EtIndonesia. Namanya Nick Vujicic. Dia terlahir tanpa tangan dan tanpa kaki. Namun hari ini, kisah hidupnya telah menyentuh jutaan hati di seluruh dunia. Dia selalu mengembalikan segala kemuliaan kepada Tuhan.
Dokter tidak mampu memberikan penjelasan medis apa pun atas “cacat bawaan” yang dia alami sejak lahir. Sejak awal, dapat dibayangkan betapa banyak tantangan dan rintangan yang harus dia hadapi.
Kedua orangtuanya adalah penganut Kristen yang taat, bahkan ayahnya adalah seorang pendeta. Anak sulung mereka lahir tanpa tangan dan kaki—tanpa peringatan apa pun, tanpa waktu untuk bersiap. Para dokter pun hanya bisa terkejut dan hingga kini tak pernah ada penjelasan medis yang pasti.
Saat itu, duka yang menyelimuti seluruh jemaat gereja begitu besar. Banyak orang bertanya, “Jika Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih, mengapa hal seburuk ini terjadi—dan bahkan menimpa keluarga seorang pendeta?”
Pada awalnya, sang ayah mengira Nick tidak akan bertahan lama. Namun setelah pemeriksaan, ternyata dia adalah bayi laki-laki yang sehat—hanya saja beberapa anggota tubuhnya tidak ada. Kekhawatiran dan ketakutan orangtuanya tentang masa depan yang akan dihadapi Nick tentu sangat besar.
Syukurlah, Tuhan memberi mereka kekuatan, hikmat, dan keberanian untuk melewati masa-masa awal kehidupan Nick.
Ketika Nick mencapai usia sekolah, karena keterbatasan fisiknya dia tidak dapat langsung masuk ke sistem pendidikan umum. Namun Tuhan memberi kekuatan kepada ibunya untuk memperjuangkan perubahan hukum. Akhirnya, Nick menjadi salah satu siswa penyandang disabilitas generasi pertama di Australia yang dapat bersekolah di sistem pendidikan umum.
Dia mencintai sekolah dan berusaha menjalani hidup seperti anak-anak lain. Namun pada masa awal itu, dia kerap diperlakukan tidak menyenangkan—ditolak, diejek, dan dirundung—semata-mata karena perbedaan fisik.
Semua itu sangat sulit dia terima. Tetapi dengan dukungan orangtuanya, Nick menemukan sikap hidup dan nilai-nilai yang membantunya mengatasi tantangan tersebut. Dia meyakini bahwa meskipun penampilannya berbeda, dirinya tidak kalah dari siapa pun dalam hal batin dan nilai diri.
Ada masa-masa ketika dia begitu terpuruk hingga tidak ingin bersekolah, berharap bisa menghindari perhatian negatif. Orangtuanya terus mendorongnya agar tidak terfokus pada hal-hal negatif—mulailah berbicara dengan teman sekelas, bangun persahabatan. Tak lama kemudian, teman-temannya menyadari bahwa Nick bukanlah “makhluk aneh”. Sejak saat itu, Tuhan terus memberkatinya dengan sahabat-sahabat baru.
Sebagai pejuang kehidupan, Nick kerap merasa frustrasi dan marah karena tidak dapat mengubah wujud tubuhnya. Di sekolah Minggu dia belajar bahwa Tuhan mengasihi semua orang dan memperhatikan setiap insan. Dia memahami kasih itu, tetapi belum mengerti mengapa—jika Tuhan mengasihinya—Dia menciptakannya seperti ini. Apakah dia telah melakukan kesalahan?
Dia merasa menjadi satu-satunya “anak aneh” di sekolah. Dia bahkan berpikir dirinya adalah beban bagi orang-orang di sekitarnya, dan semakin cepat dia pergi, semakin baik bagi mereka. Dia sempat ingin mengakhiri hidupnya yang penuh rasa sakit. Namun setiap kali teringat orangtua dan keluarganya yang selalu menguatkan, menghibur, dan memberinya kasih, hatinya dipenuhi rasa syukur.
