Buruh di Tiongkok Sulit Menagih Upah, Pekerja Migran Sichuan Ancam Bunuh Orang Jika Gaji Tak Dibayar

Di tengah perlambatan ekonomi di Tiongkok daratan, gelombang aksi penagihan upah pada akhir tahun 2026 dilaporkan semakin memprihatinkan. Beredar video yang menunjukkan pekerja migran asal Sichuan mendatangi sebuah proyek konstruksi di Guizhou untuk menuntut pembayaran upah. Salah satu pekerja bahkan mengancam akan membunuh jika gaji tidak segera dilunasi. Sebelumnya juga dilaporkan ada pekerja migran yang meninggal dunia karena bunuh diri saat menagih upah.

EtIndonesia. Pada 12 Februari, sebuah video beredar di internet memperlihatkan beberapa pekerja migran mendatangi lokasi proyek untuk menagih gaji. Salah satu dari mereka mengancam manajemen proyek bahwa jika masalah tunggakan gaji tidak diselesaikan keesokan harinya, ia akan membunuh mereka. Jika tidak berhasil, ia mengatakan akan melompat dari gedung dan bunuh diri. Ia juga menyatakan tidak takut jika polisi datang untuk menangkapnya.

Pekerja tersebut berteriak bahwa sebelum datang ke lokasi, ia sudah berpamitan kepada keluarganya dan “mengatur urusan terakhirnya” jika sampai harus bunuh diri.

Ia juga menuduh pihak proyek secara konsisten menahan “uang hasil jerih payah” para pekerja dan menyebut praktik tersebut telah “menghancurkan beberapa keluarga”.

Dalam video itu, pihak lain menanyakan berapa jumlah upah yang belum dibayarkan. Pekerja tersebut menjawab bahwa ia sendiri belum menerima lebih dari 30.000 yuan (RMB), sementara total tunggakan untuk empat orang mencapai hampir 120.000 yuan.

Menurut warganet, video tersebut direkam saat para pekerja migran asal Sichuan datang ke Guizhou untuk menagih upah mereka.

Sebelumnya, seorang pengacara di Shanxi juga mengunggah video yang mengungkap kasus seorang pekerja migran yang gagal menagih upah sebesar lebih dari 1.000 yuan. Karena putus asa, ia diduga membunuh satu keluarga majikannya.

Di media sosial, sebagian warganet mengecam para pengusaha yang menahan upah buruh. Namun ada pula yang bersimpati kepada pemilik usaha, dengan alasan bahwa kondisi ekonomi sedang sulit dan mungkin saja mereka sendiri belum menerima pembayaran proyek dari pihak lain.

Warganet di luar negeri menyalahkan sistem pemerintahan yang dinilai represif sebagai penyebab tragedi-tragedi tersebut. Mereka menilai bahwa demi menjaga “stabilitas sosial”, otoritas bahkan menciptakan istilah baru seperti “penagihan upah secara jahat” untuk menekan pekerja yang menuntut haknya. 

Penindasan terhadap buruh penagih upah dianggap memberi ruang bagi sebagian pengusaha untuk terus menekan pekerja, sehingga mendorong sebagian buruh nekat mengambil tindakan ekstrem.

Video lain juga menunjukkan bahwa pada 11 Februari di Yunnan, karena upah belum dibayarkan oleh China Construction Seventh Engineering Division, seorang pekerja migran meminum insektisida (Dichlorvos) di kantor perusahaan dan meninggal dunia.

Selain kasus pembunuhan dan bunuh diri, banyak pekerja yang naik ke atap gedung secara berkelompok dan mengancam akan melompat demi menekan pihak perusahaan agar membayar gaji. Ada pula pekerja yang dalam keputusasaan menggantung diri di lokasi proyek.

Sebuah video lainnya menunjukkan bahwa di Kota Quanzhou, Provinsi Fujian, seorang kontraktor yang belum menerima pembayaran proyek dari perusahaan milik negara setempat terdesak oleh para pekerjanya yang menuntut gaji. Karena putus asa dan tidak menemukan jalan keluar, ia akhirnya membakar dirinya sendiri di lokasi proyek. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine