskow secara konsisten membantah estimasi tersebut.
Sebagai perbandingan, hanya lima negara di dunia yang memiliki personel militer aktif lebih dari 1,25 juta orang:
- Tiongkok
- India
- Amerika Serikat
- Korea Utara
- Rusia
Sebelum perang dimulai pada 2022, jumlah personel aktif militer Rusia diperkirakan sekitar 1,3 juta. Jika klaim korban Ukraina mendekati kenyataan, maka perang empat tahun ini telah menggerus secara drastis kekuatan aktif awal Rusia.
Serangan Balik Ukraina di Selatan Sungai Vovcha
Memasuki Februari 2026, Ukraina mulai mengerahkan pasukan tambahan di beberapa titik jembatan penyeberangan di selatan Sungai Vovcha. Operasi ini difokuskan pada pembersihan posisi Rusia yang dinilai relatif lemah.
Dengan dukungan artileri berat dan serangan drone taktis, beberapa posisi Rusia berhasil direbut kembali dalam operasi beruntun. Sumber militer Ukraina menyebut langkah ini sebagai upaya mempersempit ruang gerak logistik Rusia di sektor selatan kota.
Namun situasinya berbeda di sektor timur. Di wilayah tersebut, Rusia juga memusatkan kekuatan besar, termasuk unit artileri jarak jauh dan sistem pertahanan udara. Serangan balik Ukraina di sektor ini belum menunjukkan terobosan berarti.
Mobilisasi Rusia dan Faktor Korea Utara
Besarnya skala pertempuran dan tingginya tingkat korban menjadi salah satu alasan Presiden Vladimir Putin terus melakukan mobilisasi tambahan sejak 2022.
Sejumlah laporan intelijen Barat juga menyebut adanya keterlibatan personel dan dukungan logistik dari Korea Utara dalam bentuk amunisi dan kemungkinan tenaga militer tambahan. Moskow maupun Pyongyang belum mengakui secara resmi keterlibatan tempur langsung dalam skala besar, tetapi indikasi kerja sama militer terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Titik Balik atau Perang Berkepanjangan?
Pertempuran di Pokrovsk kini menjadi gambaran jelas bagaimana perang di Ukraina telah berubah menjadi konflik gesekan berkepanjangan. Alih-alih manuver cepat dan pergeseran wilayah dramatis, yang terjadi justru adalah pertempuran posisi dengan korban besar dan kemajuan teritorial yang sangat lambat.
Selama kedua pihak masih mampu mengerahkan cadangan dan menjaga jalur suplai, pertempuran di kota ini tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Pokrovsk mungkin hanya satu kota kecil di peta, tetapi dalam konteks perang yang telah berlangsung hampir empat tahun, kota ini menjelma menjadi simbol kerasnya konflik modern—di mana setiap kilometer dipertahankan dengan harga yang sangat mahal.