Melalui pengalaman perundungan, rasa iba pada diri sendiri, dan kesepian, Tuhan menanamkan dalam dirinya sebuah hasrat besar: membagikan kisah dan pengalamannya untuk menolong orang lain menaklukkan tantangan hidup—dan mengubah semuanya menjadi berkat. Dia ingin membangkitkan dan menginspirasi orang agar hidup sesuai potensi terbaiknya, tanpa membiarkan apa pun menghalangi impian.
Pelajaran pertama yang dia pelajari adalah: jangan pernah menganggap segala sesuatu sebagai hal yang sudah sewajarnya.
Pada usia 15 tahun, ketika membaca Injil Yohanes pasal 9, dia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Kristus. Dikisahkan seseorang yang terlahir buta dibawa kepada Yesus dan orang-orang bertanya, siapa yang bersalah. Yesus menjawab bahwa kebutaan itu ada agar pekerjaan Tuhan dinyatakan di dalam dirinya.
Nick percaya Tuhan akan menyembuhkannya dan menjadikannya saksi kuasa-Nya. Seiring waktu, Tuhan memberinya hikmat untuk memahami: doa yang sejalan dengan kehendak Tuhan akan digenapi pada waktu yang tepat; dan jika tidak digenapi, berarti Tuhan memiliki rencana yang lebih indah.
Kini dia melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui dirinya apa adanya—dipakai dengan cara yang tak tergantikan oleh siapa pun. Pada usia 23 tahun, dia menyelesaikan studi perencanaan keuangan dan akuntansi, meraih gelar Sarjana Bisnis. Dia juga menjadi pembicara pengembangan potensi, berbagi kisah dan kesaksiannya di berbagai kesempatan.
Dia mengembangkan tema-tema motivasi yang relevan dengan pergumulan remaja masa kini dan menjadi pembicara bagi berbagai organisasi. Dia bersemangat menjangkau generasi muda, memiliki banyak mimpi dan tujuan: menjadi saksi terbaik kasih dan pengharapan Tuhan, serta pembicara internasional yang menginspirasi—dipakai Tuhan di kalangan Kristen maupun non-Kristen.
Sebelum usia 25 tahun, dia menargetkan kemandirian finansial melalui investasi properti, memodifikasi mobil agar dapat dikendarai dengan nyaman, tampil di The Oprah Winfrey Show untuk membagikan kisah hidupnya, dan menulis beberapa buku laris. Salah satu mimpinya adalah menerbitkan buku berjudul “Tanpa Tangan, Tanpa Kaki, Tanpa Keluhan!”
Dia percaya: jika kamu memiliki kerinduan dan gairah untuk melakukan sesuatu yang selaras dengan kehendak Tuhan, maka hal itu akan terwujud pada waktu terbaik.
Tuhan memberkati! — Nick Vujicic
Renungan
Hidup adalah milik kita sendiri. Tak seorang pun bisa bertanggung jawab atas hidup kita selain diri kita sendiri. Orang tua memberi kita kehidupan, tetapi cahaya kehidupan itu harus kita asah sendiri.
Apa pun kesulitan yang kita hadapi, keluarga dan sahabat hanya dapat memberi dukungan moral dan sebagian bantuan nyata. Selebihnya, kita sendirilah yang harus berjuang dan merebut kesempatan agar berhasil.
Belajarlah dari pejuang kehidupan, Nick. Jangan terus mengeluh hanya karena segelintir ketidakberuntungan. Jangan menutup hati dan bersembunyi dalam rasa iba pada diri sendiri. Jangan habiskan hari dengan mengutuk ketidakadilan hidup—semua itu tak akan menolong masa depanmu.
Ingat satu kalimat: “Keluhan adalah kanker jiwa.” Dia hanya melahirkan keputusasaan. Hanya mereka yang optimis dan proaktif yang mampu membuka jalan hidupnya sendiri.
Tuhan menciptakan setiap manusia dengan tujuan. Setiap orang memiliki nilai. Jika orang lain meremehkan kita, itu menunjukkan ketidakdewasaan batin mereka. Namun jika kita sendiri meremehkan diri sendiri, maka hidup ini benar-benar terlewatkan sia-sia. (jhn/yn)


